alexametrics
24.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Aji Prasetyo Getol Lontarkan Kritik Sosial lewat Media Komik

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Menjadi seorang pelukis merupakan cita-cita Aji Prasetyo sejak kecil. Namun, keinginan itu sempat tak direstui orang tua. Sebab, seniman dinilai bukan profesi yang menjanjikan. Sang ayah berharap Aji menjadi PNS.

Namun, Aji tak bergeming. Semangatnya menjadi seniman semakin membara sejak meraih banyak prestasi melukis ajang tingkat pelajar. Pun, dia melanjutkan kuliah di IKIP Malang lewat jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Namun, karena faktor ekonomi, Aji memutuskan berhenti kuliah.

Aji lantas coba melamar kerja menjadi ilustrator, namun ditolak. Akhirnya dia terjun ke dunia musik dan mengisi waktu luangnya dengan menggambar karikatur, kemudian dipajang di media sosial. Ternyata banyak yang suka. Sejak itu namanya mulai dikenal publik.

Belakangan Aji merambah komik. Pada 2008 dia mulai menunjukkan kekritisannya seputar fenomena sosial di masyarakat. Termasuk mengkritik ormas garis keras. ”Kritik sosial paling sering saya pakai di komik dan ternyata banyak yang suka,” ujarnya, Sabtu (8/1).

Baca Juga :  Mereka yang Bersinar di Madiun Street Activity (3)

Seiring berjalannya waktu, karya-karya Aji semakin populer. Bahkan, beberapa di antaranya terbang ke luar negeri seperti Jerman. Ada pula yang dipajang di Museum Budaya Komik Asia di Malaysia. Dia juga pernah diundang menghadiri sebuah acara perkomikan di Singapura.

Satu komik yang menuai banyak apresiasi adalah Harimau dari Madiun. Berkisah tentang Sentot Prawiradirja, panglima perang Diponegoro. Meski hanya setebal 34 halaman, komik karyanya itu disusun berdasar penggalian data sejarah yang cukup menyita waktu. ”Saya kumpulkan berbagai referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, nggak asal bikin,” tegas pria 45 tahun penerima Kosasih Award 2015 kategori Komik Cerita Pendek Terbaik itu.

Meski kerap mengangkat isu yang terbilang berat, Aji sengaja menuangkannya dalam bentuk komik dengan gaya ringan dan menghibur. ‘’Saat ini saya sedang bikin komik tentang permasalahan masa kini, tentang kecenderungan orang miskin anaknya banyak,” sebutnya. (irs/isd/c1/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Menjadi seorang pelukis merupakan cita-cita Aji Prasetyo sejak kecil. Namun, keinginan itu sempat tak direstui orang tua. Sebab, seniman dinilai bukan profesi yang menjanjikan. Sang ayah berharap Aji menjadi PNS.

Namun, Aji tak bergeming. Semangatnya menjadi seniman semakin membara sejak meraih banyak prestasi melukis ajang tingkat pelajar. Pun, dia melanjutkan kuliah di IKIP Malang lewat jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Namun, karena faktor ekonomi, Aji memutuskan berhenti kuliah.

Aji lantas coba melamar kerja menjadi ilustrator, namun ditolak. Akhirnya dia terjun ke dunia musik dan mengisi waktu luangnya dengan menggambar karikatur, kemudian dipajang di media sosial. Ternyata banyak yang suka. Sejak itu namanya mulai dikenal publik.

Belakangan Aji merambah komik. Pada 2008 dia mulai menunjukkan kekritisannya seputar fenomena sosial di masyarakat. Termasuk mengkritik ormas garis keras. ”Kritik sosial paling sering saya pakai di komik dan ternyata banyak yang suka,” ujarnya, Sabtu (8/1).

Baca Juga :  Kantong Parkir Masih Jadi PR di Sunday Market Kota Madiun

Seiring berjalannya waktu, karya-karya Aji semakin populer. Bahkan, beberapa di antaranya terbang ke luar negeri seperti Jerman. Ada pula yang dipajang di Museum Budaya Komik Asia di Malaysia. Dia juga pernah diundang menghadiri sebuah acara perkomikan di Singapura.

Satu komik yang menuai banyak apresiasi adalah Harimau dari Madiun. Berkisah tentang Sentot Prawiradirja, panglima perang Diponegoro. Meski hanya setebal 34 halaman, komik karyanya itu disusun berdasar penggalian data sejarah yang cukup menyita waktu. ”Saya kumpulkan berbagai referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, nggak asal bikin,” tegas pria 45 tahun penerima Kosasih Award 2015 kategori Komik Cerita Pendek Terbaik itu.

Meski kerap mengangkat isu yang terbilang berat, Aji sengaja menuangkannya dalam bentuk komik dengan gaya ringan dan menghibur. ‘’Saat ini saya sedang bikin komik tentang permasalahan masa kini, tentang kecenderungan orang miskin anaknya banyak,” sebutnya. (irs/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/