alexametrics
29.9 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

Dedikasi Ustad Hasan Soleh Berbagi Ilmu

MADIUN – Seolah tak bosan menularkan ilmu. Hasan Soleh mengajar dobel. Pagi sampai siang sebagai guru di SMAN 1 Geger. Waktu selanjutnya dipakai mengajar di Yayasan Hasan Husein di tempatnya tinggal di Desa Banaran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.

Jam dinding sudah menunjuk pukul 05.00. Sore itu, sudah dekat sekali dengan waktu berbuka puasa.  Banyak sekali yang berkumpul di masjid Yayasan Hasan Husein. Mereka berbondong – bondong untuk datang. Bukan untuk berbuka saja. Sebelum berbuka mereka wajib mendengarkan ceramah dari mubaligh yang kebetulan saat itu berasal dari luar Kabupaten Madiun.

Semua jamaah tampak antusias mendengarkan ceramah. Hingga, saat azan Maghrib berkumandang, mereka baru berbuka bersama. Sekitar 150 orang yang hampir tiap hari berbuka di masjid yayasan itu. Meski bukan dana dari yayasan, menu berbuka yang berasal dari kepedulian masyarakat sekitar itu cukup untuk memberikan kelegaan lantaran sudah bisa berbuka setelah menjalani ibadah puasa sehari penuh.

Hasan Sholeh tampak tersenyum. Dari balik bangku peserta dia diam-diam mengamati. Kegiatan pada bulan Ramadan di tempatnya itu benar – benar disambut dengan antusias oleh warga setempat. Dia senang bisa mengajak orang-orang untuk berbuka bersama pun, juga melakukan pengajian. Pria 49 tahun itu ingin kalau kegiatan ceramah selama kurang lebih 30 menit itu benar-benar memberikan tambahan ilmu agama kepada seluruh masyarakat. ’’Kadang saya juga mengisi tausiyah juga untuk pengajian rutin selama Ramadan ini,’’ ungkapnya.

Menurutnya itu pun juga sudah termasuk kegiatan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk bersedekah. Lantaran  dana yang dipakai untuk membeli takjil dan makanan untuk buka puasa itu adalah sumbangan dari masyarakat. Sehingga, pahala masyarakat di bulan puasa pun juga tak sia-sia. ’’Saya berikan kesempatan untuk seluruh masyarakat untuk bisa bersedekah,’’ katanya.

Baca Juga :  Kualitas Udara Kota Pendekar Diklaim Masih di Ambang Batas Wajar

Selain bersedekah, kata dia, kegiatan pengajian itu rupanya tak hanya saat menjelang berbuka puasa. Ada kegiatan pengajian lain yang diselenggarakan saat malam Ahad Wage atau setiap 35 hari sekali. Pun, dengan mubaligh yang berganti-ganti. Mubaligh tersebut diundang dari berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa. ’’Itu pengajian akbar, jadi pesertanya tidak terbatas,’’ ungkapnya.

Meski banyak kegiatan-kegiatan, dia yang merupakan guru di SMAN 1 Geger merasa tak terganggu. Setelah kegiatan belajar-mengajar di sekolah rampung, dia lantas kembali ke rumah. Pun, masih mengisi tausiyah ke beberapa jamaah yang ada di yayasan yang dinaunginya sejak tahun 90-an itu. ’’Kan ada tiga jadwal, nah di situ saya mengisinya. Dari siang selesai malam,’’ ungkapnya.

Saat ini dia masih ingin mewujudkan niatnya untuk membangun gedung Taman Pendidikan Alquran (TPA) atau Madrasah Diniyah. Setidaknya ada 6 kelas yang akan dibangun. Hingga kini sudah berjalan sekitar setengah tahun. Dia masih mengharap adanya bantuan dan sumbangan dari masyarakat untuk membantu pembangunan gedung tersebut. ’’Kami tidak tahu bisa selesai kapan, tergantung dari penggalangan dana dan sumbangan masyarakat,’’ katanya.

Sholeh memang ingin kalau dia ingin murid-muridnya bisa belajar di tempat yang layak. Bukan hanya di masjid tapi di kelas. Lantaran, waktu kegiatan untuk tausiyah dan pelajaran yang ada di yayasan juga tergolong lama yakni dari siang sampai malam hari. Selain itu, kalau ada kelas, siswa juga bisa berkonsentrasi dan menyerap ilmu dengan baik. ’’Harapan kami seperti itu, dan semoga ada donatur yang bisa membantu pembangunan kali ini,’’ harapnya. *****(ota)

MADIUN – Seolah tak bosan menularkan ilmu. Hasan Soleh mengajar dobel. Pagi sampai siang sebagai guru di SMAN 1 Geger. Waktu selanjutnya dipakai mengajar di Yayasan Hasan Husein di tempatnya tinggal di Desa Banaran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.

Jam dinding sudah menunjuk pukul 05.00. Sore itu, sudah dekat sekali dengan waktu berbuka puasa.  Banyak sekali yang berkumpul di masjid Yayasan Hasan Husein. Mereka berbondong – bondong untuk datang. Bukan untuk berbuka saja. Sebelum berbuka mereka wajib mendengarkan ceramah dari mubaligh yang kebetulan saat itu berasal dari luar Kabupaten Madiun.

Semua jamaah tampak antusias mendengarkan ceramah. Hingga, saat azan Maghrib berkumandang, mereka baru berbuka bersama. Sekitar 150 orang yang hampir tiap hari berbuka di masjid yayasan itu. Meski bukan dana dari yayasan, menu berbuka yang berasal dari kepedulian masyarakat sekitar itu cukup untuk memberikan kelegaan lantaran sudah bisa berbuka setelah menjalani ibadah puasa sehari penuh.

Hasan Sholeh tampak tersenyum. Dari balik bangku peserta dia diam-diam mengamati. Kegiatan pada bulan Ramadan di tempatnya itu benar – benar disambut dengan antusias oleh warga setempat. Dia senang bisa mengajak orang-orang untuk berbuka bersama pun, juga melakukan pengajian. Pria 49 tahun itu ingin kalau kegiatan ceramah selama kurang lebih 30 menit itu benar-benar memberikan tambahan ilmu agama kepada seluruh masyarakat. ’’Kadang saya juga mengisi tausiyah juga untuk pengajian rutin selama Ramadan ini,’’ ungkapnya.

Menurutnya itu pun juga sudah termasuk kegiatan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk bersedekah. Lantaran  dana yang dipakai untuk membeli takjil dan makanan untuk buka puasa itu adalah sumbangan dari masyarakat. Sehingga, pahala masyarakat di bulan puasa pun juga tak sia-sia. ’’Saya berikan kesempatan untuk seluruh masyarakat untuk bisa bersedekah,’’ katanya.

Baca Juga :  BRI Bangun Ruang Kelas TK Bhayangkari Polres Magetan

Selain bersedekah, kata dia, kegiatan pengajian itu rupanya tak hanya saat menjelang berbuka puasa. Ada kegiatan pengajian lain yang diselenggarakan saat malam Ahad Wage atau setiap 35 hari sekali. Pun, dengan mubaligh yang berganti-ganti. Mubaligh tersebut diundang dari berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa. ’’Itu pengajian akbar, jadi pesertanya tidak terbatas,’’ ungkapnya.

Meski banyak kegiatan-kegiatan, dia yang merupakan guru di SMAN 1 Geger merasa tak terganggu. Setelah kegiatan belajar-mengajar di sekolah rampung, dia lantas kembali ke rumah. Pun, masih mengisi tausiyah ke beberapa jamaah yang ada di yayasan yang dinaunginya sejak tahun 90-an itu. ’’Kan ada tiga jadwal, nah di situ saya mengisinya. Dari siang selesai malam,’’ ungkapnya.

Saat ini dia masih ingin mewujudkan niatnya untuk membangun gedung Taman Pendidikan Alquran (TPA) atau Madrasah Diniyah. Setidaknya ada 6 kelas yang akan dibangun. Hingga kini sudah berjalan sekitar setengah tahun. Dia masih mengharap adanya bantuan dan sumbangan dari masyarakat untuk membantu pembangunan gedung tersebut. ’’Kami tidak tahu bisa selesai kapan, tergantung dari penggalangan dana dan sumbangan masyarakat,’’ katanya.

Sholeh memang ingin kalau dia ingin murid-muridnya bisa belajar di tempat yang layak. Bukan hanya di masjid tapi di kelas. Lantaran, waktu kegiatan untuk tausiyah dan pelajaran yang ada di yayasan juga tergolong lama yakni dari siang sampai malam hari. Selain itu, kalau ada kelas, siswa juga bisa berkonsentrasi dan menyerap ilmu dengan baik. ’’Harapan kami seperti itu, dan semoga ada donatur yang bisa membantu pembangunan kali ini,’’ harapnya. *****(ota)

Most Read

Artikel Terbaru

/