alexametrics
24.2 C
Madiun
Friday, May 27, 2022

Menahun Ngawi Langganan Banjir

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Bencana hidrometeorologi 2020 mengancam hampir seluruh wilayah Jawa Timur. Tak terkecuali Kabupaten Ngawi. Sebagai antisipasi, 900 personel tim gabungan disiagakan. Apel bersama gelar pasukan dan perlengkapan bencana digelar di taman candi Kamis (9/1).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi Prila Yuda Putra menyebut, tim gabungan ini tidak hanya berasal dari BPBD dan para relawan. Namun juga TNI, Polri, PMI, tagana, dan linmas. Apel yang dimulai pukul 08.00 itu juga diwarnai simulasi penyelamatan korban banjir. ‘’Tujuannya untuk mengecek kesiapsiagaan pasukan,’’ kata Yuda.

Menurut dia, potensi bencana hidrometeorologi di Ngawi cukup tinggi. Terutama banjir yang terjadi setiap musim penghujan. Selain itu, sejumlah wilayah Kecamatan Ngrambe dan Sine berpotensi terjadi tanah longsor. ‘’Untuk banjir potensi paling tinggi di Kecamatan Kwadungan, Padas, Pangkur, dan Geneng,’’ sebutnya.

Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono mengatakan, bencana alam merupakan masalah yang harus dihadapi bersama. Melatih kemandirian masyarakat tentang bencana menjadi hal yang penting. ‘’Masyarakat perlu diedukasi tetang tata cara menghadapi bencana. Itu telah dilakukan BPBD,’’ ujarnya.

Baca Juga :  PTM SMA-SMK di Madiun Dimulai Juli

Kanang menambahkan, Ngawi memang dilewati dua sungai besar. Hampir setiap tahun terjadi banjir. Jadi, penanggulangan bencana yang wajib dilakukan adalah meminimalkan kerugian. ‘’Mudah-mudahan cuaca tahun ini lebih bersahabat,’’ harapnya.

Sementara itu, guyuran hujan siang hingga sore kemarin menyebabkan sejumlah wilayah Ngawi tergenang. Antara lain di Desa Wonokerto, Kedunggalar. Rumah Sutopo, warga setempat, terendam air setinggi 80 sentimeter. Penyebabnya, Sungai Pandan di desa tersebut meluap. ‘’Sekitar pukul 07.00 air sudah surut,’’ kata Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Alfian Wihaji Sudono.

Alfian menyebut, letak rumah lebih rendah dan berada di pinggir sungai. Pun diperparah sungai yang kecil. Sehingga tidak sanggup menampung air ketika hujan lebat. ‘’Tapi air cepat surut ketika hujan sudah mulai reda,’’ pungkasnya. (mg1/c1/sat)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Bencana hidrometeorologi 2020 mengancam hampir seluruh wilayah Jawa Timur. Tak terkecuali Kabupaten Ngawi. Sebagai antisipasi, 900 personel tim gabungan disiagakan. Apel bersama gelar pasukan dan perlengkapan bencana digelar di taman candi Kamis (9/1).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi Prila Yuda Putra menyebut, tim gabungan ini tidak hanya berasal dari BPBD dan para relawan. Namun juga TNI, Polri, PMI, tagana, dan linmas. Apel yang dimulai pukul 08.00 itu juga diwarnai simulasi penyelamatan korban banjir. ‘’Tujuannya untuk mengecek kesiapsiagaan pasukan,’’ kata Yuda.

Menurut dia, potensi bencana hidrometeorologi di Ngawi cukup tinggi. Terutama banjir yang terjadi setiap musim penghujan. Selain itu, sejumlah wilayah Kecamatan Ngrambe dan Sine berpotensi terjadi tanah longsor. ‘’Untuk banjir potensi paling tinggi di Kecamatan Kwadungan, Padas, Pangkur, dan Geneng,’’ sebutnya.

Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono mengatakan, bencana alam merupakan masalah yang harus dihadapi bersama. Melatih kemandirian masyarakat tentang bencana menjadi hal yang penting. ‘’Masyarakat perlu diedukasi tetang tata cara menghadapi bencana. Itu telah dilakukan BPBD,’’ ujarnya.

Baca Juga :  3 Hari Tambah 20 Pasien Baru, Kasus Positif Lewati 400

Kanang menambahkan, Ngawi memang dilewati dua sungai besar. Hampir setiap tahun terjadi banjir. Jadi, penanggulangan bencana yang wajib dilakukan adalah meminimalkan kerugian. ‘’Mudah-mudahan cuaca tahun ini lebih bersahabat,’’ harapnya.

Sementara itu, guyuran hujan siang hingga sore kemarin menyebabkan sejumlah wilayah Ngawi tergenang. Antara lain di Desa Wonokerto, Kedunggalar. Rumah Sutopo, warga setempat, terendam air setinggi 80 sentimeter. Penyebabnya, Sungai Pandan di desa tersebut meluap. ‘’Sekitar pukul 07.00 air sudah surut,’’ kata Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Alfian Wihaji Sudono.

Alfian menyebut, letak rumah lebih rendah dan berada di pinggir sungai. Pun diperparah sungai yang kecil. Sehingga tidak sanggup menampung air ketika hujan lebat. ‘’Tapi air cepat surut ketika hujan sudah mulai reda,’’ pungkasnya. (mg1/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/