alexametrics
24.3 C
Madiun
Friday, May 13, 2022

Pemkot Madiun Berlakukan Portalisasi Parkir Pasar

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya mencegah kebocoran retribusi parkir, khususnya di pasar tradisional, benar-benar direalisasikan Pemkot Madiun. Dimulai dari Pasar Sleko. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Madiun menerapkan parkir one gate system (OGS) di pasar tersebut. Saat ini masih tahap uji coba, pun sebagai pilot project.

Kepala Disdag Kota Madiun Ansar Rasidi mengatakan, penerapan OGS sebagai langkah awal mewujudkan inovasi dalam pengelolaan pasar tradisional. Pasar Sleko menjadi percontohan dari total 18 pasar di kota ini. Rencananya, seluruh pasar tradisional bakal menerapkan sistem serupa. ‘’Kami terapkan di Pasar Sleko dulu. Karena pasar ini akan menjadi rujukan kami dalam penataan pasar tradisonal,’’ katanya, Jumat (10/12).

Ansar menyebut, penerapan OGS diujicobakan hingga akhir Januari 2022. Dalam uji coba ini pihaknya coba menghitung retribusi parkir yang disetor ke pendapatan asli daerah (PAD). Penghitungan itu sebagai pembanding ketika OGS diterapkan per 1 Februari 2022. ‘’Ini jeda bagi kami menghitung PAD. Setelah dikelola menggunakan one gate system, nanti dapat dibandingkan. Selama uji coba Januari, gratis,’’ ujarnya.

Ada tiga pintu masuk area Pasar Sleko. Semua dilengkapi manless parking system (MPS). Pintu sisi barat atau gerbang utama dan sisi selatan difungsikan sebagai pintu masuk. Di kedua pintu itu dipasang mesin MPS satu paket dengan barrier gate atau portal. Pun, dilengkapi closed-circuit television (CCTV). Pintu sisi utara dijadikan pintu keluar yang juga dilengkapi pos, portal, CCTV, dan operator. ‘’Sudah kami pasang portal, lengkap dengan mesinnya,’’ ungkapnya.

Ansar menambahkan, cara kerja sistem parkir berbasis teknologi itu tidak terlalu ribet. Pengunjung maupun pedagang cukup menekan tombol di mesin MPS di dua pintu masuk. Secara otomatis barrier gate akan terbuka, dan mesin mengeluarkan print out tanda bukti sebagai pengganti kartu parkir. ‘’Lebih efisien dengan sistem parkir seperti ini,’’ klaimnya.

Baca Juga :  Takut Ambrol, Poskamling Roboh ke Sungai

Tanda bukti itu dilengkapi tanda identitas kendaraan hasil tangkapan CCTV. Tanda tersebut sebagai penghitungan algoritma. Sehingga, tidak mungkin akan sama antara satu tanda bukti dengan lainnya. Hasil tangkapan layar CCTV juga terkoneksi dengan server di pintu keluar. Tanda bukti dicocokkan petugas ketika kendaraan hendak keluar area pasar. ‘’Kami pastikan lebih aman dengan sistem ini,’’ tuturnya.

Ansar menyebut, banyak keunggulan dari sistem ini. Salah satunya, efisiensi tenaga. Sebab, cukup memanfaatkan operator yang terbagi dalam tiga sif. Petugas keamanan diberdayakan untuk menata kendaraan. Selama ini ada 21 juru parkir (jukir) di area tersebut. Sisanya bakal diberdayakan sebagai jukir di luar OGS. ‘’ Masih ada toko-toko di sekitar, juga kios buah, bisa kami tempatkan di sana,’’ terangnya.

Terkait tarif, Ansar mengatakan disesuaikan peraturan daerah (perda) yang ada. Untuk mobil Rp 2.000, sedangkan sepeda motor Rp 1.000. Pun dipastikan tarif itu tak dapat dinaikkan petugas lantaran ticketing telah diprogram. ‘’Sudah di-setting programnya. Jadi, tarif sesuai perda,’’ tegas Ansar.

Untuk sementara ini MPS masih semimanual. Belum sepenuhnya otomatis terkoneksi dengan badan pendapatan daerah (bapenda) terkait transaksi retribusi. Biasanya, sistem tersebut mengaplikasikan barcode yang memungkinkan setiap transaksi langsung terlapor ke sistem di bapenda. ‘’Sementara belum. Nanti bisa dikembangkan menggunakan sistem barcode,’’ pungkasnya. (kid/c1/sat/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya mencegah kebocoran retribusi parkir, khususnya di pasar tradisional, benar-benar direalisasikan Pemkot Madiun. Dimulai dari Pasar Sleko. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Madiun menerapkan parkir one gate system (OGS) di pasar tersebut. Saat ini masih tahap uji coba, pun sebagai pilot project.

Kepala Disdag Kota Madiun Ansar Rasidi mengatakan, penerapan OGS sebagai langkah awal mewujudkan inovasi dalam pengelolaan pasar tradisional. Pasar Sleko menjadi percontohan dari total 18 pasar di kota ini. Rencananya, seluruh pasar tradisional bakal menerapkan sistem serupa. ‘’Kami terapkan di Pasar Sleko dulu. Karena pasar ini akan menjadi rujukan kami dalam penataan pasar tradisonal,’’ katanya, Jumat (10/12).

Ansar menyebut, penerapan OGS diujicobakan hingga akhir Januari 2022. Dalam uji coba ini pihaknya coba menghitung retribusi parkir yang disetor ke pendapatan asli daerah (PAD). Penghitungan itu sebagai pembanding ketika OGS diterapkan per 1 Februari 2022. ‘’Ini jeda bagi kami menghitung PAD. Setelah dikelola menggunakan one gate system, nanti dapat dibandingkan. Selama uji coba Januari, gratis,’’ ujarnya.

Ada tiga pintu masuk area Pasar Sleko. Semua dilengkapi manless parking system (MPS). Pintu sisi barat atau gerbang utama dan sisi selatan difungsikan sebagai pintu masuk. Di kedua pintu itu dipasang mesin MPS satu paket dengan barrier gate atau portal. Pun, dilengkapi closed-circuit television (CCTV). Pintu sisi utara dijadikan pintu keluar yang juga dilengkapi pos, portal, CCTV, dan operator. ‘’Sudah kami pasang portal, lengkap dengan mesinnya,’’ ungkapnya.

Ansar menambahkan, cara kerja sistem parkir berbasis teknologi itu tidak terlalu ribet. Pengunjung maupun pedagang cukup menekan tombol di mesin MPS di dua pintu masuk. Secara otomatis barrier gate akan terbuka, dan mesin mengeluarkan print out tanda bukti sebagai pengganti kartu parkir. ‘’Lebih efisien dengan sistem parkir seperti ini,’’ klaimnya.

Baca Juga :  Pemkot Madiun Tutup Isoter Rusunawa II

Tanda bukti itu dilengkapi tanda identitas kendaraan hasil tangkapan CCTV. Tanda tersebut sebagai penghitungan algoritma. Sehingga, tidak mungkin akan sama antara satu tanda bukti dengan lainnya. Hasil tangkapan layar CCTV juga terkoneksi dengan server di pintu keluar. Tanda bukti dicocokkan petugas ketika kendaraan hendak keluar area pasar. ‘’Kami pastikan lebih aman dengan sistem ini,’’ tuturnya.

Ansar menyebut, banyak keunggulan dari sistem ini. Salah satunya, efisiensi tenaga. Sebab, cukup memanfaatkan operator yang terbagi dalam tiga sif. Petugas keamanan diberdayakan untuk menata kendaraan. Selama ini ada 21 juru parkir (jukir) di area tersebut. Sisanya bakal diberdayakan sebagai jukir di luar OGS. ‘’ Masih ada toko-toko di sekitar, juga kios buah, bisa kami tempatkan di sana,’’ terangnya.

Terkait tarif, Ansar mengatakan disesuaikan peraturan daerah (perda) yang ada. Untuk mobil Rp 2.000, sedangkan sepeda motor Rp 1.000. Pun dipastikan tarif itu tak dapat dinaikkan petugas lantaran ticketing telah diprogram. ‘’Sudah di-setting programnya. Jadi, tarif sesuai perda,’’ tegas Ansar.

Untuk sementara ini MPS masih semimanual. Belum sepenuhnya otomatis terkoneksi dengan badan pendapatan daerah (bapenda) terkait transaksi retribusi. Biasanya, sistem tersebut mengaplikasikan barcode yang memungkinkan setiap transaksi langsung terlapor ke sistem di bapenda. ‘’Sementara belum. Nanti bisa dikembangkan menggunakan sistem barcode,’’ pungkasnya. (kid/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/