alexametrics
31.2 C
Madiun
Tuesday, July 5, 2022

Enam Bulan, 3 Satwa Koleksi MUS Mati

MADIUN – Madiun Umbul Square (MUS) di Desa Glonggong, Dolopo, Kabupaten Madiun, ”kehilangan” sejumlah satwa. Tiga ekor koleksi satwa mati dalam enam bulan terakhir di objek wisata yang mengelola kebun binatang mini itu. ‘’Kematiannya tergolong wajar,’’ kata Priyas Sukmana, kapten keeper satwa MUS, Rabu (10/7).

Namun, pihak MUS selaku pengelola lembaga konservasi berdalih kematian binatang yang dilindungi tersebut bukan karena salah urus. Melainkan siklus hidup alami. Tiga satwa yang mati sejak Januari lalu itu kucing hutan, ular molu, dan buaya muara.

Kucing hutan dan ular molu merupakan limpahan. Kucing hutan itu hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Wilayah (BKSDA SKW) I Kediri. Ular sanca bodo atau molu hasil tangkapan warga Kare. Sedangkan buaya muara satwa yang cukup lama menghuni MUS. Buaya yang diberi nama Bagong itu mati Sabtu lalu (6/7). ‘’Rata-rata setahun ada tiga sampai empat satwa mati,’’ sebutnya.

Priyas menyebut, faktor utama penyebab kematian satwa adalah cuaca ekstrem. Hewan tidak sanggup beradaptasi dengan perubahan dari hawa dingin ke panas dan sebaliknya. Kematian pun lebih rentan bila satwa dalam kondisi sakit dan dipicu faktor lainnya. Terlepas masih berusia muda atau tua. ‘’Faktor lain yang memengaruhi kematian itu dalam kondisi stres atau berkelahi dengan satwa lain,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Priyas mengatakan, kondisi stres yang berujung kematian itu salah satunya menimpa kucing hutan. Mamalia itu tidak sanggup beradaptasi dengan habitat baru dan cuaca. Sedangkan ular molu kondisinya sudah memprihatinkan sejak pertama dilimpahkan. Bagian kepalanya terluka hingga berbelatung. ‘’Kalau mereka berkelahi, kami selalu berupaya memisahkan. Karena sebagian ada binatang koloni,’’ paparnya.

Bagaimana dengan kematian Bagong? Direktur MUS Afri Handoko menyebut reptil jantan itu mati karena suratan takdir. Satwa dengan panjang lima meter dan berat 200 kilogram itu sudah berusia tua. Diperkirakan 103 tahun. Melebihi batas usia hidup reptil di rentang 80–90 tahun. Sejak dia mengurus MUS enam tahun lalu, kondisi Bagong pun sudah tidak sehat. Kedua matanya buta, tidak aktif bergerak, dan mulut tidak bisa terbuka. ‘’Kalau makan harus ”disuapi” petugas,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Tugu PKK Pasar Spoor Diganti Tugu Pancasila

Kematian akibat usia lanjut juga dibuktikan dari hasil visum dokter hewan. Bagong didiagnosis mengalami stomatitis atau radang mulut. Organ mulutnya terdapat luka dan abses bernanah. Hidungnya juga terluka dan konjungtiva atau lapisan tipis di kelopak matanya pucat. Ihwal luka-luka tersebut, Afri menduga akibat membentur tembok atau benda lain di kandang. ‘’Karena buta jadi tidak bisa melihat. Kebutaan itu akibat sudah tua,’’ paparnya sembari menyebut kondisi Bagong masih sehat pada Jumat (5/7).

Afri menyebut, buaya diberi makan dua kilogram ayam setiap hari. Juga diberi nutrisi sesuai standar penangkaran. Bila terserang penyakit, dokter hewan pun sudah disediakan. Namun, untuk urusan kebersihan kandang diakui masih kurang. Petugas membersihkan tiga hari sekali karena keterbatasan tenaga. ‘’Belum bisa setiap hari,’’ ujarnya seraya menyebut jumlah buaya di MUS tersisa 13 ekor, yang tertua usia 60 tahun.

Dia mengklaim sebuah prestasi karena sanggup merawat Bagong hingga usia 100 tahun lebih. Bahkan, sempat timbul niat mengawetkan sebagai kenang-kenangan. Namun, rencana itu gagal terealisasi lantaran sulit mencari formalin. Reptil itu lantas dikubur di dalam kandang. Rencananya, satu tahun lagi kuburannya dibongkar untuk mengambil tulang sebagai hiasan ikonik. ‘’Kami kubur di kandang karena sulit mengeluarkan hewan dengan berat dua kuintal,’’ pungkasnya. (cor/c1/sat)

MADIUN – Madiun Umbul Square (MUS) di Desa Glonggong, Dolopo, Kabupaten Madiun, ”kehilangan” sejumlah satwa. Tiga ekor koleksi satwa mati dalam enam bulan terakhir di objek wisata yang mengelola kebun binatang mini itu. ‘’Kematiannya tergolong wajar,’’ kata Priyas Sukmana, kapten keeper satwa MUS, Rabu (10/7).

Namun, pihak MUS selaku pengelola lembaga konservasi berdalih kematian binatang yang dilindungi tersebut bukan karena salah urus. Melainkan siklus hidup alami. Tiga satwa yang mati sejak Januari lalu itu kucing hutan, ular molu, dan buaya muara.

Kucing hutan dan ular molu merupakan limpahan. Kucing hutan itu hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Wilayah (BKSDA SKW) I Kediri. Ular sanca bodo atau molu hasil tangkapan warga Kare. Sedangkan buaya muara satwa yang cukup lama menghuni MUS. Buaya yang diberi nama Bagong itu mati Sabtu lalu (6/7). ‘’Rata-rata setahun ada tiga sampai empat satwa mati,’’ sebutnya.

Priyas menyebut, faktor utama penyebab kematian satwa adalah cuaca ekstrem. Hewan tidak sanggup beradaptasi dengan perubahan dari hawa dingin ke panas dan sebaliknya. Kematian pun lebih rentan bila satwa dalam kondisi sakit dan dipicu faktor lainnya. Terlepas masih berusia muda atau tua. ‘’Faktor lain yang memengaruhi kematian itu dalam kondisi stres atau berkelahi dengan satwa lain,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Priyas mengatakan, kondisi stres yang berujung kematian itu salah satunya menimpa kucing hutan. Mamalia itu tidak sanggup beradaptasi dengan habitat baru dan cuaca. Sedangkan ular molu kondisinya sudah memprihatinkan sejak pertama dilimpahkan. Bagian kepalanya terluka hingga berbelatung. ‘’Kalau mereka berkelahi, kami selalu berupaya memisahkan. Karena sebagian ada binatang koloni,’’ paparnya.

Bagaimana dengan kematian Bagong? Direktur MUS Afri Handoko menyebut reptil jantan itu mati karena suratan takdir. Satwa dengan panjang lima meter dan berat 200 kilogram itu sudah berusia tua. Diperkirakan 103 tahun. Melebihi batas usia hidup reptil di rentang 80–90 tahun. Sejak dia mengurus MUS enam tahun lalu, kondisi Bagong pun sudah tidak sehat. Kedua matanya buta, tidak aktif bergerak, dan mulut tidak bisa terbuka. ‘’Kalau makan harus ”disuapi” petugas,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Asimilasi Bebaskan 14 Napi

Kematian akibat usia lanjut juga dibuktikan dari hasil visum dokter hewan. Bagong didiagnosis mengalami stomatitis atau radang mulut. Organ mulutnya terdapat luka dan abses bernanah. Hidungnya juga terluka dan konjungtiva atau lapisan tipis di kelopak matanya pucat. Ihwal luka-luka tersebut, Afri menduga akibat membentur tembok atau benda lain di kandang. ‘’Karena buta jadi tidak bisa melihat. Kebutaan itu akibat sudah tua,’’ paparnya sembari menyebut kondisi Bagong masih sehat pada Jumat (5/7).

Afri menyebut, buaya diberi makan dua kilogram ayam setiap hari. Juga diberi nutrisi sesuai standar penangkaran. Bila terserang penyakit, dokter hewan pun sudah disediakan. Namun, untuk urusan kebersihan kandang diakui masih kurang. Petugas membersihkan tiga hari sekali karena keterbatasan tenaga. ‘’Belum bisa setiap hari,’’ ujarnya seraya menyebut jumlah buaya di MUS tersisa 13 ekor, yang tertua usia 60 tahun.

Dia mengklaim sebuah prestasi karena sanggup merawat Bagong hingga usia 100 tahun lebih. Bahkan, sempat timbul niat mengawetkan sebagai kenang-kenangan. Namun, rencana itu gagal terealisasi lantaran sulit mencari formalin. Reptil itu lantas dikubur di dalam kandang. Rencananya, satu tahun lagi kuburannya dibongkar untuk mengambil tulang sebagai hiasan ikonik. ‘’Kami kubur di kandang karena sulit mengeluarkan hewan dengan berat dua kuintal,’’ pungkasnya. (cor/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/