alexametrics
24 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Buang Sampah Sembarangan, Sanksi Berat Tak Pernah Menjerat

PASAL 38 Perda Nomor 11/2017 yang melarang buang sampah tidak pada tempatnya seolah tiada artinya. Konsekuensi penjara maksimal tiga bulan atau denda maksimal Rp 5 juta yang dijelaskan dalam pasal 68 juga tak melecut kesadaran masyarakat. ‘’Buktinya masih ada sampah liar,’’ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Suwarno.

Dia mengungkapkan, sampah biang luapan air selama ini berasal dari warga yang membuang sampah sembarangan. Produk hukum daerah yang diterbitkan tak sanggup menghentikan perilaku tersebut. ‘’Sampai kini belum ada yang tertangkap dan terjerat aturan itu,’’ ujarnya.

Kesulitan menjerat pelaku pembuang sampah liar lantaran pelaku berpindah dan sembunyi-sembunyi ketika membuang sampah. Pun nihil laporan warga. Itu menyulitkan identifikasi titik yang menjadi langganan pembuangan sampah liar. ‘’Penanganannya seperti apa? Yang menjadi pekerjaan rumah, bagaimana menumbuhkan kesadaran warga,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Jabatan Wawali Yayak Tamat Jika Resmi Calonkan Bacaleg Perindo

Suwarno mengakui sosialisasi yang dilakukan hingga tingkat bawah tak jua menumbuhkan kesadaran masyarakat. Padahal, sampah yang diproduksi kota ini mencapai 115 ton per hari. Dikumpulkan dari 42 tempat pembuangan sementara (TPS). Sebelum dilimpahkan ke tempat pembuangan akhir (TPA) Winongo. ‘’Itu baru sampah yang dibuang pada tempatnya,’’ ungkap Suwarno. (kid/c1/fin) 

PASAL 38 Perda Nomor 11/2017 yang melarang buang sampah tidak pada tempatnya seolah tiada artinya. Konsekuensi penjara maksimal tiga bulan atau denda maksimal Rp 5 juta yang dijelaskan dalam pasal 68 juga tak melecut kesadaran masyarakat. ‘’Buktinya masih ada sampah liar,’’ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Suwarno.

Dia mengungkapkan, sampah biang luapan air selama ini berasal dari warga yang membuang sampah sembarangan. Produk hukum daerah yang diterbitkan tak sanggup menghentikan perilaku tersebut. ‘’Sampai kini belum ada yang tertangkap dan terjerat aturan itu,’’ ujarnya.

Kesulitan menjerat pelaku pembuang sampah liar lantaran pelaku berpindah dan sembunyi-sembunyi ketika membuang sampah. Pun nihil laporan warga. Itu menyulitkan identifikasi titik yang menjadi langganan pembuangan sampah liar. ‘’Penanganannya seperti apa? Yang menjadi pekerjaan rumah, bagaimana menumbuhkan kesadaran warga,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Pembebasan Lahan Ring Road Timur Dianggarkan Rp 5 Miliar

Suwarno mengakui sosialisasi yang dilakukan hingga tingkat bawah tak jua menumbuhkan kesadaran masyarakat. Padahal, sampah yang diproduksi kota ini mencapai 115 ton per hari. Dikumpulkan dari 42 tempat pembuangan sementara (TPS). Sebelum dilimpahkan ke tempat pembuangan akhir (TPA) Winongo. ‘’Itu baru sampah yang dibuang pada tempatnya,’’ ungkap Suwarno. (kid/c1/fin) 

Most Read

Artikel Terbaru

/