alexametrics
24.3 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Alvin Setya Patria Gaungkan Kota Sepur lewat Miniatur

Hobi koleksi miniatur sepur menjadi ladang investasi Alvin Setya Patria. Tak henti-henti koleksinya menjadi perburuan pencinta miniatur kereta api dari Sumatera hingga Papua.

===================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

LOKOMOTIF CC 300 berjalan menyusuri rel yang melingkar. Pelan tapi pasti, menarik empat gerbong batu bara tanpa suara. Memasuki putaran kedua, melaju lebih cepat. Melewati Dipo, palang pintu perlintasan.

Lampu sinyalnya berkedip. Miniatur kereta api itu ditata sedemikian rupa di meja seukuran 4×3 meter. Di dekat rak kaca berisikan serangkaian lain dari lokomotif, gerbong barang, penumpang, dan onderdil. ‘’Mulai koleksi sejak 2017. Ketika itu belum ada mesinnya,’’ kata Alvin.

Lokomotif CC 300 berwarna merah itu menyerupai kereta api betulan bikinan PT INKA. Dalam bentuk miniatur, Alvin harus merakit sendiri. Mesin dan onderdil didatangkannya dari luar negeri. Bodi lokomotifnya dari luar kota. Lokomotif itu merupakan miniatur paling hit dan banyak diburu penggila miniatur sepur. Alvin sampai menolak ketika koleksinya tersisa satu di galerinya. Peminatnya justru berdatangan dari luar daerah seperti Sumatera hingga Papua. Mereka langsung terfokus ke Madiun sebab dikenal sebagai Kota Sepur. Pun, kota berdirinya PT INKA, salah satu pabrik ketera api terbesar di Asia Tenggara. ‘’Jadi, banyak yang mengira bahwa di kota ini pula gudangnya miniatur kereta api. Karena itu saya terus menambah koleksi,’’ ungkap pria kelahiran 1992 yang saat ini tinggal di Kelurahan/Kecamatan Taman itu.

Koleksi pertamanya merupakan lokomotif CC 206 tanpa mesin yang dia dapatkan dari luar kota. Kecintaannya dengan sepur lahir sejak kecil. Ketika duduk di bangku SD, setiap hari dia selalu memandangi kereta lori pengangkut tebu dari PG Kanigoro di dekat rumahnya. Dari situlah dia ingin memiliki miniatur sepur lengkap dengan rel dan infrastruktur lainnya. ‘’Keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur,’’ sambungnya.

Baca Juga :  Perbaikan Jalan Secara Total Diagendakan Tahun Depan

Berbagai informasi dia kumpulkan hingga mendapatkan jaringan luar negeri yang sanggup memproduksi mesin miniatur kereta. Termasuk rel kereta serta berbagai onderdil seperti joiner (penyambung rel), roda kereta, penyambung kereta, dan lain-lain. Sementara untuk bodi dia mendapatkan dari rumah produksi di Jakarta. Hingga akhirnya mulai membangun replika kereta api lengkap dengan infrastrukturnya. Total uang yang dia habiskan untuk membangun semua itu seharga satu motor racing. ‘’Hobi di Madiun memang hanya ini. Saya juga ingin ikut gaungkan bahwa Kota Madiun merupakan Kota Sepur,’’ tuturnya.

Dalam kurun waktu dua tahun koleksi Alvin mencapai 100-an miniatur berupa lokomotif, gerbong barang, penumpang, dan pertamina. Namun, kini tersisa 20-an miniatur. Dibayar mahal dengan berbagai harga oleh para kolektor. Untuk lokomotif harga berkisar antara Rp 1,5 juta-2,5 juta, gerbong mulai Rp 250 ribu-500 ribu. Paling mahal merupakan kereta uap yang mencapai harga Rp 3-4 juta. ‘’Saya pelajari detail kereta aslinya juga,’’ imbuhnya.

Untuk aksesori seperti dipo, pohon, palang pintu, pos penjaga, lampu sinyal, dan lain-lain, harganya bervariasi menyesuaikan bentuknya. Alvin juga paham setiap detail bagian kereta api. Dia pun paham perkembangan kereta api di kota setempat. Mulai awal kereta uap hingga masa peralihan ke kereta mesin diesel. Bahkan perkembangan kereta dari masa ke masa itu juga diabadikan dalam galeri foto yang dipajang di dinding galeri miliknya. ‘’Yang paling laku lokomotif CC 206, 201, 203. Itu yang terbaru. ‘’Tapi, pengin lihat produksi langsung kereta, sampai saat ini belum keturutan,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Hobi koleksi miniatur sepur menjadi ladang investasi Alvin Setya Patria. Tak henti-henti koleksinya menjadi perburuan pencinta miniatur kereta api dari Sumatera hingga Papua.

===================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

LOKOMOTIF CC 300 berjalan menyusuri rel yang melingkar. Pelan tapi pasti, menarik empat gerbong batu bara tanpa suara. Memasuki putaran kedua, melaju lebih cepat. Melewati Dipo, palang pintu perlintasan.

Lampu sinyalnya berkedip. Miniatur kereta api itu ditata sedemikian rupa di meja seukuran 4×3 meter. Di dekat rak kaca berisikan serangkaian lain dari lokomotif, gerbong barang, penumpang, dan onderdil. ‘’Mulai koleksi sejak 2017. Ketika itu belum ada mesinnya,’’ kata Alvin.

Lokomotif CC 300 berwarna merah itu menyerupai kereta api betulan bikinan PT INKA. Dalam bentuk miniatur, Alvin harus merakit sendiri. Mesin dan onderdil didatangkannya dari luar negeri. Bodi lokomotifnya dari luar kota. Lokomotif itu merupakan miniatur paling hit dan banyak diburu penggila miniatur sepur. Alvin sampai menolak ketika koleksinya tersisa satu di galerinya. Peminatnya justru berdatangan dari luar daerah seperti Sumatera hingga Papua. Mereka langsung terfokus ke Madiun sebab dikenal sebagai Kota Sepur. Pun, kota berdirinya PT INKA, salah satu pabrik ketera api terbesar di Asia Tenggara. ‘’Jadi, banyak yang mengira bahwa di kota ini pula gudangnya miniatur kereta api. Karena itu saya terus menambah koleksi,’’ ungkap pria kelahiran 1992 yang saat ini tinggal di Kelurahan/Kecamatan Taman itu.

Koleksi pertamanya merupakan lokomotif CC 206 tanpa mesin yang dia dapatkan dari luar kota. Kecintaannya dengan sepur lahir sejak kecil. Ketika duduk di bangku SD, setiap hari dia selalu memandangi kereta lori pengangkut tebu dari PG Kanigoro di dekat rumahnya. Dari situlah dia ingin memiliki miniatur sepur lengkap dengan rel dan infrastruktur lainnya. ‘’Keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur,’’ sambungnya.

Baca Juga :  Administrasi Perluasan Stasiun Madiun Belum Selesai

Berbagai informasi dia kumpulkan hingga mendapatkan jaringan luar negeri yang sanggup memproduksi mesin miniatur kereta. Termasuk rel kereta serta berbagai onderdil seperti joiner (penyambung rel), roda kereta, penyambung kereta, dan lain-lain. Sementara untuk bodi dia mendapatkan dari rumah produksi di Jakarta. Hingga akhirnya mulai membangun replika kereta api lengkap dengan infrastrukturnya. Total uang yang dia habiskan untuk membangun semua itu seharga satu motor racing. ‘’Hobi di Madiun memang hanya ini. Saya juga ingin ikut gaungkan bahwa Kota Madiun merupakan Kota Sepur,’’ tuturnya.

Dalam kurun waktu dua tahun koleksi Alvin mencapai 100-an miniatur berupa lokomotif, gerbong barang, penumpang, dan pertamina. Namun, kini tersisa 20-an miniatur. Dibayar mahal dengan berbagai harga oleh para kolektor. Untuk lokomotif harga berkisar antara Rp 1,5 juta-2,5 juta, gerbong mulai Rp 250 ribu-500 ribu. Paling mahal merupakan kereta uap yang mencapai harga Rp 3-4 juta. ‘’Saya pelajari detail kereta aslinya juga,’’ imbuhnya.

Untuk aksesori seperti dipo, pohon, palang pintu, pos penjaga, lampu sinyal, dan lain-lain, harganya bervariasi menyesuaikan bentuknya. Alvin juga paham setiap detail bagian kereta api. Dia pun paham perkembangan kereta api di kota setempat. Mulai awal kereta uap hingga masa peralihan ke kereta mesin diesel. Bahkan perkembangan kereta dari masa ke masa itu juga diabadikan dalam galeri foto yang dipajang di dinding galeri miliknya. ‘’Yang paling laku lokomotif CC 206, 201, 203. Itu yang terbaru. ‘’Tapi, pengin lihat produksi langsung kereta, sampai saat ini belum keturutan,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/