alexametrics
25.6 C
Madiun
Thursday, May 12, 2022

Cegah PMK, Petugas DKPP Kota Madiun Lakukan Surveilans Ternak

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi tengah merebak di sejumlah daerah Jatim. Tak ingin merembet ke Kota Madiun, dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) setempat melakukan antisipasi dini.

Kemarin (11/5), dinas itu menerjunkan sejumlah petugas ke kandang peternak sapi di Jalan Tawangsari II, Kelurahan Tawangrejo, Kartoharjo, untuk melakukan surveilans. Satu per satu sapi diperiksa. Mulai suhu tubuh hewan hingga kondisi mulut dan telapak kaki.

Hasil pemeriksaan yang melibatkan dokter hewan itu tidak ditemukan adanya sapi yang terjangkit PMK. Petugas justru mendapati satu ekor sapi yang menunjukkan gejala flu. Pun, kemudian disuntik vaksin.

Kabid Pertanian DKPP Kota Madiun Herman Prakoso memastikan sejauh ini tidak ada laporan hewan ternak yang terjangkit PMK. Meski begitu, pihaknya merasa perlu melakukan surveilans sebagai upaya deteksi dini. ‘’Jika memang ditemukan (sapi terinfeksi PMK, Red) segera dilakukan penanganan. Diberi vitamin dan obati. Lalu, diisolasi dan menerapkan larangan hewan keluar-masuk dari daerah tertular,’’ ujar Herman.

Baca Juga :  Polisi Kantongi Tersangka Perkara WDR, Status Penyelidikan Naik ke Penyidikan

Bagaimana jika ada sapi yang positif PMK? Herman meminta peternak tidak serta-merta menjualnya. Sebab, interaksi antarhewan lain yang potensial tertular akan semakin luas. ‘’Seandainya ada indikasi PMK dan ingin dipotong paksa, sebaiknya dilakukan di RPH (rumah pemotongan hewan),’’ tuturnya.

Herman juga memastikan bahwa PMK tidak menular ke manusia. Penyakit tersebut dapat menular ke hewan berkuku genap seperti kambing, domba, dan babi. ‘’Agar PMK tidak merebak, kami lakukan penanangan secara maksimal,’’ tegasnya.

Dia menambahkan, populasi sapi di Kota Madiun saat ini hanya sekitar 200 ekor dengan jumlah peternak 100 orang. Terbanyak berada di Kecamatan Kartoharjo. ‘’Sapi di Kota Madiun selama ini didatangkan dari Magetan, Ngawi, dan Nganjuk,’’ ungkapnya.

Sementara, Suwanto, peternak sapi di Tawangrejo, mengapresiasi upaya DKPP melakukan surveilans ke ternak sapi miliknya. ‘’Untuk sementara kami tidak membeli atau mendatangkan sapi dari luar dulu,’’ ujarnya. ‘’Sapi-sapi yang ada di kandang kami saat ini kondisinya steril (dari PMK, Red),’’ imbuhnya. (her/c1/isd)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi tengah merebak di sejumlah daerah Jatim. Tak ingin merembet ke Kota Madiun, dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) setempat melakukan antisipasi dini.

Kemarin (11/5), dinas itu menerjunkan sejumlah petugas ke kandang peternak sapi di Jalan Tawangsari II, Kelurahan Tawangrejo, Kartoharjo, untuk melakukan surveilans. Satu per satu sapi diperiksa. Mulai suhu tubuh hewan hingga kondisi mulut dan telapak kaki.

Hasil pemeriksaan yang melibatkan dokter hewan itu tidak ditemukan adanya sapi yang terjangkit PMK. Petugas justru mendapati satu ekor sapi yang menunjukkan gejala flu. Pun, kemudian disuntik vaksin.

Kabid Pertanian DKPP Kota Madiun Herman Prakoso memastikan sejauh ini tidak ada laporan hewan ternak yang terjangkit PMK. Meski begitu, pihaknya merasa perlu melakukan surveilans sebagai upaya deteksi dini. ‘’Jika memang ditemukan (sapi terinfeksi PMK, Red) segera dilakukan penanganan. Diberi vitamin dan obati. Lalu, diisolasi dan menerapkan larangan hewan keluar-masuk dari daerah tertular,’’ ujar Herman.

Baca Juga :  Soal Ribuan Anak Tidak Sekolah, Dikbud Sebut Data Tak Valid

Bagaimana jika ada sapi yang positif PMK? Herman meminta peternak tidak serta-merta menjualnya. Sebab, interaksi antarhewan lain yang potensial tertular akan semakin luas. ‘’Seandainya ada indikasi PMK dan ingin dipotong paksa, sebaiknya dilakukan di RPH (rumah pemotongan hewan),’’ tuturnya.

Herman juga memastikan bahwa PMK tidak menular ke manusia. Penyakit tersebut dapat menular ke hewan berkuku genap seperti kambing, domba, dan babi. ‘’Agar PMK tidak merebak, kami lakukan penanangan secara maksimal,’’ tegasnya.

Dia menambahkan, populasi sapi di Kota Madiun saat ini hanya sekitar 200 ekor dengan jumlah peternak 100 orang. Terbanyak berada di Kecamatan Kartoharjo. ‘’Sapi di Kota Madiun selama ini didatangkan dari Magetan, Ngawi, dan Nganjuk,’’ ungkapnya.

Sementara, Suwanto, peternak sapi di Tawangrejo, mengapresiasi upaya DKPP melakukan surveilans ke ternak sapi miliknya. ‘’Untuk sementara kami tidak membeli atau mendatangkan sapi dari luar dulu,’’ ujarnya. ‘’Sapi-sapi yang ada di kandang kami saat ini kondisinya steril (dari PMK, Red),’’ imbuhnya. (her/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/