alexametrics
25.2 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Alice Peluk, Alice Cinta

MADIUN – Dahi Alice Putri Pelangi tertempel selembar plester kompres demam. Wajahnya memang sedikit pucat. Sejak Sabtu (11/5) Alice mendadak demam tinggi. Hasil pengukuran terakhir, mencapai 39 derajat celcius. Saat Jawa Pos Radar Madiun datang Minggu kemarin (12/5), Alice tergolek lemas di kamar. Meskipun dalam kondisi sakit, bocah empat tahun itu tersenyum tenang saat bertemu wartawan koran ini. ’’Alice mau bikin es krim, mau?,’’ kata Alice sesaat setelah bangun dari tidurnya.

Duduk lesehan, putri semata wayang pasangan Anita dan Ignatius Sugiarto itu seketika bersentuhan langsung dengan sepaket mainan yang berada tidak jauh darinya. Memeragakan diri sebagai penjaja es krim. Saat bermain itulah, Anita mengajaknya mengobrol. ’’Iya Alice peluk, Alice cinta,’’ ujarnya.

Kepada wartawan koran ini, Anita mengisahkan tingkah polah buah hatinya yang menggemaskan itu.  Memang sedari kecil Alice tumbuh sebagai anak yang periang dan senang bergaul. Setibanya di TK Katolik St Bernardus Alice kerap disapa sejumlah teman-temannya yang berpapasan dengannya. ‘’Jadi terkadang dia masuk kelas itu terakhir karena masih mampir-mampir nemui teman-temannya. Dia menyapa, dan ajak teman-temannya main ke rumah,’’ terang Anita.

Sedari kecil, Anita sudah mengajarkan untuk bergaul tanpa memandang suku, agama dan ras. Sebab, dia sendiri juga menjaga toleransi antaragama. Ambil contoh,  ketika zaman kuliah dulu, dia sekamar dengan muslim. Anita sering mengingatkan waktu ibada subuh.Gara-gara alarm berbunyi, dan ikut membangunkannya. ’’Dan hubungan baik itu terjalin baik sampai sekarang,’’ paparnya.

Kendati bersekolah di sekolah katolik, keseharian Alice juga dekat dengan kemajemukan agama dan ras. Itu dijumpai di sebuah  penitipan anak. Di tempat penitipan anak itu, semua pengasuhnya berjilbab dan beragama muslim. Namun, pemilik day car beragama katolik. ’’Juga bermain dengan anak-anak yang berasal dari luar jawa. ‘’Dari Ambon dan Timur ada, dia (Alice) sering cerita menirukan temannya yang ngomong pakai kata-kata beta,’’ paparnya.

Baca Juga :  Satpol PP Magetan Masih Bingung Kantor

‘’Bangga pastinya, tidak menyangka sampai viral begitu. Banyak yang nge-tag saya. Senang bisa menyampaikan pesan toleransi dan perdamaian,’’ ujarnya.

Sementara itu, Imelda Gurita Ulam Sari Kepala Sekolah TK Katolik St Bernardus mengaku tidak menyangka jika kegiatan sekolahnya menjadi viral nasional dan pemberitaan berbagai media. Bahkan, menuai komentar positif dari berbagai kalangan. Ini menekankan pentingnya hidup dalam keberagaman dan kebhinekaan sebagai saudara. ’’Kami bersyukur bahwa apa yang kami lakukan ternyata menginspirasi banyak orang,’’ ujar Rita –sapan akrab Imelda Gurita Ulam Sari- kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Lanjutnya, kegiatan ini bisa menjadi program  tahunan dikemas dengan kegiatan yang berbeda. Kepada anak didiknya dia mengatakan, kegiatan yang telah diprakasai sekolahnya telah mendapatkan pujian karena anak-anak hebat. ‘’Bisa viral yang pertama kegiatan kami pas dengan momen Ramadaan, kedua hal semacam ini jarang dilakukan, ketiga situasi saat ini menuntut kita bersikap secara nyata wujud rasa kebangsaan yang berbhineka, keempat adalah kepolosan anak anak dan ekspresi mereka yang tulus saling mencintai,’’ jelasnya.

Ida Ayu Tristiawati kepala TK ABA 1 juga mengatakan hal yang sama. Dia hanya menekankan bahwa kegiatan ini tidak ada tendesius apapun. Sebab, Ida sendiripun juga terkejut dengan kunjungan TK Bernadus. ’’Banyak komentar positif dan negatif, tapi kami ambil yang baik-baik saja, bahwa kerukunan antarumat beragama itu penting,’’ pungkasnya. (dil/ota)

MADIUN – Dahi Alice Putri Pelangi tertempel selembar plester kompres demam. Wajahnya memang sedikit pucat. Sejak Sabtu (11/5) Alice mendadak demam tinggi. Hasil pengukuran terakhir, mencapai 39 derajat celcius. Saat Jawa Pos Radar Madiun datang Minggu kemarin (12/5), Alice tergolek lemas di kamar. Meskipun dalam kondisi sakit, bocah empat tahun itu tersenyum tenang saat bertemu wartawan koran ini. ’’Alice mau bikin es krim, mau?,’’ kata Alice sesaat setelah bangun dari tidurnya.

Duduk lesehan, putri semata wayang pasangan Anita dan Ignatius Sugiarto itu seketika bersentuhan langsung dengan sepaket mainan yang berada tidak jauh darinya. Memeragakan diri sebagai penjaja es krim. Saat bermain itulah, Anita mengajaknya mengobrol. ’’Iya Alice peluk, Alice cinta,’’ ujarnya.

Kepada wartawan koran ini, Anita mengisahkan tingkah polah buah hatinya yang menggemaskan itu.  Memang sedari kecil Alice tumbuh sebagai anak yang periang dan senang bergaul. Setibanya di TK Katolik St Bernardus Alice kerap disapa sejumlah teman-temannya yang berpapasan dengannya. ‘’Jadi terkadang dia masuk kelas itu terakhir karena masih mampir-mampir nemui teman-temannya. Dia menyapa, dan ajak teman-temannya main ke rumah,’’ terang Anita.

Sedari kecil, Anita sudah mengajarkan untuk bergaul tanpa memandang suku, agama dan ras. Sebab, dia sendiri juga menjaga toleransi antaragama. Ambil contoh,  ketika zaman kuliah dulu, dia sekamar dengan muslim. Anita sering mengingatkan waktu ibada subuh.Gara-gara alarm berbunyi, dan ikut membangunkannya. ’’Dan hubungan baik itu terjalin baik sampai sekarang,’’ paparnya.

Kendati bersekolah di sekolah katolik, keseharian Alice juga dekat dengan kemajemukan agama dan ras. Itu dijumpai di sebuah  penitipan anak. Di tempat penitipan anak itu, semua pengasuhnya berjilbab dan beragama muslim. Namun, pemilik day car beragama katolik. ’’Juga bermain dengan anak-anak yang berasal dari luar jawa. ‘’Dari Ambon dan Timur ada, dia (Alice) sering cerita menirukan temannya yang ngomong pakai kata-kata beta,’’ paparnya.

Baca Juga :  Dipicu Masalah Batas Tanah, Kakak Tikam Adik Ipar

‘’Bangga pastinya, tidak menyangka sampai viral begitu. Banyak yang nge-tag saya. Senang bisa menyampaikan pesan toleransi dan perdamaian,’’ ujarnya.

Sementara itu, Imelda Gurita Ulam Sari Kepala Sekolah TK Katolik St Bernardus mengaku tidak menyangka jika kegiatan sekolahnya menjadi viral nasional dan pemberitaan berbagai media. Bahkan, menuai komentar positif dari berbagai kalangan. Ini menekankan pentingnya hidup dalam keberagaman dan kebhinekaan sebagai saudara. ’’Kami bersyukur bahwa apa yang kami lakukan ternyata menginspirasi banyak orang,’’ ujar Rita –sapan akrab Imelda Gurita Ulam Sari- kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Lanjutnya, kegiatan ini bisa menjadi program  tahunan dikemas dengan kegiatan yang berbeda. Kepada anak didiknya dia mengatakan, kegiatan yang telah diprakasai sekolahnya telah mendapatkan pujian karena anak-anak hebat. ‘’Bisa viral yang pertama kegiatan kami pas dengan momen Ramadaan, kedua hal semacam ini jarang dilakukan, ketiga situasi saat ini menuntut kita bersikap secara nyata wujud rasa kebangsaan yang berbhineka, keempat adalah kepolosan anak anak dan ekspresi mereka yang tulus saling mencintai,’’ jelasnya.

Ida Ayu Tristiawati kepala TK ABA 1 juga mengatakan hal yang sama. Dia hanya menekankan bahwa kegiatan ini tidak ada tendesius apapun. Sebab, Ida sendiripun juga terkejut dengan kunjungan TK Bernadus. ’’Banyak komentar positif dan negatif, tapi kami ambil yang baik-baik saja, bahwa kerukunan antarumat beragama itu penting,’’ pungkasnya. (dil/ota)

Most Read

Artikel Terbaru

/