alexametrics
24.1 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Tes Murah Bingungkan Rumah Sakit Daerah

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Standardisasi biaya rapid test yang diseragamkan pemerintah pusat membingungkan otoritas kesehatan daerah. Rilisan alat tes cepat seharga Rp 75 ribu nihil di pasaran.

Ketidaksinkronan kebijakan pusat-daerah ini memicu kegaduhan. Antara rumah sakit, laboratorium pemberi layanan, dan masyarakat selaku konsumen. ‘’Rapid test itu jadi informasi terbaru yang paling ramai diperbincangkan,’’ kata Direktur RSUD dr Soedono Madiun dr Bangun Trapsila Purwaka.

Awal pekan lalu, publik sempat diramaikan Surat Edaran (SE) Kemenkes HK.02.02/I/2875/2020 mengenai batasan tarif tertinggi rapid test antibodi mandiri maksimal Rp 150 ribu. Praktiknya, fasilitas kesehatan kesulitan mencari alat rapid test dengan harga sesuai standar ketentuan pemerintah pusat. ‘’Dari distributor harganya sudah mulai kisaran Rp 220 ribu,’’ ujarnya.

Per 9 Juli, RSUD dr Soedono Madiun tetap mengumumkan biaya rapid test mandiri yang tarifnya disesuaikan ketentuan Kemenkes. Meskipun mencari alatnya itu sesusah mencari jarum di tumpukan jerami. Dengan biaya Rp 150 ribu, pemohon sudah mendapatkan surat keterangan hasil rapid test. ‘’Syaratnya sesuai dengan pemeriksaan lainnya. Pemohon menyertakan kartu identitas dan lain sebagainya,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Dewan Sebut Sudandi-Soeko Calon Terkuat Sekda Kota Madiun

Belakangan, rumah sakit pemprov ini melayani 30 rapid test mandiri per hari. Mayoritas pemohon menggunakannya sebagai syarat untuk bertransportasi ke luar kota. Peningkatan juga dipengaruhi kedatangan santri yang kembali ke pondok pesantren. ‘’Karena memang dipersyaratkan oleh Kemenhub,’’ terangnya.

Bangun meluruskan, sejatinya rapid test bukanlah untuk mendiagnosis. Tes cepat itu sebatas skrining. Untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Tidak heran bila kerap dijumpai seseorang yang dinyatakan nonreaktif dari rapid test, hasil sebaliknya didapatkan setelah ditindaklanjuti swab test. ‘’Jika seseorang terinfeksi virus, maka tubuh akan membentuk antibodi. Nah, antibodi itu akan terdeteksi pada pemeriksaan terhadap sampel darah sebagaimana cara kerja rapid test antibodi,’’ urainya. (kid/c1/fin)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Standardisasi biaya rapid test yang diseragamkan pemerintah pusat membingungkan otoritas kesehatan daerah. Rilisan alat tes cepat seharga Rp 75 ribu nihil di pasaran.

Ketidaksinkronan kebijakan pusat-daerah ini memicu kegaduhan. Antara rumah sakit, laboratorium pemberi layanan, dan masyarakat selaku konsumen. ‘’Rapid test itu jadi informasi terbaru yang paling ramai diperbincangkan,’’ kata Direktur RSUD dr Soedono Madiun dr Bangun Trapsila Purwaka.

Awal pekan lalu, publik sempat diramaikan Surat Edaran (SE) Kemenkes HK.02.02/I/2875/2020 mengenai batasan tarif tertinggi rapid test antibodi mandiri maksimal Rp 150 ribu. Praktiknya, fasilitas kesehatan kesulitan mencari alat rapid test dengan harga sesuai standar ketentuan pemerintah pusat. ‘’Dari distributor harganya sudah mulai kisaran Rp 220 ribu,’’ ujarnya.

Per 9 Juli, RSUD dr Soedono Madiun tetap mengumumkan biaya rapid test mandiri yang tarifnya disesuaikan ketentuan Kemenkes. Meskipun mencari alatnya itu sesusah mencari jarum di tumpukan jerami. Dengan biaya Rp 150 ribu, pemohon sudah mendapatkan surat keterangan hasil rapid test. ‘’Syaratnya sesuai dengan pemeriksaan lainnya. Pemohon menyertakan kartu identitas dan lain sebagainya,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kuda-Kuda Keropos Rusak Konstruksi Atap Kelas V SDN 2 Tawangrejo

Belakangan, rumah sakit pemprov ini melayani 30 rapid test mandiri per hari. Mayoritas pemohon menggunakannya sebagai syarat untuk bertransportasi ke luar kota. Peningkatan juga dipengaruhi kedatangan santri yang kembali ke pondok pesantren. ‘’Karena memang dipersyaratkan oleh Kemenhub,’’ terangnya.

Bangun meluruskan, sejatinya rapid test bukanlah untuk mendiagnosis. Tes cepat itu sebatas skrining. Untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Tidak heran bila kerap dijumpai seseorang yang dinyatakan nonreaktif dari rapid test, hasil sebaliknya didapatkan setelah ditindaklanjuti swab test. ‘’Jika seseorang terinfeksi virus, maka tubuh akan membentuk antibodi. Nah, antibodi itu akan terdeteksi pada pemeriksaan terhadap sampel darah sebagaimana cara kerja rapid test antibodi,’’ urainya. (kid/c1/fin)

Artikel SebelumnyaTak Ada Sekolah Hari Ini
Artikel Selanjutnya DPRD Kota Madiun Apresiasi Pemkot

Most Read

Artikel Terbaru

/