alexametrics
27.3 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Kisah Inspiratif Pendeta Rudi Elkel Entaskan Ratusan Anak Jalanan

MALAM telah larut. Rudi Elkel bersama keluarganya telah terlelap. Namun, pintu rumahnya di Jalan Glatik, Kota Madiun, itu tidak pernah terkunci. Terdengar bunyi derap langkah menuju rumahnya. Bunyi itu berasal dari sepatu boot. Derit suara, pintu dibuka lima remaja bertato dengan potongan mohawk dengan tindik di telinga, hidung, dan dagu. Berpakaian rompi jins penuh tambalan emblem.

Kelimanya tampak sempoyongan dan berbicara ngelantur. Kebisingan di tengah malam itu membangunkan tidur Rudi. Dia bergegas bangkit dari tempat tidur. Menemui mereka yang tengah tepar di ruang tamu. Rudi menghampiri dan menyuruh mereka makan di dapur. ‘’Hampir setiap malam dulu seperti ini,’’ kata Rudi.

Masa lalunya bermula ketika dikeluarkan dari sekolah saat kelas VIII SMP. Lantaran ketahuan mencuri buku perpustakaan. Buku tersebut dia jual ke Gang Puntuk —pasar buku bekas di Kota Madiun. Setelah dikeluarkan, dia memutuskan hidup di jalanan. Jalanan menjadi tempat pelampiasan dendam atas perlakuan orang tuanya. Hampir tiap hari, dia dipukul menggunakan rotan oleh bapaknya. Kekesalan itulah yang membuatnya lari ke jalanan. Di masa broken home itu, dia pernah bekerja sebagai kuli bangunan, loper koran, asongan, hingga montir di sebuah bengkel. Dia pernah tiga bulan membuka jasa reparasi mesin jahit di Klaten, Jateng. Sekembalinya ke Madiun, dia pun mendirikan komunitas anak punk. ‘’Hidup bebas di jalanan,’’ ujar bapak satu anak kelahiran Maluku Tenggara, 1985 ini.

Ketika itu, Rudi spontan mengubah penampilannya. Potongan rambutnya di-mohawk. Celana jins bolong-bolong selalu dipakainya, tak pernah ganti. Pun, atasannya rompi jins dengan tembelan emblem khas anak punk. Telinga, dagu, hidung, alis, dan kening ditindik. Sejak itu, Rudi tidak pernah mandi. ‘’Anak punk itu semakin dekil, semakin keren. Karena jargon kami anti kemapanan,’’ tuturnya.

Tempat mangkalnya dulu di perempatan Klegen. Bersama puluhan anak punk lainnya, setiap hari ngamen untuk makan. Juga, untuk konsumsi miras dan membeli obat-obatan terlarang. Bahkan, sampai pesta seks. ‘’Dulu cari rumah kosong, kita pesta di situ. Rasanya bebas, tanpa aturan. Kami memang tidak mau diatur. Itu dulu ya,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Tiga Bersamaan

Dia pun keliling ke berbagai daerah di Jawa. Ketika ada undangan anak punk dari daerah lain, dia bersama kawannya tak segan nyegat truk untuk nebeng. Meski demikian, selama di jalan anak punk memegang prinsip tidak membuat onar dan mengganggu orang lain. Mereka hidup dengan caranya sendiri. Namun, jika ada yang menyenggol, mereka bakal bersatu dan membalas. ‘’Punk itu kami bermusik aliran punk dan hidup bebas. Biasanya yang membuat onar itu anak jalanan yang berpakaian ala punk,’’ paparnya.

Rudi merasakan betul bagaimana keras dan bebasnya hidup di jalanan. Hingga 2007 silam, kakaknya di Papua memintanya datang ke sana. Dia kaget betul ketika sampai di Papua. Sebab, tidak ada kehidupan ala anak punk di sana. Dia sempat terkucilkan. Namun, kakaknya tidak pernah sekalipun memarahinya. Justru dia diberikan kasih sayang. Dari situlah hatinya luluh dan memilih berubah membenahi hidupnya. ‘’Saya dapatkan kasih dari pelukan Tuhan dan terasa damai,’’ ucapnya.

Sejak itu Rudi diangkat menjadi pendeta di Gereja GK PMI, Sorong, Papua. Sejak itu pula dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan gelapnya. Tujuh tahun menjadi pendeta, Rudi ingin kembali ke Madiun. Pada 2014 dia memutuskan kembali ke Madiun dan menjadi pendeta di Gereja GSJA Air Hidup Madiun. Pengalaman menjadi anak punk itu membuat Rudi sabar dan banyak bersyukur. Hingga mendirikan rumah singgah bagi anak punk dan anak jalanan, bahkan orang telantar. ‘’Saya tahu betul seperti apa kerasnya kehidupan jalanan. Karena saya dulu seperti itu,’’ ujarnya.

Saat pertama mengajak 15 anak punk ke rumahnya, sempat mendapat penolakan dari istri. Apalagi mereka dalam keadaan mabuk dan bau. Tapi, berkat kesabarannya, dia berhasil memberikan pengertian ke istri. Hingga istrinya menerima. Perlahan, dengan kasih sayang, Rudi mulai membimbing anak punk. Bahkan tidak sedikit yang sadar dan akhirnya memperbaiki hidup. Sudah ratusan anak jalanan yang berhasil dientaskan. ‘’Saya tanamkan kemandirian agar mereka bisa mandiri. Setelah itu barulah saya lepas,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

MALAM telah larut. Rudi Elkel bersama keluarganya telah terlelap. Namun, pintu rumahnya di Jalan Glatik, Kota Madiun, itu tidak pernah terkunci. Terdengar bunyi derap langkah menuju rumahnya. Bunyi itu berasal dari sepatu boot. Derit suara, pintu dibuka lima remaja bertato dengan potongan mohawk dengan tindik di telinga, hidung, dan dagu. Berpakaian rompi jins penuh tambalan emblem.

Kelimanya tampak sempoyongan dan berbicara ngelantur. Kebisingan di tengah malam itu membangunkan tidur Rudi. Dia bergegas bangkit dari tempat tidur. Menemui mereka yang tengah tepar di ruang tamu. Rudi menghampiri dan menyuruh mereka makan di dapur. ‘’Hampir setiap malam dulu seperti ini,’’ kata Rudi.

Masa lalunya bermula ketika dikeluarkan dari sekolah saat kelas VIII SMP. Lantaran ketahuan mencuri buku perpustakaan. Buku tersebut dia jual ke Gang Puntuk —pasar buku bekas di Kota Madiun. Setelah dikeluarkan, dia memutuskan hidup di jalanan. Jalanan menjadi tempat pelampiasan dendam atas perlakuan orang tuanya. Hampir tiap hari, dia dipukul menggunakan rotan oleh bapaknya. Kekesalan itulah yang membuatnya lari ke jalanan. Di masa broken home itu, dia pernah bekerja sebagai kuli bangunan, loper koran, asongan, hingga montir di sebuah bengkel. Dia pernah tiga bulan membuka jasa reparasi mesin jahit di Klaten, Jateng. Sekembalinya ke Madiun, dia pun mendirikan komunitas anak punk. ‘’Hidup bebas di jalanan,’’ ujar bapak satu anak kelahiran Maluku Tenggara, 1985 ini.

Ketika itu, Rudi spontan mengubah penampilannya. Potongan rambutnya di-mohawk. Celana jins bolong-bolong selalu dipakainya, tak pernah ganti. Pun, atasannya rompi jins dengan tembelan emblem khas anak punk. Telinga, dagu, hidung, alis, dan kening ditindik. Sejak itu, Rudi tidak pernah mandi. ‘’Anak punk itu semakin dekil, semakin keren. Karena jargon kami anti kemapanan,’’ tuturnya.

Tempat mangkalnya dulu di perempatan Klegen. Bersama puluhan anak punk lainnya, setiap hari ngamen untuk makan. Juga, untuk konsumsi miras dan membeli obat-obatan terlarang. Bahkan, sampai pesta seks. ‘’Dulu cari rumah kosong, kita pesta di situ. Rasanya bebas, tanpa aturan. Kami memang tidak mau diatur. Itu dulu ya,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Dispendukcapil Fasilitasi Napi Rekam e-KTP

Dia pun keliling ke berbagai daerah di Jawa. Ketika ada undangan anak punk dari daerah lain, dia bersama kawannya tak segan nyegat truk untuk nebeng. Meski demikian, selama di jalan anak punk memegang prinsip tidak membuat onar dan mengganggu orang lain. Mereka hidup dengan caranya sendiri. Namun, jika ada yang menyenggol, mereka bakal bersatu dan membalas. ‘’Punk itu kami bermusik aliran punk dan hidup bebas. Biasanya yang membuat onar itu anak jalanan yang berpakaian ala punk,’’ paparnya.

Rudi merasakan betul bagaimana keras dan bebasnya hidup di jalanan. Hingga 2007 silam, kakaknya di Papua memintanya datang ke sana. Dia kaget betul ketika sampai di Papua. Sebab, tidak ada kehidupan ala anak punk di sana. Dia sempat terkucilkan. Namun, kakaknya tidak pernah sekalipun memarahinya. Justru dia diberikan kasih sayang. Dari situlah hatinya luluh dan memilih berubah membenahi hidupnya. ‘’Saya dapatkan kasih dari pelukan Tuhan dan terasa damai,’’ ucapnya.

Sejak itu Rudi diangkat menjadi pendeta di Gereja GK PMI, Sorong, Papua. Sejak itu pula dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan gelapnya. Tujuh tahun menjadi pendeta, Rudi ingin kembali ke Madiun. Pada 2014 dia memutuskan kembali ke Madiun dan menjadi pendeta di Gereja GSJA Air Hidup Madiun. Pengalaman menjadi anak punk itu membuat Rudi sabar dan banyak bersyukur. Hingga mendirikan rumah singgah bagi anak punk dan anak jalanan, bahkan orang telantar. ‘’Saya tahu betul seperti apa kerasnya kehidupan jalanan. Karena saya dulu seperti itu,’’ ujarnya.

Saat pertama mengajak 15 anak punk ke rumahnya, sempat mendapat penolakan dari istri. Apalagi mereka dalam keadaan mabuk dan bau. Tapi, berkat kesabarannya, dia berhasil memberikan pengertian ke istri. Hingga istrinya menerima. Perlahan, dengan kasih sayang, Rudi mulai membimbing anak punk. Bahkan tidak sedikit yang sadar dan akhirnya memperbaiki hidup. Sudah ratusan anak jalanan yang berhasil dientaskan. ‘’Saya tanamkan kemandirian agar mereka bisa mandiri. Setelah itu barulah saya lepas,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/