alexametrics
23.6 C
Madiun
Saturday, July 2, 2022

Tiga Sapi di Kota Madiun Negatif PMK

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Mimpi buruk masuknya penyakit mulut dan kuku (PMK) ke Kota Madiun tidak menjadi kenyataan. Uji laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Jogjakarta, terhadap tiga ekor sapi di Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, menunjukkan hasil negatif.

Sub-Koordinator Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun drh Margaretha Dian mengatakan, hasil pemeriksaan sampel darah dan air liur sapi bergejala PMK itu keluar pada Sabtu (14/5) lalu. ‘’Tiga ekor sapi tersebut didiagnosis mengalami infeksi bakteri, bukan PMK,’’ katanya, Minggu (16/5).

Hasil itu tentu melegakan DKPP karena sejauh ini Kota Madiun masih masuk daerah bebas PMK. Kendati demikian, Margaretha mengaku pihaknya bakal tetap mengawasi tiga ekor sapi milik peternak di Ngegong itu. ‘’Kami lakukan surveilans dan berikan obat-obatan,’’ ujarnya.

Ketiga sapi tersebut, lanjut Margaretha, dilarang keluar dari kandang maupun dijual sebelum dinyatakan benar-benar sembuh. Itu dilakukan untuk menghindari risiko terkena penyakit menular lainnya pada hewan ternak. ‘’Minimal sampai sembuh,’’ ucapnya.

Dia menuturkan, sampai saat ini surveilans terhadap hewan ternak telah dilakukan di 11 kelurahan. Hasilnya, tidak ada sapi yang suspek PMK. Meski begitu, monitoring tetap dilakukan DKPP. Apalagi, di Magetan ditemukan adanya puluhan ekor sapi terinfeksi PMK.

Margaretha menyebutkan, para pengelola rumah potong hewan (RPH) di Kota Madiun telah diingatkan untuk tidak sembarangan menerima sapi dari Magetan. Imbauan itu juga telah disosialisasikan kepada para peternak dengan harapan persebaran virus PMK tidak meluas. ‘’Pengawasan lalu lintas hewan ternak kami lakukan di RPH. Kami perketat hewan ternak yang masuk dari Magetan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Pemkab Ponorogo Gelar Rapat Besar Solusikan Problem PMK

Dia menambahkan, wabah PMK yang telah menyebar di Jatim mengakibatkan produksi daging sapi di sejumlah daerah termasuk Kota Madiun mengalami penurunan. Bersamaan itu, kata Margaretha, harga jual di pasaran meningkat. ‘’Otomatis adanya wabah PMK ini berpengaruh pada produksi daging sapi. Karena dagingnya jadi langka, harganya tentu naik,’’ ujarnya.

Terpisah, Wali Kota Madiun Maidi meminta DKPP terus melakukan monitoring terhadap peredaran daging sapi maupun sapi hidup dari luar daerah. Bahkan, bila perlu memperketat pengawasan aktivitas pemotongan hewan ternak di RPH. ‘’Dengan kondisi seperti ini kita harus bergerak cepat. Tidak boleh menunggu adanya kasus,’’ tegasnya.

Menanggapi perintah Maidi, Kepala DKPP Kota Madiun Muntoro memastikan pihaknya intens turun memonitor sapi milik para peternak maupun daging di pasaran. Meski begitu, dia meminta masyarakat tidak panik. Sebab, daging dari sapi PMK masih layak konsumsi. Pun, PMK tidak menular ke manusia. ‘’Tapi, tingkat penularannya ke hewan lain sangat cepat,’’ ungkapnya. (her/c1/isd)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Mimpi buruk masuknya penyakit mulut dan kuku (PMK) ke Kota Madiun tidak menjadi kenyataan. Uji laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Jogjakarta, terhadap tiga ekor sapi di Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, menunjukkan hasil negatif.

Sub-Koordinator Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun drh Margaretha Dian mengatakan, hasil pemeriksaan sampel darah dan air liur sapi bergejala PMK itu keluar pada Sabtu (14/5) lalu. ‘’Tiga ekor sapi tersebut didiagnosis mengalami infeksi bakteri, bukan PMK,’’ katanya, Minggu (16/5).

Hasil itu tentu melegakan DKPP karena sejauh ini Kota Madiun masih masuk daerah bebas PMK. Kendati demikian, Margaretha mengaku pihaknya bakal tetap mengawasi tiga ekor sapi milik peternak di Ngegong itu. ‘’Kami lakukan surveilans dan berikan obat-obatan,’’ ujarnya.

Ketiga sapi tersebut, lanjut Margaretha, dilarang keluar dari kandang maupun dijual sebelum dinyatakan benar-benar sembuh. Itu dilakukan untuk menghindari risiko terkena penyakit menular lainnya pada hewan ternak. ‘’Minimal sampai sembuh,’’ ucapnya.

Dia menuturkan, sampai saat ini surveilans terhadap hewan ternak telah dilakukan di 11 kelurahan. Hasilnya, tidak ada sapi yang suspek PMK. Meski begitu, monitoring tetap dilakukan DKPP. Apalagi, di Magetan ditemukan adanya puluhan ekor sapi terinfeksi PMK.

Margaretha menyebutkan, para pengelola rumah potong hewan (RPH) di Kota Madiun telah diingatkan untuk tidak sembarangan menerima sapi dari Magetan. Imbauan itu juga telah disosialisasikan kepada para peternak dengan harapan persebaran virus PMK tidak meluas. ‘’Pengawasan lalu lintas hewan ternak kami lakukan di RPH. Kami perketat hewan ternak yang masuk dari Magetan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  MaDa Menuju Balai Kota, Sediakan 9 Ribu Porsi Nasi dan Mie Goreng Gratis

Dia menambahkan, wabah PMK yang telah menyebar di Jatim mengakibatkan produksi daging sapi di sejumlah daerah termasuk Kota Madiun mengalami penurunan. Bersamaan itu, kata Margaretha, harga jual di pasaran meningkat. ‘’Otomatis adanya wabah PMK ini berpengaruh pada produksi daging sapi. Karena dagingnya jadi langka, harganya tentu naik,’’ ujarnya.

Terpisah, Wali Kota Madiun Maidi meminta DKPP terus melakukan monitoring terhadap peredaran daging sapi maupun sapi hidup dari luar daerah. Bahkan, bila perlu memperketat pengawasan aktivitas pemotongan hewan ternak di RPH. ‘’Dengan kondisi seperti ini kita harus bergerak cepat. Tidak boleh menunggu adanya kasus,’’ tegasnya.

Menanggapi perintah Maidi, Kepala DKPP Kota Madiun Muntoro memastikan pihaknya intens turun memonitor sapi milik para peternak maupun daging di pasaran. Meski begitu, dia meminta masyarakat tidak panik. Sebab, daging dari sapi PMK masih layak konsumsi. Pun, PMK tidak menular ke manusia. ‘’Tapi, tingkat penularannya ke hewan lain sangat cepat,’’ ungkapnya. (her/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/