alexametrics
29 C
Madiun
Thursday, June 30, 2022

Kopi Kare Cukup Diminati, Layak Diapresiasi

MADIUN – Setelah mengantongi hak paten awal tahun lalu, pemkab kembali memperjuangkan Kopi Kare agar memperoleh label standar nasional Indonesia (SNI). Kopi produksi kelompok Mugi Lestari itu pun juga diupayakan lekas mendapatkan label halal. ‘’Karena cukup diminati, jadi layak diapresiasi,’’ terang Kabid Perindustrian dan UMKM Disperdakop-UM Kabupaten Madiun Bambang Sudjiono.

Label SNI, lanjut Bambang, menjadi pengakuan berarti. Untuk melindungi produksi dari klaim daerah lain. Apalagi, produksinya kini mulai diborong coffe shop salah satu hotel berbintang di Kota Madiun. Pesanannya pun tembus Jambi, Sumatera; Tarakan dan Pontianak, Kalimantan, hingga beberapa kota di Sulawesi. ‘’Peminat meningkat, persaingan pun semakin ketat,’’ ujarnya.

Setelah menyelesaikan izin produksi industri rumah tangga (PIRT), Mugi Lestari mengajukan hak paten ke Disperdakop-UM, November 2018. Nama awal yang diajukan bukan Kopi Kare, melainkan Robusta Wilis. Namun, nama itu dipandang kurang bisa merepresentasikan produk Kabupaten Madiun. ‘’Wilis kan tidak hanya di Kabupaten Madiun saja,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Pakaian Dinas Dewan Baru Sedot Anggaran Rp 194 Juta

Belum lama ini, Disperdakop-UM mengajak petani kopi terkait studi ke Ciwidey, Bandung, Jabar. Di sana, mereka diajari perawatan tanaman dan pengolahan kopi. Kare memang disentralisasikan sebagai kawasan pengembangan kopi, meski banyak daerah dan kelompok tani lainnya. Pertimbangannya, kondisi geografis kebun kopi yang dekat dengan petaninya. ‘’Selain luas, anggotanya cukup banyak,’’ ujarnya. (fat/fin)

MADIUN – Setelah mengantongi hak paten awal tahun lalu, pemkab kembali memperjuangkan Kopi Kare agar memperoleh label standar nasional Indonesia (SNI). Kopi produksi kelompok Mugi Lestari itu pun juga diupayakan lekas mendapatkan label halal. ‘’Karena cukup diminati, jadi layak diapresiasi,’’ terang Kabid Perindustrian dan UMKM Disperdakop-UM Kabupaten Madiun Bambang Sudjiono.

Label SNI, lanjut Bambang, menjadi pengakuan berarti. Untuk melindungi produksi dari klaim daerah lain. Apalagi, produksinya kini mulai diborong coffe shop salah satu hotel berbintang di Kota Madiun. Pesanannya pun tembus Jambi, Sumatera; Tarakan dan Pontianak, Kalimantan, hingga beberapa kota di Sulawesi. ‘’Peminat meningkat, persaingan pun semakin ketat,’’ ujarnya.

Setelah menyelesaikan izin produksi industri rumah tangga (PIRT), Mugi Lestari mengajukan hak paten ke Disperdakop-UM, November 2018. Nama awal yang diajukan bukan Kopi Kare, melainkan Robusta Wilis. Namun, nama itu dipandang kurang bisa merepresentasikan produk Kabupaten Madiun. ‘’Wilis kan tidak hanya di Kabupaten Madiun saja,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dua OPD Berebut Gedung Perintis

Belum lama ini, Disperdakop-UM mengajak petani kopi terkait studi ke Ciwidey, Bandung, Jabar. Di sana, mereka diajari perawatan tanaman dan pengolahan kopi. Kare memang disentralisasikan sebagai kawasan pengembangan kopi, meski banyak daerah dan kelompok tani lainnya. Pertimbangannya, kondisi geografis kebun kopi yang dekat dengan petaninya. ‘’Selain luas, anggotanya cukup banyak,’’ ujarnya. (fat/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/