alexametrics
29.4 C
Madiun
Monday, July 4, 2022

Dulunya, Bogowonto Adalah Pusat Perekonomian di Era Kolonial Hindia-Belanda

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kawasan Jalan Bogowonto tak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Madiun. Di era kolonial Hindia-Belanda, ruas jalan di kawasan pecinan itu menjadi primadona perniagaan. Bahkan, disebut-sebut sebagai pusat perekonomian di Gemeente (Kota) Madioen.

Dulu, jalan tersebut bernama Nanking Straat. Kawasan ini memiliki fasilitas perniagaan dan moda transportasi yang mentereng pada zamannya. Ada Pasar Besar Madiun (PBM) yang berevolusi menjadi Pasar Kawak. Pun, dilintasi jalur kereta api (KA) jurusan Madiun-Ponorogo yang dibangun 1907 silam.

Di Jalan Bogowonto juga ada terminal bus. Tepatnya bangunan warna hijau (sekarang) milik Tuan Liem. ‘’Saat itu difungsikan untuk Toko Roti Liem dan terminal bus,’’ kata Andrik Supriyanto, salah seorang pegiat sejarah Historia van Madioen (HvM), Selasa (17/5).

Sejatinya, pusat perekonomian atau pecinan tidak hanya di Nanking Straat. Melainkan juga Shanghai Straat atau yang sekarang menjadi Jalan Kutai, lokasi Pasar Kawak. Kawasan tersebut mencakup hingga Simpang Empat Tugu. Saat itu, mayoritas toko milik etnis Tionghoa. ‘’Paling besar Toko Roti Liem. Selain usaha roti, dia juga memiliki perusahaan transportasi, yaitu Bus Liem,’’ ungkapnya seraya menyebut bangunan milik Tuan Liem menjadi salah satu peninggalan sejarah yang tersisa.

Karena memiliki bus, bangunan pribadi itu difungsikan sebagai terminal bus pada 1941. Terminal tersebut menggantikan atau relokasi terminal lama di selatan alun-alun Kota Madiun. Namun, direlokasi lagi di kawasan Sleko (sekarang Pasar Sleko). ‘’Bangunan pribadi Tuan Liem itu kalau diamati seperti bangunan yang dipangkas. Sebenarnya ada menaranya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Motor vs Motor, Kakek Tua Tewas

Kala itu, KA menjadi moda transportasi andalan masyarakat. Selain cepat, juga memiliki trayek jauh ke Ponorogo. Sebab, pada zamannya belum banyak warga memiliki alat transportasi pribadi.  ‘’Kereta itu sebagai angkutan penumpang dan barang hasil bumi. Pertengahan 1980-an rel tidak diaktifkan,’’ jelasnya.

Penonaktifan jalur KA Madiun-Ponorogo lantaran perkembangan zaman. Sebab, moda transportasi lain mulai bermunculan. Pun, sebagian warga telah memiliki kendaraan pribadi. ‘’Mungkin karena jumlah penumpang terus menurun dan trayeknya kurang panjang sehingga tidak diaktifkan,’’ ujarnya.

Andrik menilai langkah pemkot mengembalikan kawasan itu sebagai pusat perekonomian sangatlah tepat. Sayangnya, lanjut dia, pembangunan kawasan wisata kuliner dan edukasi kereta api masih jauh dari konsep tempo dulu. Salah satunya, penggunaan gerbong kereta statis modern di bekas rel kawasan  itu. ‘’Kalau bisa tidak menghilangkan sejarah, tidak mengubah warisan sejarah,’’ tuturnya.

Minimal, kata dia, ada wadah edukasi yang disediakan di kawasan tersebut. Mungkin semacam museum mini untuk mengenalkan sejarah aslinya kepada generasi penerus bangsa. ‘’Orang yang tidak tahu sejarah mungkin tidak ada masalah. Jadi, supaya tidak terkesan ada pembohongan sejarah,’’ ungkapnya. (ggi/c1/sat)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kawasan Jalan Bogowonto tak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Madiun. Di era kolonial Hindia-Belanda, ruas jalan di kawasan pecinan itu menjadi primadona perniagaan. Bahkan, disebut-sebut sebagai pusat perekonomian di Gemeente (Kota) Madioen.

Dulu, jalan tersebut bernama Nanking Straat. Kawasan ini memiliki fasilitas perniagaan dan moda transportasi yang mentereng pada zamannya. Ada Pasar Besar Madiun (PBM) yang berevolusi menjadi Pasar Kawak. Pun, dilintasi jalur kereta api (KA) jurusan Madiun-Ponorogo yang dibangun 1907 silam.

Di Jalan Bogowonto juga ada terminal bus. Tepatnya bangunan warna hijau (sekarang) milik Tuan Liem. ‘’Saat itu difungsikan untuk Toko Roti Liem dan terminal bus,’’ kata Andrik Supriyanto, salah seorang pegiat sejarah Historia van Madioen (HvM), Selasa (17/5).

Sejatinya, pusat perekonomian atau pecinan tidak hanya di Nanking Straat. Melainkan juga Shanghai Straat atau yang sekarang menjadi Jalan Kutai, lokasi Pasar Kawak. Kawasan tersebut mencakup hingga Simpang Empat Tugu. Saat itu, mayoritas toko milik etnis Tionghoa. ‘’Paling besar Toko Roti Liem. Selain usaha roti, dia juga memiliki perusahaan transportasi, yaitu Bus Liem,’’ ungkapnya seraya menyebut bangunan milik Tuan Liem menjadi salah satu peninggalan sejarah yang tersisa.

Karena memiliki bus, bangunan pribadi itu difungsikan sebagai terminal bus pada 1941. Terminal tersebut menggantikan atau relokasi terminal lama di selatan alun-alun Kota Madiun. Namun, direlokasi lagi di kawasan Sleko (sekarang Pasar Sleko). ‘’Bangunan pribadi Tuan Liem itu kalau diamati seperti bangunan yang dipangkas. Sebenarnya ada menaranya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Begini Kisah Heru Dasiman Jaga Perlintasan Kereta tanpa Palang Pintu

Kala itu, KA menjadi moda transportasi andalan masyarakat. Selain cepat, juga memiliki trayek jauh ke Ponorogo. Sebab, pada zamannya belum banyak warga memiliki alat transportasi pribadi.  ‘’Kereta itu sebagai angkutan penumpang dan barang hasil bumi. Pertengahan 1980-an rel tidak diaktifkan,’’ jelasnya.

Penonaktifan jalur KA Madiun-Ponorogo lantaran perkembangan zaman. Sebab, moda transportasi lain mulai bermunculan. Pun, sebagian warga telah memiliki kendaraan pribadi. ‘’Mungkin karena jumlah penumpang terus menurun dan trayeknya kurang panjang sehingga tidak diaktifkan,’’ ujarnya.

Andrik menilai langkah pemkot mengembalikan kawasan itu sebagai pusat perekonomian sangatlah tepat. Sayangnya, lanjut dia, pembangunan kawasan wisata kuliner dan edukasi kereta api masih jauh dari konsep tempo dulu. Salah satunya, penggunaan gerbong kereta statis modern di bekas rel kawasan  itu. ‘’Kalau bisa tidak menghilangkan sejarah, tidak mengubah warisan sejarah,’’ tuturnya.

Minimal, kata dia, ada wadah edukasi yang disediakan di kawasan tersebut. Mungkin semacam museum mini untuk mengenalkan sejarah aslinya kepada generasi penerus bangsa. ‘’Orang yang tidak tahu sejarah mungkin tidak ada masalah. Jadi, supaya tidak terkesan ada pembohongan sejarah,’’ ungkapnya. (ggi/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/