alexametrics
23.8 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Empat Napiter Lapas Madiun Enggan Berikrar NKRI

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Empat narapidana teroris (napiter) penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Madiun masih bertahan dengan keyakinannya. Hingga kini mereka belum bersedia mencabut baiat dan berikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mereka dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Yakni, SR, 35, asal Surakarta; JHW, 26, asal Sukabumi; AY, 27, dan HA, 24, asal Maluku Tengah. Keempatnya merupakan napiter layaran dari Lapas Gunung Sindur dan Rutan Kelas I Depok. ‘’Kami berupaya melakukan pendekatan emosional ke mereka,’’ kata Kalapas Kelas I Madiun Kunrat Kasmiri, Jumat (17/6).

Selain mereka, ada tiga napiter lain yang menjadi warga binaan (wabin) lapas di Jalan Yos Sudarso 100 Madiun itu. Namun, ketiganya sudah berikrar setia pada NKRI. Yakni, AR, 33, asal Surakarta; YT, 43, dan SJ, 53, asal Magetan.

Menurut Kunrat, upaya agar para napiter bersedia mencabut baiat tidak hanya dilakukan pihaknya. Melainkan juga melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan program deradikalisasinya. Termasuk melibatkan tokoh agama dan psikiater untuk memberikan pembinaan. ‘’Mereka itu yang rusak bukan fisiknya, tapi mental dan pola pikirnya,’’ ungkapnya.

Karena itu, pihaknya terus berupaya memberikan pengaruh emosional kepada keempat napiter tersebut. Harapannya, mereka paham dan mengerti bahwa apa yang dilakukan selama ini salah dan menyimpang dari ajaran agama. ‘’Kami beri pemahaman bahwa jihad itu bukan seperti yang mereka bayangkan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  1.190 Warga Binaan Lapas Pemuda Madiun Terima Remisi Kemerdekaan

Dengan pembinaan dan pendekatan itu, saat ini empat napiter tersebut sudah mau berbaur dengan wabin lain. Seperti salat berjemaah di masjid lapas. Pun, pihaknya mengajak mereka sharing mengenai sejumlah masalah keluarga dan sosial. ‘’Kami sentuh hatinya. Mudah-mudahan mereka segera sadar dan kembali ke NKRI,’’ tutur mantan kepala Rutan Tanjungpinang itu.

Keempat napiter menempati sel terpisah. Bahkan, komunikasi antarsesama napiter diawasi. ‘’Kalau berbicara keyakinan dan itu didukung lingkungan, tentu akan sulit memengaruhi mereka. Berbeda kalau lingkungannya tidak mendukung. Kami coba cara seperti itu dengan memberi pengaruh sedikit demi sedikit,’’ terangnya.

Kunrat menjelaskan, ikrar setia pada NKRI bukan menjadi syarat utama napiter bisa bebas. Ketika masa pidananya selesai, mereka tetap bebas dari penjara. Namun, pengawasan mantan napiter saat sudah membaur dengan masyarakat diserahkan BNPT. ‘’Jadi, bukan tanggung jawab kami ketika mereka sudah bebas. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya mereka tetap diawasi BNPT,’’ bebernya. (her/c1/sat)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Empat narapidana teroris (napiter) penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Madiun masih bertahan dengan keyakinannya. Hingga kini mereka belum bersedia mencabut baiat dan berikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mereka dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Yakni, SR, 35, asal Surakarta; JHW, 26, asal Sukabumi; AY, 27, dan HA, 24, asal Maluku Tengah. Keempatnya merupakan napiter layaran dari Lapas Gunung Sindur dan Rutan Kelas I Depok. ‘’Kami berupaya melakukan pendekatan emosional ke mereka,’’ kata Kalapas Kelas I Madiun Kunrat Kasmiri, Jumat (17/6).

Selain mereka, ada tiga napiter lain yang menjadi warga binaan (wabin) lapas di Jalan Yos Sudarso 100 Madiun itu. Namun, ketiganya sudah berikrar setia pada NKRI. Yakni, AR, 33, asal Surakarta; YT, 43, dan SJ, 53, asal Magetan.

Menurut Kunrat, upaya agar para napiter bersedia mencabut baiat tidak hanya dilakukan pihaknya. Melainkan juga melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan program deradikalisasinya. Termasuk melibatkan tokoh agama dan psikiater untuk memberikan pembinaan. ‘’Mereka itu yang rusak bukan fisiknya, tapi mental dan pola pikirnya,’’ ungkapnya.

Karena itu, pihaknya terus berupaya memberikan pengaruh emosional kepada keempat napiter tersebut. Harapannya, mereka paham dan mengerti bahwa apa yang dilakukan selama ini salah dan menyimpang dari ajaran agama. ‘’Kami beri pemahaman bahwa jihad itu bukan seperti yang mereka bayangkan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Ramadan, Warga Binaan Rutan Pacitan Rajin Tilawatil Alquran

Dengan pembinaan dan pendekatan itu, saat ini empat napiter tersebut sudah mau berbaur dengan wabin lain. Seperti salat berjemaah di masjid lapas. Pun, pihaknya mengajak mereka sharing mengenai sejumlah masalah keluarga dan sosial. ‘’Kami sentuh hatinya. Mudah-mudahan mereka segera sadar dan kembali ke NKRI,’’ tutur mantan kepala Rutan Tanjungpinang itu.

Keempat napiter menempati sel terpisah. Bahkan, komunikasi antarsesama napiter diawasi. ‘’Kalau berbicara keyakinan dan itu didukung lingkungan, tentu akan sulit memengaruhi mereka. Berbeda kalau lingkungannya tidak mendukung. Kami coba cara seperti itu dengan memberi pengaruh sedikit demi sedikit,’’ terangnya.

Kunrat menjelaskan, ikrar setia pada NKRI bukan menjadi syarat utama napiter bisa bebas. Ketika masa pidananya selesai, mereka tetap bebas dari penjara. Namun, pengawasan mantan napiter saat sudah membaur dengan masyarakat diserahkan BNPT. ‘’Jadi, bukan tanggung jawab kami ketika mereka sudah bebas. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya mereka tetap diawasi BNPT,’’ bebernya. (her/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/