alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Heroisme Rakyat Madiun Tercatat dengan Tinta Emas dalam Sejarah

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Hari ini tepat 77 tahun bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Bagaimana reaksi masyarakat Madiun mengetahui Indonesia secara resmi berdiri sebagai sebuah negara merdeka pada 77 tahun silam?

Septian Dwita Kharisma, seorang pemerhati sejarah, menyebutkan bahwa masyarakat Madiun baru mendengar kabar Indonesia telah merdeka pada 18 Agustus 1945. Kabar itu lantas disebarluaskan oleh kalangan pelajar dan pemerintah daerah melalui siaran radio. ‘’Yang pertama menyiarkan adalah radio di gedung sekolah,’’ ujarnya, Rabu (17/8).

Seketika yel-yel ’’merdeka’’ menggema di seantero kota. Ribuan warga Madiun berbondong-bondong menuju Jalan Pahlawan dan membuat parade sambil mengusung Sang Saka Merah Putih. ‘’Mereka berteriak merdeka, merdeka!’’ imbuh Septian.

Sebulan berselang, lanjut ketua Histori Van Madiun itu, pasukan Indonesia yang dikomandoi Pembela Tanah Air (Peta) mendesak tentara Jepang yang bermarkas di Jalan Pahlawan dan Diponegoro agar menyerahkan senjata.

Mereka dibantu rakyat dengan berbekal senjata seadanya seperti bambu runcing, arit, dan, kelewang. ‘’Tapi, tentara Jepang tetap tidak mau menyerahkan senjatanya. Akhirnya Ronggo Kusnindar, bupati Madiun saat itu, mencoba bernegosiasi,’’ bebernya.

Baca Juga :  Komunitas Ikan Hias Pamer Koleksi di Mal

Negosiasi itu membuahkan hasil. Tentara Jepang akhirnya menyerahkan senjatanya. Kemudian, senjata tersebut dibagikan kepada laskar bentukan rakyat dan pelajar. ‘’Ada BKR (Barisan Keamanan Rakyat), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), dan TGP (Tentara Genie Pelajar),’’ tuturnya.

Septian menjelaskan, pada 1947 terjadi agresi militer Belanda. Kala itu, rakyat Madiun berperan penting dalam men-support persenjataan dan logistik berupa makanan dan kebutuhan pokok. ‘’Kemudian, pada Desember 1948 terjadi Agresi Militer II yang mendapat perlawanan para gerilyawan yang bermarkas di sekitar Gunung Wilis,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, heroisme rakyat Madiun saat agresi militer Belanda diwujudkan dengan pembangunan patung Banteng Ketaton di depan Stadion Wilis pada 1947 yang digagas Presiden Soekarno. ‘’Banteng itu kalau terluka akan berontak tanpa rasa takut,’’ ujarnya. (mg4/c1/isd)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Hari ini tepat 77 tahun bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Bagaimana reaksi masyarakat Madiun mengetahui Indonesia secara resmi berdiri sebagai sebuah negara merdeka pada 77 tahun silam?

Septian Dwita Kharisma, seorang pemerhati sejarah, menyebutkan bahwa masyarakat Madiun baru mendengar kabar Indonesia telah merdeka pada 18 Agustus 1945. Kabar itu lantas disebarluaskan oleh kalangan pelajar dan pemerintah daerah melalui siaran radio. ‘’Yang pertama menyiarkan adalah radio di gedung sekolah,’’ ujarnya, Rabu (17/8).

Seketika yel-yel ’’merdeka’’ menggema di seantero kota. Ribuan warga Madiun berbondong-bondong menuju Jalan Pahlawan dan membuat parade sambil mengusung Sang Saka Merah Putih. ‘’Mereka berteriak merdeka, merdeka!’’ imbuh Septian.

Sebulan berselang, lanjut ketua Histori Van Madiun itu, pasukan Indonesia yang dikomandoi Pembela Tanah Air (Peta) mendesak tentara Jepang yang bermarkas di Jalan Pahlawan dan Diponegoro agar menyerahkan senjata.

Mereka dibantu rakyat dengan berbekal senjata seadanya seperti bambu runcing, arit, dan, kelewang. ‘’Tapi, tentara Jepang tetap tidak mau menyerahkan senjatanya. Akhirnya Ronggo Kusnindar, bupati Madiun saat itu, mencoba bernegosiasi,’’ bebernya.

Baca Juga :  Hadirkan Nuansa Makkah-Madinah

Negosiasi itu membuahkan hasil. Tentara Jepang akhirnya menyerahkan senjatanya. Kemudian, senjata tersebut dibagikan kepada laskar bentukan rakyat dan pelajar. ‘’Ada BKR (Barisan Keamanan Rakyat), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), dan TGP (Tentara Genie Pelajar),’’ tuturnya.

Septian menjelaskan, pada 1947 terjadi agresi militer Belanda. Kala itu, rakyat Madiun berperan penting dalam men-support persenjataan dan logistik berupa makanan dan kebutuhan pokok. ‘’Kemudian, pada Desember 1948 terjadi Agresi Militer II yang mendapat perlawanan para gerilyawan yang bermarkas di sekitar Gunung Wilis,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, heroisme rakyat Madiun saat agresi militer Belanda diwujudkan dengan pembangunan patung Banteng Ketaton di depan Stadion Wilis pada 1947 yang digagas Presiden Soekarno. ‘’Banteng itu kalau terluka akan berontak tanpa rasa takut,’’ ujarnya. (mg4/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/