alexametrics
24.1 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Kecelakaan, Satu Jam Terkapar di Jalan Menanti Ambulans

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Mohammad Ilham meringis kesakitan. Usai kecelakaan sekitar pukul 21.57 Selasa malam (15/9), dia terduduk lemas di tengah Jalan Salak. Tangannya memegangi paha kanan menahan sakit karena tulang di atas pergelangan kakinya tampak bengkok. Wajahnya berlumuran darah dan tangannya penuh luka. Tak ada yang berani mendekat. Warga pilih menantikan datangnya ambulans susulan. ‘’Ambulans yang pertama sudah datang, tapi muat satu orang,’’ kata Jehan Sandy Cahya Ramadhan, saksi kejadian asal Jalan Tuntang.

Ambulans dari Puskesmas Banjarejo terlebih dahulu mengevakuasi Farid Ragil Ardianto yang mengalami luka lebih parah. Karena itu, Ilham sempat ditinggalkan. Setelah lewat satu jam, ambulans susulan kembali datang untuk mengevakuasi Ilham ke rumah sakit terdekat.

Kanit Laka Lantas Polres Madiun Kota Iptu Tri Wiyono mengungkapkan, kronologi kecelakaan berawal saat Farid dan Ilham berboncengan melaju dari arah timur mengendarai sepeda motor Suzuki Smash AE 3009 BC. Saat hendak menyalip mobil pikap di depannya, melaju Honda Supra X 150 AE 5370 CJ yang dikendarai Azrul Fajar Maulana. ‘’Kedua motor itu adu moncong,’’ terangnya.

Baca Juga :  Ketua Fraksi Demokrat Bersatu DPRD Kota Madiun Meninggal

Farid dan Ilham terpental di bawah mobil pikap. Sementara Azrul terpental ke selatan dekat saluran air. Kedua motor mengalami kerusakan parah dan telah diamankan di mapolres. ‘’Mobil muatan tidak terlibat. Kecelakaan murni kelalaian pengendara motor yang tidak memastikan kondisi di depan saat mendahului pikap,’’ ujarnya.

Wali Kota Madiun Maidi menekankan persoalan emergency menjadi prioritas utama. Dalam kondisi darurat, Maidi meminta ambulans Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Kota Madiun segera menuju lokasi guna memberikan penanganan. ‘’Emergency menjadi prioritas utama dan harus segera mendapatkan pertolongan,’’ tegasnya.

Maidi menuturkan, personel yang piket saat itu seharusnya berangkat jika terjadi keadaan darurat. Termasuk personel yang membantu seperti relawan PMI. ‘’Tidak berani bertindak tanpa perintah atasan, pola itu tidak ada. Hari itu yang piket darurat langsung jalan, kecuali untuk ke luar kota. Kalau hanya (penanganan) dalam kota, PMI sudah dedikasi bertugas untuk masyarakat,’’ sebutnya. (kid/c1/fin)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Mohammad Ilham meringis kesakitan. Usai kecelakaan sekitar pukul 21.57 Selasa malam (15/9), dia terduduk lemas di tengah Jalan Salak. Tangannya memegangi paha kanan menahan sakit karena tulang di atas pergelangan kakinya tampak bengkok. Wajahnya berlumuran darah dan tangannya penuh luka. Tak ada yang berani mendekat. Warga pilih menantikan datangnya ambulans susulan. ‘’Ambulans yang pertama sudah datang, tapi muat satu orang,’’ kata Jehan Sandy Cahya Ramadhan, saksi kejadian asal Jalan Tuntang.

Ambulans dari Puskesmas Banjarejo terlebih dahulu mengevakuasi Farid Ragil Ardianto yang mengalami luka lebih parah. Karena itu, Ilham sempat ditinggalkan. Setelah lewat satu jam, ambulans susulan kembali datang untuk mengevakuasi Ilham ke rumah sakit terdekat.

Kanit Laka Lantas Polres Madiun Kota Iptu Tri Wiyono mengungkapkan, kronologi kecelakaan berawal saat Farid dan Ilham berboncengan melaju dari arah timur mengendarai sepeda motor Suzuki Smash AE 3009 BC. Saat hendak menyalip mobil pikap di depannya, melaju Honda Supra X 150 AE 5370 CJ yang dikendarai Azrul Fajar Maulana. ‘’Kedua motor itu adu moncong,’’ terangnya.

Baca Juga :  Sentuh Garis Merah, Sirine Kali Madiun Berbunyi

Farid dan Ilham terpental di bawah mobil pikap. Sementara Azrul terpental ke selatan dekat saluran air. Kedua motor mengalami kerusakan parah dan telah diamankan di mapolres. ‘’Mobil muatan tidak terlibat. Kecelakaan murni kelalaian pengendara motor yang tidak memastikan kondisi di depan saat mendahului pikap,’’ ujarnya.

Wali Kota Madiun Maidi menekankan persoalan emergency menjadi prioritas utama. Dalam kondisi darurat, Maidi meminta ambulans Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Kota Madiun segera menuju lokasi guna memberikan penanganan. ‘’Emergency menjadi prioritas utama dan harus segera mendapatkan pertolongan,’’ tegasnya.

Maidi menuturkan, personel yang piket saat itu seharusnya berangkat jika terjadi keadaan darurat. Termasuk personel yang membantu seperti relawan PMI. ‘’Tidak berani bertindak tanpa perintah atasan, pola itu tidak ada. Hari itu yang piket darurat langsung jalan, kecuali untuk ke luar kota. Kalau hanya (penanganan) dalam kota, PMI sudah dedikasi bertugas untuk masyarakat,’’ sebutnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/