alexametrics
30.1 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Jamur Subur, Dompet Tak Menjamur

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun- Bisnis budidaya jamur tiram bisa menjadi pilihan menarik. Pasalnya banyak manfaat yang didapat dari budidaya jamur tiram, selain keuntungannya yang berlimpah juga  mampu menurunkan kolestrol dan mampu mencegah penyakit kanker. Hal inilah yang dilirik Tim Dosen dari Politeknik Negeri Madiun yang diketuai oleh Hanum Arrosida. Bersama dua anggotanya yakni Albert Sudaryanto dan Sulfan Bagus Setyawan. “Kegiatan yang dilaksanakan  berupa penguraian  masalah  yang dialami  petani jamur yang dibantu oleh  Irfan, Aryan dan Munirul, ujar Hanum.

Lebih lanjut Hanum menambahkan, pelaksanaan program Produk Teknologi yang di diseminasikan Kepada Masyarakat merupakan progam yang dibiayai penuh oleh Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan-KEMENRISTEKDIKTI. Kegiatan yang berhasil  dilaksanakan berupa penereapan teknologi untuk mengatasi permasalahan petani jamur tiram. Permasalahan pada budidaya konvensional berhasil diatasi dengan “Smart Plant House Pada Budidaya Jamur Tiram Berbasis Internet Of Things” mekanisme alat yang secara keseluruhan bekerja secara otomatis menjadikan petani jamur di daerah bantengan sangat terbantu. “Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Bantengan Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun mulai Mei hingga Desember mendatang. Pun kami menjalin kerjasama dengan mitra,” lanjutnya.

Mitra I (Jamur AE) yaitu Agus, menyatakan selama budidaya dengan cara kovensional hasil panen jamur tiram untuk 800 baglog bisa panen 3-4 kg dengan adanya alat ini bisa panen 7-8 kg yaitu hampir 2 kali lipatnya. Selain itu, perawatan jamur pada kondisi cuaca ekstrim seperti saat ini, jika menggunakan metode konvensional (tanpa alat otomatis) akan sedikit menyulitkan karena harus melakukan penyiraman 3 kali sehari dan peyemprotan baglog satu persatu pada permukaan atas agar jamur yang dihasilkan bagus. Budidaya jamur dengan cara konvensional tentu sangat menyulitkan dan membutuhkan tenaga yang besar. “Dengan adanya alat “oysteriot” dengan mekanisme pengaturan suhu dan kelembaban secara otomatis mampu menghasilkan jamur yang bagus, subur dan meningkatkan hasil panen,” urainya.

Baca Juga :  PPKM Level 4 Diperpanjang, Penyekatan Kota Madiun Kembali Dibuka

Dengan kondisi kumbung jamur yang suhunya dingin dan kondisi kelembabannya terjaga tentunya meminimalkan hama dapat hidup, sehingga jamur dapat tumbuh dengan subur. Teknologi yang diterapkan pada smart plant house adalah pengendalian dan monitoring suhu serta kelembapan menggunakan mekanisme pengkabutan ruangan yang hemat energi. Daya yang dibutuhkan untuk pengoperasian alat ini sekitar 120 Watt, dan itupun tidak bekerja terus menerus karena alatnya bisa nyala dan mati secara otomatis berdasarkan pembacaan suhu dan kelembaban ruangan oleh sensor. “Tentunya hemat energy”. paparnya.

 Biaya untuk pembayaran listrik murah, panen meningkat yang secara langsung juga meningkatkan kesejahteraan petani jamur dan memenuhi kebutuhan jamur sebagai bahan pangan masyarakat. Adanya fitur Internet of Things tentunya memberikan nilai lebih dari produk teknologi ini. Mitra II (Abadi Jamur Tiram) yaitu David, menambahkan, alat ini cocok untuk digunakan petani jamur yang ingin terus budidaya di segala musim baik musim kemarau maupun penghujan karena alatnya bekerja secara otomatis dan kondisi kumbung dapat dipantau dalam jarak jauh secara real-time tanpa harus datang ke kumbung. “Dengan demikian lebih hemat tenaga, hemat biaya, panen maksimal dan meningkatkan taraf perekonomian petani jamur,”. (afi/adv/bar)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun- Bisnis budidaya jamur tiram bisa menjadi pilihan menarik. Pasalnya banyak manfaat yang didapat dari budidaya jamur tiram, selain keuntungannya yang berlimpah juga  mampu menurunkan kolestrol dan mampu mencegah penyakit kanker. Hal inilah yang dilirik Tim Dosen dari Politeknik Negeri Madiun yang diketuai oleh Hanum Arrosida. Bersama dua anggotanya yakni Albert Sudaryanto dan Sulfan Bagus Setyawan. “Kegiatan yang dilaksanakan  berupa penguraian  masalah  yang dialami  petani jamur yang dibantu oleh  Irfan, Aryan dan Munirul, ujar Hanum.

Lebih lanjut Hanum menambahkan, pelaksanaan program Produk Teknologi yang di diseminasikan Kepada Masyarakat merupakan progam yang dibiayai penuh oleh Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan-KEMENRISTEKDIKTI. Kegiatan yang berhasil  dilaksanakan berupa penereapan teknologi untuk mengatasi permasalahan petani jamur tiram. Permasalahan pada budidaya konvensional berhasil diatasi dengan “Smart Plant House Pada Budidaya Jamur Tiram Berbasis Internet Of Things” mekanisme alat yang secara keseluruhan bekerja secara otomatis menjadikan petani jamur di daerah bantengan sangat terbantu. “Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Bantengan Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun mulai Mei hingga Desember mendatang. Pun kami menjalin kerjasama dengan mitra,” lanjutnya.

Mitra I (Jamur AE) yaitu Agus, menyatakan selama budidaya dengan cara kovensional hasil panen jamur tiram untuk 800 baglog bisa panen 3-4 kg dengan adanya alat ini bisa panen 7-8 kg yaitu hampir 2 kali lipatnya. Selain itu, perawatan jamur pada kondisi cuaca ekstrim seperti saat ini, jika menggunakan metode konvensional (tanpa alat otomatis) akan sedikit menyulitkan karena harus melakukan penyiraman 3 kali sehari dan peyemprotan baglog satu persatu pada permukaan atas agar jamur yang dihasilkan bagus. Budidaya jamur dengan cara konvensional tentu sangat menyulitkan dan membutuhkan tenaga yang besar. “Dengan adanya alat “oysteriot” dengan mekanisme pengaturan suhu dan kelembaban secara otomatis mampu menghasilkan jamur yang bagus, subur dan meningkatkan hasil panen,” urainya.

Baca Juga :  Gencar Sterilisasi sebagai Edukasi Disiplin Prokes

Dengan kondisi kumbung jamur yang suhunya dingin dan kondisi kelembabannya terjaga tentunya meminimalkan hama dapat hidup, sehingga jamur dapat tumbuh dengan subur. Teknologi yang diterapkan pada smart plant house adalah pengendalian dan monitoring suhu serta kelembapan menggunakan mekanisme pengkabutan ruangan yang hemat energi. Daya yang dibutuhkan untuk pengoperasian alat ini sekitar 120 Watt, dan itupun tidak bekerja terus menerus karena alatnya bisa nyala dan mati secara otomatis berdasarkan pembacaan suhu dan kelembaban ruangan oleh sensor. “Tentunya hemat energy”. paparnya.

 Biaya untuk pembayaran listrik murah, panen meningkat yang secara langsung juga meningkatkan kesejahteraan petani jamur dan memenuhi kebutuhan jamur sebagai bahan pangan masyarakat. Adanya fitur Internet of Things tentunya memberikan nilai lebih dari produk teknologi ini. Mitra II (Abadi Jamur Tiram) yaitu David, menambahkan, alat ini cocok untuk digunakan petani jamur yang ingin terus budidaya di segala musim baik musim kemarau maupun penghujan karena alatnya bekerja secara otomatis dan kondisi kumbung dapat dipantau dalam jarak jauh secara real-time tanpa harus datang ke kumbung. “Dengan demikian lebih hemat tenaga, hemat biaya, panen maksimal dan meningkatkan taraf perekonomian petani jamur,”. (afi/adv/bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/