alexametrics
24.2 C
Madiun
Friday, May 27, 2022

Persaingan Jasa Wedding Photography Semakin Ketat

DOLOPO, Jawa Pos Radar Madiun – Bisnis wedding photography kini semakin kompetitif seiring menjamurnya penyedia jasa foto dokumentasi pernikahan. Termasuk mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) imbas pandemi Covid-19. ”Dua tahun terakhir ini di Kabupaten Madiun semakin banyak penyedia jasa foto wedding,” ujar Fatkur Rohman, seorang profesional wedding photographer di Dolopo, Selasa (18/1/2022).

Hal yang disayangkan Fatkur, sejumlah pemain baru mematok tarif di bawah harga pasaran. Jika tarif normal minimal Rp 1,5 juta, mereka menawarkan Rp 1 jutaan. Akibatnya, banyak pemain lama yang kesulitan mendapatkan klien.

Kendati demikian, kata dia, faktor harga bukan satu-satunya pertimbangan konsumen. Tidak sedikit klien yang mengutamakan kualitas jepretan dan pelayanan. ”Kami juga memberikan kesempatan bagi klien untuk konsultasi. Karena pernikahan adalah momen sakral,” ungkapnya.

Baca Juga :  Seorang Pekerja Migran Asal Madiun Diduga Terinfeksi Omicron

Aspek pelayanan tersebut, lanjut Fatkur, termasuk attitude kru di lapangan. Baik cara berkomunikasi, bersikap, maupun disiplin waktu. Sedangkan dari sisi tarif, dia memberikan potongan Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. ”Kami mematok tarif Rp 2 jutaan untuk paket foto pernikahan,” katanya.

Dia menyayangkan saat ini di Madiun belum ada komunitas pelaku bisnis wedding photography. Padahal, menurut dia, adanya wadah tersebut bisa menjaga stabilitas tarif. ‘’Sehingga tidak terjadi perang harga antara satu dengan yang lain,’’ sebutnya. (rio/c1/isd)

DOLOPO, Jawa Pos Radar Madiun – Bisnis wedding photography kini semakin kompetitif seiring menjamurnya penyedia jasa foto dokumentasi pernikahan. Termasuk mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) imbas pandemi Covid-19. ”Dua tahun terakhir ini di Kabupaten Madiun semakin banyak penyedia jasa foto wedding,” ujar Fatkur Rohman, seorang profesional wedding photographer di Dolopo, Selasa (18/1/2022).

Hal yang disayangkan Fatkur, sejumlah pemain baru mematok tarif di bawah harga pasaran. Jika tarif normal minimal Rp 1,5 juta, mereka menawarkan Rp 1 jutaan. Akibatnya, banyak pemain lama yang kesulitan mendapatkan klien.

Kendati demikian, kata dia, faktor harga bukan satu-satunya pertimbangan konsumen. Tidak sedikit klien yang mengutamakan kualitas jepretan dan pelayanan. ”Kami juga memberikan kesempatan bagi klien untuk konsultasi. Karena pernikahan adalah momen sakral,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pasca Bocah Tenggelam, Pihak Madiun Umbul Square Janji Perketat Pengawasan

Aspek pelayanan tersebut, lanjut Fatkur, termasuk attitude kru di lapangan. Baik cara berkomunikasi, bersikap, maupun disiplin waktu. Sedangkan dari sisi tarif, dia memberikan potongan Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. ”Kami mematok tarif Rp 2 jutaan untuk paket foto pernikahan,” katanya.

Dia menyayangkan saat ini di Madiun belum ada komunitas pelaku bisnis wedding photography. Padahal, menurut dia, adanya wadah tersebut bisa menjaga stabilitas tarif. ‘’Sehingga tidak terjadi perang harga antara satu dengan yang lain,’’ sebutnya. (rio/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/