alexametrics
26.3 C
Madiun
Monday, May 16, 2022

Jangan Sampai Kejadian di Sewulan Terulang

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kasus penolakan yang sempat dialami oleh para tenaga medis ketika menjemput pasien positif Covid-19 di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, beberapa hari lalu perlu menjadi pembelajaran bersama. Bahwa penanganan kasus korona dibutuhkan kesadaran diri dari pihak keluarga maupun pasien itu sendiri. Sekalipun yang bersangkutan mengaku sehat. ‘’Kejadian seperti itu karena kurangnya pemahaman di masyarakat,’’ kata Direktur RSUD Dolopo Purnomo Hadi Minggu (17/5).

Menurutnya, hal semacam itu tidak perlu terjadi apabila masyarakat memahami dampak penyebaran Covid-19. ‘’Pasien suspect saja sudah berpotensi menularkan, apalagi yang sudah positif melalaui uji swab,’’ imbuh Purnomo.

Saat ini pasien berusia 18 tahun tersebut telah mendapatkan perawatan medis di RSUD Dolopo. Kesehatannya dipantau secara berkala seperti pasien positif Covid-19 lainnya. ‘’Covid-19 bukan merupakan penyakit aib. Masyarakat jangan berpikir diskriminatif,’’ pintanya.

Baca Juga :  Irfan Afifi dan Perjalanan Pencarian Jati Dirinya

Pada kasus di Sewulan, kata Purnomo, diperlukan kesadaran dari warga sekitar untuk terus memberikan dukungan moral kepada keluarga pasien. Dengan begitu, psikologi mereka tidak sampai tertekan. ‘’Paling tidak jangan mendiskriminasi pasien dan keluarganya,’’ tegas Purnomo.

Dia menerangkan, dalam perkembangan penanganan kasus Covid-19, pasien positif sebenarnya bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Tapi, pihaknya tidak dapat menjamin proses pengawasannya secara rutin. Berbeda apabila pasien diisolasi di rumah sakit, kesehatannya dapat dikontrol dengan mudah. Karena tenaga kesehatannya cukup dan fasilitasnya lengkap. ‘’Kalau dirawat di rumah sakit, setiap hari ada petugas yang menganalisis perkembangan serta keperluan kesembuhan yang lain,’’ ungkapnya. (den/c1/her)

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kasus penolakan yang sempat dialami oleh para tenaga medis ketika menjemput pasien positif Covid-19 di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, beberapa hari lalu perlu menjadi pembelajaran bersama. Bahwa penanganan kasus korona dibutuhkan kesadaran diri dari pihak keluarga maupun pasien itu sendiri. Sekalipun yang bersangkutan mengaku sehat. ‘’Kejadian seperti itu karena kurangnya pemahaman di masyarakat,’’ kata Direktur RSUD Dolopo Purnomo Hadi Minggu (17/5).

Menurutnya, hal semacam itu tidak perlu terjadi apabila masyarakat memahami dampak penyebaran Covid-19. ‘’Pasien suspect saja sudah berpotensi menularkan, apalagi yang sudah positif melalaui uji swab,’’ imbuh Purnomo.

Saat ini pasien berusia 18 tahun tersebut telah mendapatkan perawatan medis di RSUD Dolopo. Kesehatannya dipantau secara berkala seperti pasien positif Covid-19 lainnya. ‘’Covid-19 bukan merupakan penyakit aib. Masyarakat jangan berpikir diskriminatif,’’ pintanya.

Baca Juga :  Ratusan Penghuni Lapas Akhirnya Bisa Nyoblos

Pada kasus di Sewulan, kata Purnomo, diperlukan kesadaran dari warga sekitar untuk terus memberikan dukungan moral kepada keluarga pasien. Dengan begitu, psikologi mereka tidak sampai tertekan. ‘’Paling tidak jangan mendiskriminasi pasien dan keluarganya,’’ tegas Purnomo.

Dia menerangkan, dalam perkembangan penanganan kasus Covid-19, pasien positif sebenarnya bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Tapi, pihaknya tidak dapat menjamin proses pengawasannya secara rutin. Berbeda apabila pasien diisolasi di rumah sakit, kesehatannya dapat dikontrol dengan mudah. Karena tenaga kesehatannya cukup dan fasilitasnya lengkap. ‘’Kalau dirawat di rumah sakit, setiap hari ada petugas yang menganalisis perkembangan serta keperluan kesembuhan yang lain,’’ ungkapnya. (den/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/