alexametrics
27.6 C
Madiun
Wednesday, June 29, 2022

Cegah Stunting, Pemkot Madiun Optimalkan Peran Kakek-Nenek Asuh

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemkot Madiun. Pasalnya, berdasarkan hasil survei status gizi balita Indonesia yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pravelensi angka kasus stunting di Kota Madiun pada 2021 menunjukkan 12,4 persen.

Wali Kota Maidi mengatakan pravelensi kasus balita gizi buruk di Kota Pendekar itu sebetulnya masih di bawah angka nasional (24,4 persen) dan Jatim (23,5 persen). Tadi, dia berharap angka itu masih bisa terus ditekan. ‘’Itu akan saya turunkan lagi menjadi 6–7 persen,’’ katanya, Rabu (19/5).

Demi menurunkan angka tersebut, pihaknya mendorong peran serta kakek-nenek asuh. Mereka sengaja dilibatkan karena beberapa anak usia 0–12 tahun di Kota Madiun telah berstatus yatim-piatu. ‘’Dari sinilah gerakan-gerakan ini dilakukan tidak hanya dinas kesehatan (dinkes) dan orang tua anak, tetapi kakek-nenek juga diajak merawat kesehatan cucunya,’’ terang Maidi.

Dihadapan para orang lanjut usia (lansia) di acara penanganan stunting yang digelar dinas kesehatan, perlindungan perempuan dan keluarga berencana (dinkes-PPKB), wali kota mengaku masalah stunting dipicu karena faktor kemiskinan. Namun, Maidi menambahkan, stunting juga disebabkan pola keluarga dalam mengambil keputusan soal jumlah anak.

Baca Juga :  Suroan dan Suran Agung Dialihkan Bakti Sosial
Wali Kota Madiun Maidi

Karena itu, dia berharap program dua anak dalam sebuah keluarga sudah cukup. ‘’Bayangkan, orang tuanya sudah nggak mampu tapi anaknya lebih dari 3–4. Nah, itu tentu akan membebani ekonomi. Sehingga, erat kaitannya juga dengan pola asuh dalam pemenuhan gizi anak,’’ jelas mantan Sekda Kota Madiun itu.

Di lain sisi, Maidi meminta puskesmas maupun petugas posyandu proaktif menjaring warga yang anaknya masih mengalami stunting. Mereka diberi edukasi pengolahan makanan dan diimbau untuk rutin konsultasi gizi. ‘’Contoh gampangnya, anak makan nggak habis, yang habiskan justru malah orang tuanya. Kadang orang tua nggak ngerti itu, jadinya dibiarkan saja. Yang penting, anak bisa bergerak dan beraktivitas,’’ paparnya.

Pemkot sebenarnya juga sudah memiliki tim pendampingan keluarga di masing-masing kelurahan. Mereka terdiri atas bidan, kader KB, dan kader PKK. Mereka fokus untuk mendampingi keluarga-keluarga yang berisiko stunting. ‘’Kami juga menggandeng dari pihak Universitas Airlangga (Unair) untuk melakukan pendampingan dalam penanganan dan pencegahan kasus stunting di Kota Madiun,’’ kata Maidi. (her/adv)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemkot Madiun. Pasalnya, berdasarkan hasil survei status gizi balita Indonesia yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pravelensi angka kasus stunting di Kota Madiun pada 2021 menunjukkan 12,4 persen.

Wali Kota Maidi mengatakan pravelensi kasus balita gizi buruk di Kota Pendekar itu sebetulnya masih di bawah angka nasional (24,4 persen) dan Jatim (23,5 persen). Tadi, dia berharap angka itu masih bisa terus ditekan. ‘’Itu akan saya turunkan lagi menjadi 6–7 persen,’’ katanya, Rabu (19/5).

Demi menurunkan angka tersebut, pihaknya mendorong peran serta kakek-nenek asuh. Mereka sengaja dilibatkan karena beberapa anak usia 0–12 tahun di Kota Madiun telah berstatus yatim-piatu. ‘’Dari sinilah gerakan-gerakan ini dilakukan tidak hanya dinas kesehatan (dinkes) dan orang tua anak, tetapi kakek-nenek juga diajak merawat kesehatan cucunya,’’ terang Maidi.

Dihadapan para orang lanjut usia (lansia) di acara penanganan stunting yang digelar dinas kesehatan, perlindungan perempuan dan keluarga berencana (dinkes-PPKB), wali kota mengaku masalah stunting dipicu karena faktor kemiskinan. Namun, Maidi menambahkan, stunting juga disebabkan pola keluarga dalam mengambil keputusan soal jumlah anak.

Baca Juga :  Tiga Bulan, 50 Kasus DBD Terdeteksi di Kota Madiun
Wali Kota Madiun Maidi

Karena itu, dia berharap program dua anak dalam sebuah keluarga sudah cukup. ‘’Bayangkan, orang tuanya sudah nggak mampu tapi anaknya lebih dari 3–4. Nah, itu tentu akan membebani ekonomi. Sehingga, erat kaitannya juga dengan pola asuh dalam pemenuhan gizi anak,’’ jelas mantan Sekda Kota Madiun itu.

Di lain sisi, Maidi meminta puskesmas maupun petugas posyandu proaktif menjaring warga yang anaknya masih mengalami stunting. Mereka diberi edukasi pengolahan makanan dan diimbau untuk rutin konsultasi gizi. ‘’Contoh gampangnya, anak makan nggak habis, yang habiskan justru malah orang tuanya. Kadang orang tua nggak ngerti itu, jadinya dibiarkan saja. Yang penting, anak bisa bergerak dan beraktivitas,’’ paparnya.

Pemkot sebenarnya juga sudah memiliki tim pendampingan keluarga di masing-masing kelurahan. Mereka terdiri atas bidan, kader KB, dan kader PKK. Mereka fokus untuk mendampingi keluarga-keluarga yang berisiko stunting. ‘’Kami juga menggandeng dari pihak Universitas Airlangga (Unair) untuk melakukan pendampingan dalam penanganan dan pencegahan kasus stunting di Kota Madiun,’’ kata Maidi. (her/adv)

Most Read

Artikel Terbaru

/