alexametrics
23.7 C
Madiun
Monday, June 27, 2022

Unik, Melon Jepang Berlafaz Allah-Muhammad

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Putri Ayu Nurisyak hanya bisa terbengong saat mendapati kejanggalan pada salah satu buah melon Jepang yang disortirnya. Pada kulit buah melon berukuran mini itu ternyata terdapat guratan bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad.

Buah itu dipetik Putri dari green house miliknya di Desa/Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, pada Senin lalu (16/5). Dia memastikan lafaz Allah dan Muhammad pada kulit buah melon tersebut bukan hasil rekayasanya. ‘’Itu asli,’’ kata warga Kelurahan Patihan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, itu Kamis (19/5).

Perempuan berjilbab itu mengaku tak akan menjual buah melon unik tersebut. Pun, berharap membawa berkah baginya dan tiga buruh tani yang dipekerjakannya. ‘’Sekali panen bisa menghasilkan 1,5-2 ton dengan masa tanam 60-70 hari,’’ ujar Putri sembari menyebutkan bahwa dirinya sudah empat tahun menekuni budi daya melon Jepang.

Baca Juga :  Pulang dari Yunani, Pekerja Migran Asal Kota Madiun Positif Covid-19

Dari budi daya melon Jepang itu, sekali panen Putri mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta. Satu kilogram dibanderol Rp 20 ribu. Lebih mahal dibanding melon lokal yang di pasaran hanya Rp 6 ribu-Rp 8 ribu per kilogram. Sementara, pangsa pasarnya telah merambah Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Bali.

‘’Pemasarannya via online,’’ tutur perempuan 35 tahun itu. ‘’Sebetulnya ini (budi daya melon, Red) merupakan rintisan almarhum suami. Saya hanya meneruskan,’’ imbuhnya. (her/isd)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Putri Ayu Nurisyak hanya bisa terbengong saat mendapati kejanggalan pada salah satu buah melon Jepang yang disortirnya. Pada kulit buah melon berukuran mini itu ternyata terdapat guratan bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad.

Buah itu dipetik Putri dari green house miliknya di Desa/Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, pada Senin lalu (16/5). Dia memastikan lafaz Allah dan Muhammad pada kulit buah melon tersebut bukan hasil rekayasanya. ‘’Itu asli,’’ kata warga Kelurahan Patihan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, itu Kamis (19/5).

Perempuan berjilbab itu mengaku tak akan menjual buah melon unik tersebut. Pun, berharap membawa berkah baginya dan tiga buruh tani yang dipekerjakannya. ‘’Sekali panen bisa menghasilkan 1,5-2 ton dengan masa tanam 60-70 hari,’’ ujar Putri sembari menyebutkan bahwa dirinya sudah empat tahun menekuni budi daya melon Jepang.

Baca Juga :  Wali Kota Maidi Minta Kejar Kontak Erat Karyawan BNI 46 Positif Covid-19

Dari budi daya melon Jepang itu, sekali panen Putri mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta. Satu kilogram dibanderol Rp 20 ribu. Lebih mahal dibanding melon lokal yang di pasaran hanya Rp 6 ribu-Rp 8 ribu per kilogram. Sementara, pangsa pasarnya telah merambah Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Bali.

‘’Pemasarannya via online,’’ tutur perempuan 35 tahun itu. ‘’Sebetulnya ini (budi daya melon, Red) merupakan rintisan almarhum suami. Saya hanya meneruskan,’’ imbuhnya. (her/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/