alexametrics
24.1 C
Madiun
Monday, July 4, 2022

Soal Mesi, Dinkes Berpangku Tangan

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun tidak bisa berbuat banyak kepada Mesi Farel Bramasta, bayi lima bulan yang terlahir tanpa anus. Sebab, putra pasangan Indria Fitri, 33, dan Saeful Arif, 31, itu bukan warga Kabupaten Madiun. ‘’Setelah kami lakukan pendekatan melalui puskesmas setempat, bayi dan kedua orang tuanya merupakan warga Lamongan,’’ kata Kepala Dinkes Kabupaten Madiun Soelistyo Widyantono Rabu (18/12).

Soelis –sapaannya- mengakui tidak bisa berbuat apa-apa. Terkendala status kependudukan, dinkes pun berpangku tangan. Untuk sekadar membuat rujukan bagi bayi yang terlahir 30 Juni 2019 itu saja tidak mampu lantaran terbentur aturan. ‘’Kasihan juga sebenarnya. BPJS mandiri yang digunakan. Tapi mau bagaimana lagi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Perempuan 64 Tahun Terbujur Kaku di Ruang Tamu

Diketahui, kedua orang tua Mesi merupakan warga Lamongan yang baru saja kembali dari perantauan di Papua. Namun, ibu Mesi berasal dari Desa Kwangsen, Jiwan. Belum bisa dipastikan apakah keluarga Mesi akan menetap di Madiun atau kembali ke Lamongan. ‘’Kalau merupakan warga Kabupaten Madiun, kami akan siap memberikan rujukan. Bisa ke RSUD dr Soedono atau bisa juga ke RSUD dr Soeroto, Ngawi, untuk dilakukan bedah,’’ tuturnya.

Dinkes hanya bisa melakukan pendekatan. Melalui puskesmas setempat, bagaimana baiknya tindakan yang harus dilakukan, sudah dijelaskan. ‘’Yang jelas, kami tidak bisa berbuat banyak karena terkendala kependudukan itu,’’ tegas Soelis. (den/c1/fin)

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun tidak bisa berbuat banyak kepada Mesi Farel Bramasta, bayi lima bulan yang terlahir tanpa anus. Sebab, putra pasangan Indria Fitri, 33, dan Saeful Arif, 31, itu bukan warga Kabupaten Madiun. ‘’Setelah kami lakukan pendekatan melalui puskesmas setempat, bayi dan kedua orang tuanya merupakan warga Lamongan,’’ kata Kepala Dinkes Kabupaten Madiun Soelistyo Widyantono Rabu (18/12).

Soelis –sapaannya- mengakui tidak bisa berbuat apa-apa. Terkendala status kependudukan, dinkes pun berpangku tangan. Untuk sekadar membuat rujukan bagi bayi yang terlahir 30 Juni 2019 itu saja tidak mampu lantaran terbentur aturan. ‘’Kasihan juga sebenarnya. BPJS mandiri yang digunakan. Tapi mau bagaimana lagi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Pemprov Tak Kunjung Respons Usulan Renovasi Taman Wisata Umbul

Diketahui, kedua orang tua Mesi merupakan warga Lamongan yang baru saja kembali dari perantauan di Papua. Namun, ibu Mesi berasal dari Desa Kwangsen, Jiwan. Belum bisa dipastikan apakah keluarga Mesi akan menetap di Madiun atau kembali ke Lamongan. ‘’Kalau merupakan warga Kabupaten Madiun, kami akan siap memberikan rujukan. Bisa ke RSUD dr Soedono atau bisa juga ke RSUD dr Soeroto, Ngawi, untuk dilakukan bedah,’’ tuturnya.

Dinkes hanya bisa melakukan pendekatan. Melalui puskesmas setempat, bagaimana baiknya tindakan yang harus dilakukan, sudah dijelaskan. ‘’Yang jelas, kami tidak bisa berbuat banyak karena terkendala kependudukan itu,’’ tegas Soelis. (den/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/