alexametrics
24.1 C
Madiun
Monday, July 4, 2022

Risiko Tinggi, Rapid Test Nakes 10 Hari Sekali

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Berdiri di garda depan menjadi kenyataan berat dan berisiko bagi para tenaga kesehatan (nakes) yang berjuang menangani Covid-19. Meski sampai kini belum ada yang terpapar virus korona, potensi kerawanan mengintai mereka yang berjuang menangani pasien yang dirujuk ke rumah sakit milik pemerintah provinsi itu.

Pejuang garda depan di RSUD dr Soedono Madiun terdiri 90 nakes serta tujuh dokter spesialis dan pendukung. Meliputi radiologi, farmasi, dan pendukung. Untuk memastikan tiadanya penularan, mereka rutin menjalani rapid test tiap sepuluh hari sekali sejak April. ‘’Jika sampai ada yang terinfeksi, tentu menjadi permasalahan tersendiri,’’ kata Direktur RSUD dr Soedono Madiun dr Bangun Trapsila Purwaka.

Kendati aman, Bangun mewanti-wanti seluruh nakes dan dokter agar tidak lengah. Senantiasa mematuhi standard operating procedure (SOP) penanganan pasien Covid-19. SOP tak berarti apa-apa tanpa disertai kedisiplinan. ‘’Kedisiplinan menjadi nomor satu,’’ tegasnya.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Minta Akreditasi Rumah Sakit Harus Pasti

SOP juga didukung kinerja tim pencegahan infeksi yang membagi area rumah sakit ke dalam zonasi. Merah, oranye, kuning, dan hijau. Zonasi mengacu pada risiko infeksi. ‘’Ruangan manajemen termasuk zona hijau. Kalau ruang operasi pasien Covid-19 termasuk zona merah. SOP tiap ruangan tak bisa disamakan,’’ urainya.

Bangun mengapresiasi seluruh kinerja nakes dan dokter yang tergabung dalam tim khusus penanganan Covid-19. Pihaknya berharap masyarakat turut mendukung kerja keras ini dengan cara mendisiplinkan diri masing-masing. ‘’Kerja mereka sangat berat dan berisiko. Masyarakat perlu mendukung mereka dengan mematuhi protokol kesehatan guna memangkas penyebaran Covid-19,’’ ujarnya. (kid/c1/fin)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Berdiri di garda depan menjadi kenyataan berat dan berisiko bagi para tenaga kesehatan (nakes) yang berjuang menangani Covid-19. Meski sampai kini belum ada yang terpapar virus korona, potensi kerawanan mengintai mereka yang berjuang menangani pasien yang dirujuk ke rumah sakit milik pemerintah provinsi itu.

Pejuang garda depan di RSUD dr Soedono Madiun terdiri 90 nakes serta tujuh dokter spesialis dan pendukung. Meliputi radiologi, farmasi, dan pendukung. Untuk memastikan tiadanya penularan, mereka rutin menjalani rapid test tiap sepuluh hari sekali sejak April. ‘’Jika sampai ada yang terinfeksi, tentu menjadi permasalahan tersendiri,’’ kata Direktur RSUD dr Soedono Madiun dr Bangun Trapsila Purwaka.

Kendati aman, Bangun mewanti-wanti seluruh nakes dan dokter agar tidak lengah. Senantiasa mematuhi standard operating procedure (SOP) penanganan pasien Covid-19. SOP tak berarti apa-apa tanpa disertai kedisiplinan. ‘’Kedisiplinan menjadi nomor satu,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Normalisasi Saluran Air Jalan Mayjen Sungkono Telan Rp 5 M

SOP juga didukung kinerja tim pencegahan infeksi yang membagi area rumah sakit ke dalam zonasi. Merah, oranye, kuning, dan hijau. Zonasi mengacu pada risiko infeksi. ‘’Ruangan manajemen termasuk zona hijau. Kalau ruang operasi pasien Covid-19 termasuk zona merah. SOP tiap ruangan tak bisa disamakan,’’ urainya.

Bangun mengapresiasi seluruh kinerja nakes dan dokter yang tergabung dalam tim khusus penanganan Covid-19. Pihaknya berharap masyarakat turut mendukung kerja keras ini dengan cara mendisiplinkan diri masing-masing. ‘’Kerja mereka sangat berat dan berisiko. Masyarakat perlu mendukung mereka dengan mematuhi protokol kesehatan guna memangkas penyebaran Covid-19,’’ ujarnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/