alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Perjalanan 10 Tahun Eny Wahyuningsih Tekuni Kerajinan Batik Tulis

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Siang itu Eny Wahyuningsih tampak sibuk. Tangannya dengan cekatan membentangkan kain batik tulis yang baru saja selesai tahap pewarnaan untuk diangin-anginkan. Sesekali dilihatnya dengan cermat untuk memastikan guratan motifnya sudah sempurna. ‘’Sudah 10 tahun jadi perajin batik,’’ ujarnya, Sabtu (23/10).

Keterampilan Eny membuat batik tulis diperoleh dari pelatihan yang digelar disnaker dan dinas perdagangan. Pun, dia sempat belajar langsung ke perajin di Tulungagung, Solo, hingga Jogjakarta. ‘’Setelah dapat ilmunya, saya kemudian mencoba bikin di rumah,’’ kata perempuan 52 tahun itu.

Namun, hal itu tidak berjalan mulus. Beberapa kali Eny gagal menghasilkan batik tulis yang sempurna. Seiring berjalannya waktu, dia semakin menguasai teknik membatik. Pun, mampu menghasilkan motif kenanga yang menjadi ciri khas batik buatannya.

Nama itu sesuai kondisi geografis Kelurahan Winongo yang banyak ditumbuhi bunga kenanga. ‘’Sering juga saya padukan dengan parang, kawung, dan motif lainnya,’’ ungkap warga Jalan Wiraraja, Winongo, Manguharjo, tersebut.

Baca Juga :  PPKM Level 2, Maidi: Kota Madiun Pantang Euforia

Kini, batik karya Eny telah merambah berbagai daerah di tanah air seperti Kediri, Jakarta, Tangerang, dan Kalimantan. Pun, kerap diusung dalam pameran di sejumlah kota. ‘’Harganya tergantung tingkat kerumitan pembuatannya. Mulai Rp 250 ribu sampai Rp 600 ribu per lembar,’’ sebutnya.

Pembuatan batik tulis dimulai dari membuat pola pada selembar kain warna putih. Selanjutnya, dilukis dengam malam menggunakan canting mengikuti pola yang ada. Proses itu memakan waktu sedikitnya empat hari. Setelah selesai, masuk tahap lemahan dan isen-isen. ‘’Berikutnya pewarnaan, lalu diangin-anginkan, terakhir difiksasi (penguncian dengan waterglass, Red),’’ bebernya.

Sejak pandemi korona melanda, omzet penjualan batik tulis karya Eny menurun signifikan. Meski begitu, istri Suwito itu tetap berusaha produktif. ‘’Sekarang, selain berupa kain, saya sekalian membuat baju batik,’’ ujarnya. (irs/c1/isd/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Siang itu Eny Wahyuningsih tampak sibuk. Tangannya dengan cekatan membentangkan kain batik tulis yang baru saja selesai tahap pewarnaan untuk diangin-anginkan. Sesekali dilihatnya dengan cermat untuk memastikan guratan motifnya sudah sempurna. ‘’Sudah 10 tahun jadi perajin batik,’’ ujarnya, Sabtu (23/10).

Keterampilan Eny membuat batik tulis diperoleh dari pelatihan yang digelar disnaker dan dinas perdagangan. Pun, dia sempat belajar langsung ke perajin di Tulungagung, Solo, hingga Jogjakarta. ‘’Setelah dapat ilmunya, saya kemudian mencoba bikin di rumah,’’ kata perempuan 52 tahun itu.

Namun, hal itu tidak berjalan mulus. Beberapa kali Eny gagal menghasilkan batik tulis yang sempurna. Seiring berjalannya waktu, dia semakin menguasai teknik membatik. Pun, mampu menghasilkan motif kenanga yang menjadi ciri khas batik buatannya.

Nama itu sesuai kondisi geografis Kelurahan Winongo yang banyak ditumbuhi bunga kenanga. ‘’Sering juga saya padukan dengan parang, kawung, dan motif lainnya,’’ ungkap warga Jalan Wiraraja, Winongo, Manguharjo, tersebut.

Baca Juga :  Tugu Kembar Mayang PSC Segera Rampung

Kini, batik karya Eny telah merambah berbagai daerah di tanah air seperti Kediri, Jakarta, Tangerang, dan Kalimantan. Pun, kerap diusung dalam pameran di sejumlah kota. ‘’Harganya tergantung tingkat kerumitan pembuatannya. Mulai Rp 250 ribu sampai Rp 600 ribu per lembar,’’ sebutnya.

Pembuatan batik tulis dimulai dari membuat pola pada selembar kain warna putih. Selanjutnya, dilukis dengam malam menggunakan canting mengikuti pola yang ada. Proses itu memakan waktu sedikitnya empat hari. Setelah selesai, masuk tahap lemahan dan isen-isen. ‘’Berikutnya pewarnaan, lalu diangin-anginkan, terakhir difiksasi (penguncian dengan waterglass, Red),’’ bebernya.

Sejak pandemi korona melanda, omzet penjualan batik tulis karya Eny menurun signifikan. Meski begitu, istri Suwito itu tetap berusaha produktif. ‘’Sekarang, selain berupa kain, saya sekalian membuat baju batik,’’ ujarnya. (irs/c1/isd/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/