alexametrics
23.6 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Harga Cabai Rawit di Madiun Nyaris Tembus Rp 100 Ribu Per Kilogram

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Harga cabai rawit semakin melangit. Per hari ini (23/12) tembus Rp 90 ribu-Rp 96 ribu per kilogram. Kenaikan ini sudah berlangsung lama dan bertahap dalam hitungan hari. Hingga melejit dalam sepekan terakhir.

Menurut Robin, salah seorang pedagang di Pasar Besar Madiun (PBM), ada beberapa faktor pendongkrak harga. Di antaranya musim penghujan dan stok terbatas. ‘’Saya ambil 10 kilogram misalnya, satu kilogram di antaranya pasti rusak,’’ katanya, Kamis (23/12).

Kendati dikeluhkan pembeli, namun mereka tetap membeli karena sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Hanya, jumlah pembelian dikurangi. Sejatinya, harga cabai keriting dan merah juga naik. Namun, tidak semelejit rawit. ‘’Harganya masih Rp 30 ribu-Rp 36 ribu per kilogram kalau untuk dua jenis cabai ini,’’ ungkapnya.

Tidak hanya cabai, harga minyak goreng dan telur juga naik. Muna, pedagang lainnya, menyebut bahwa harga minyak goreng sebelumnya Rp 14 ribu kini menjadi Rp 20 ribu-Rp 21 ribu per liter. Sementara telur dari sebelumnya Rp 18 ribu kini Rp 26 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Puncak Musim Hujan Januari 2022

Siti Aisyah, salah seorang pembeli, menyebut bahwa harga cabai rawit, minyak goreng, dan telur saat ini sudah tidak terjangkau. Terlebih untuk masyarakat berpenghasilan pas-pasan. Siti berharap pemerintah menstabilkan harga. ‘’Saat ini masih situasi pandemi. Masyarakat masih banyak yang terdampak,’’ ujarnya.

Terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Madiun Surat mengatakan bahwa pihaknya hanya bisa memantau harga setiap hari. Menurut dia, kenaikan harga cabai memang dipengaruhi faktor cuaca di wilayah produsen dan juga mekanisme pasar. ‘’Tapi, untuk persediaan cabai masih terpenuhi. Aman,’’ klaimnya.

Sementara, untuk harga minyak goreng, Surat menyebut dipengaruhi turunnya panen sawit. Sehingga, suplai crude palm oil (CPO) atau bahan baku mentah minyak dunia menjadi terbatas dan menyebabkan gangguan rantai distribusi (supply chain) industri minyak goreng. ‘’Jadi, kenaikan harga minyak goreng juga berdampak nasional,’’ pungkasnya. (irs/c1/sat/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Harga cabai rawit semakin melangit. Per hari ini (23/12) tembus Rp 90 ribu-Rp 96 ribu per kilogram. Kenaikan ini sudah berlangsung lama dan bertahap dalam hitungan hari. Hingga melejit dalam sepekan terakhir.

Menurut Robin, salah seorang pedagang di Pasar Besar Madiun (PBM), ada beberapa faktor pendongkrak harga. Di antaranya musim penghujan dan stok terbatas. ‘’Saya ambil 10 kilogram misalnya, satu kilogram di antaranya pasti rusak,’’ katanya, Kamis (23/12).

Kendati dikeluhkan pembeli, namun mereka tetap membeli karena sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Hanya, jumlah pembelian dikurangi. Sejatinya, harga cabai keriting dan merah juga naik. Namun, tidak semelejit rawit. ‘’Harganya masih Rp 30 ribu-Rp 36 ribu per kilogram kalau untuk dua jenis cabai ini,’’ ungkapnya.

Tidak hanya cabai, harga minyak goreng dan telur juga naik. Muna, pedagang lainnya, menyebut bahwa harga minyak goreng sebelumnya Rp 14 ribu kini menjadi Rp 20 ribu-Rp 21 ribu per liter. Sementara telur dari sebelumnya Rp 18 ribu kini Rp 26 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Stefanus Andika Yunianto Dkk Enggan Berpaling dari Skateboard

Siti Aisyah, salah seorang pembeli, menyebut bahwa harga cabai rawit, minyak goreng, dan telur saat ini sudah tidak terjangkau. Terlebih untuk masyarakat berpenghasilan pas-pasan. Siti berharap pemerintah menstabilkan harga. ‘’Saat ini masih situasi pandemi. Masyarakat masih banyak yang terdampak,’’ ujarnya.

Terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Madiun Surat mengatakan bahwa pihaknya hanya bisa memantau harga setiap hari. Menurut dia, kenaikan harga cabai memang dipengaruhi faktor cuaca di wilayah produsen dan juga mekanisme pasar. ‘’Tapi, untuk persediaan cabai masih terpenuhi. Aman,’’ klaimnya.

Sementara, untuk harga minyak goreng, Surat menyebut dipengaruhi turunnya panen sawit. Sehingga, suplai crude palm oil (CPO) atau bahan baku mentah minyak dunia menjadi terbatas dan menyebabkan gangguan rantai distribusi (supply chain) industri minyak goreng. ‘’Jadi, kenaikan harga minyak goreng juga berdampak nasional,’’ pungkasnya. (irs/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/