alexametrics
31.2 C
Madiun
Tuesday, July 5, 2022

Pengelola Lawu Plaza Menunggak Sewa Aset

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Piutang Pemkot Madiun terkoreksi. Badan keuangan dan aset daerah (BKAD) setempat mengklaim pemicu melonjaknya piutang itu pandemi Covid-19. Salah satunya, retribusi daerah PT Sri Tanaya Megatama (STM), pengelola Lawu Plaza. ‘’Seharusnya sudah selesai tahun sebelumnya. Tapi, karena pandemi minta keringanan,’’ kata Sekretaris BKAD Kota Madiun Sidik Muktiaji, Selasa (24/5).

Meski tak memerinci nominal piutang, pemkot tidak bisa memberikan keringanan dengan jumlah besar kepada perusahaan asal Semarang, Jawa Tengah, tersebut. ‘’Karena konsepnya untuk pengelolaan Lawu Plaza itu kontribusi tetap dan profit sharing,’’ ujarnya.

Menurut Sidik, pihak STM tetap menyetor perolehan pendapatan pada tahun berjalan kendati pada pelaporan keuangannya tidak laba. Padahal, seharusnya pengelola Lawu Plaza itu diberi kelonggaran untuk tak menyetor jika mengalami penurunan pendapatan. ‘’Dalam profit sharing itu ketika laba wajib setor, tapi kalau memang nggak laba tidak perlu setor,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Empat Penjuru Diterangi Lampu Hias Addressable

Tapi, lanjut Sidik, masalah piutang pajak dari STM tersebut berkaitan dengan kontribusi tetap. Sehingga, pihak bersangkutan sebagai penyewa aset daerah mesti membayar pajak yang telah ditentukan. ‘’Bicara kewajiban kontribusi tetap, ini (STM, Red.) kan menyewa. Mosok terus nggak bayar?’’ sambungnya.

Berdasarkan catatan BKAD, piutang pajak daerah tahun ini  (2021) total mencapai Rp 10,5 miliar. Nilai itu naik dibandingkan tahun sebelumnya (2020) Rp 8,5 miliar. Sedangkan, piutang retribusi daerah dari sebelumnya (2020) Rp 5,5 miliar, naik menjadi Rp 6,6 miliar (2021).

Di sektor retribusi daerah, piutang terbesar dari tunggakan pembayaran kios pasar. Nilainya mencapai Rp 440 juta. Bahkan, beberapa penyewa kios di antaranya telah menunggak lebih dari dua tahun. ‘’Jadi, leading sector-nya ada di dinas perdagangan. Kami hanya mengumpulkan menjadi laporan keuangan,’’ jelas Sidik. (her/sat)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Piutang Pemkot Madiun terkoreksi. Badan keuangan dan aset daerah (BKAD) setempat mengklaim pemicu melonjaknya piutang itu pandemi Covid-19. Salah satunya, retribusi daerah PT Sri Tanaya Megatama (STM), pengelola Lawu Plaza. ‘’Seharusnya sudah selesai tahun sebelumnya. Tapi, karena pandemi minta keringanan,’’ kata Sekretaris BKAD Kota Madiun Sidik Muktiaji, Selasa (24/5).

Meski tak memerinci nominal piutang, pemkot tidak bisa memberikan keringanan dengan jumlah besar kepada perusahaan asal Semarang, Jawa Tengah, tersebut. ‘’Karena konsepnya untuk pengelolaan Lawu Plaza itu kontribusi tetap dan profit sharing,’’ ujarnya.

Menurut Sidik, pihak STM tetap menyetor perolehan pendapatan pada tahun berjalan kendati pada pelaporan keuangannya tidak laba. Padahal, seharusnya pengelola Lawu Plaza itu diberi kelonggaran untuk tak menyetor jika mengalami penurunan pendapatan. ‘’Dalam profit sharing itu ketika laba wajib setor, tapi kalau memang nggak laba tidak perlu setor,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pertamina Pastikan Stok BBM Madiun Raya Aman Selama 20 Hari ke Depan

Tapi, lanjut Sidik, masalah piutang pajak dari STM tersebut berkaitan dengan kontribusi tetap. Sehingga, pihak bersangkutan sebagai penyewa aset daerah mesti membayar pajak yang telah ditentukan. ‘’Bicara kewajiban kontribusi tetap, ini (STM, Red.) kan menyewa. Mosok terus nggak bayar?’’ sambungnya.

Berdasarkan catatan BKAD, piutang pajak daerah tahun ini  (2021) total mencapai Rp 10,5 miliar. Nilai itu naik dibandingkan tahun sebelumnya (2020) Rp 8,5 miliar. Sedangkan, piutang retribusi daerah dari sebelumnya (2020) Rp 5,5 miliar, naik menjadi Rp 6,6 miliar (2021).

Di sektor retribusi daerah, piutang terbesar dari tunggakan pembayaran kios pasar. Nilainya mencapai Rp 440 juta. Bahkan, beberapa penyewa kios di antaranya telah menunggak lebih dari dua tahun. ‘’Jadi, leading sector-nya ada di dinas perdagangan. Kami hanya mengumpulkan menjadi laporan keuangan,’’ jelas Sidik. (her/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/