alexametrics
26.1 C
Madiun
Saturday, May 28, 2022

Begini Kisah Heru Dasiman Jaga Perlintasan Kereta tanpa Palang Pintu

Heru Dasiman pantas disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Sudah lebih dari satu dekade pria itu menjadi penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Wonoasri, Kabupaten Madiun. Bagaimana suka dukanya? 

===============

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

LALU-LALANG kendaraan seolah tiada henti melintas di perlintasan kereta api tanpa palang pintu Jalan Raya Wonoasri, Kabupaten Madiun, siang itu. Satu per satu pengguna jalan harus lewat secara bergantian karena sempitnya jalur.

Heru Dasiman lantas berdiri. Meniup peluit, mengayunkan tangan, dan memberi aba-aba. Bersamaan itu dia menengok kanan kiri ke arah rel kereta api. ‘’Berhenti dulu, Pak,’’ teriak pria bertopi dan mengenakan rompi tersebut kepada seorang pengendara.  

Heru adalah satu dari 12 relawan penjaga perlintasan kereta api Wonoasri. Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka mengatur arus lalu lintas di titik tersebut. ‘’Dulu sering terjadi kecelakaan. Dari situ kami tergerak jadi relawan di sini,’’ ujarnya.

Heru mulai berjaga di perlintasan kereta pukul 07.00. Jam itu pula lalu-lalang kendaraan cukup padat. Maklum, saatnya warga berangkat ke tempat kerja. ‘’Saya jaga sampai jam 11.00. Setelah itu ganti teman saya lainnya sampai jam 22.00,’’ terangnya.

Meskipun di perlintasan itu ada alat tanda kereta api hendak melintas, tetapi terkadang tidak berfungsi baik. Selain itu, beberapa pengendara nekat menerobos meski kereta sudah dekat. ‘’Rambu saja tidak cukup, kalau lewat sini cek situasi ada kereta atau tidak,’’ tutur pria 38 tahun itu.

Baca Juga :  236 Warga Terlacak Kontak Fisik dengan Pasien Positif Covid-19 asal Geger

Selama ini Heru tidak mengetahui persis kapan kereta lewat. Dia hanya mengecek secara manual, melihat dari arah utara dan selatan. ‘’Pakai perasaan saja. Juga selalu mengecek kanan kiri,’’ kata warga Jalan Wonoasri itu.

‘’Pokoknya refleks. Kalau kereta sekiranya sudah dekat, (pengendara) ditahan. Kalau tidak mau ya sudah, kami hanya membantu,’’ imbuhnya sembari menyebut sejumlah pengendara berbaik hati memberikan imbalan.

Penghasilan Heru dari menjaga perlintasan kereta api tidak pasti. Dalam sehari kadang bisa mengantongi uang dalam jumlah cukup banyak. Namun, pernah juga pulang dengan tangan hampa. ‘’Kalau dikasih ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa,’’ ucapnya.

Beban Heru dan relawan lainnya semakin bertambah sejak Mei lalu bersamaan beroperasinya double track. Dia harus lebih fokus melihat ke dua arah. ‘’Kalau dulu hanya mikir utara, sekarang tambah yang dari selatan dan tidak ada patokan jam, hanya main perasaan,’’ sebut Heru.

Jika kelak dipasang palang pintu, Heru berharap direkrut untuk menjadi penjaga. Sebab, itulah satu-satunya mata pencariannya. *** (isd/c1)

Heru Dasiman pantas disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Sudah lebih dari satu dekade pria itu menjadi penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Wonoasri, Kabupaten Madiun. Bagaimana suka dukanya? 

===============

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

LALU-LALANG kendaraan seolah tiada henti melintas di perlintasan kereta api tanpa palang pintu Jalan Raya Wonoasri, Kabupaten Madiun, siang itu. Satu per satu pengguna jalan harus lewat secara bergantian karena sempitnya jalur.

Heru Dasiman lantas berdiri. Meniup peluit, mengayunkan tangan, dan memberi aba-aba. Bersamaan itu dia menengok kanan kiri ke arah rel kereta api. ‘’Berhenti dulu, Pak,’’ teriak pria bertopi dan mengenakan rompi tersebut kepada seorang pengendara.  

Heru adalah satu dari 12 relawan penjaga perlintasan kereta api Wonoasri. Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka mengatur arus lalu lintas di titik tersebut. ‘’Dulu sering terjadi kecelakaan. Dari situ kami tergerak jadi relawan di sini,’’ ujarnya.

Heru mulai berjaga di perlintasan kereta pukul 07.00. Jam itu pula lalu-lalang kendaraan cukup padat. Maklum, saatnya warga berangkat ke tempat kerja. ‘’Saya jaga sampai jam 11.00. Setelah itu ganti teman saya lainnya sampai jam 22.00,’’ terangnya.

Meskipun di perlintasan itu ada alat tanda kereta api hendak melintas, tetapi terkadang tidak berfungsi baik. Selain itu, beberapa pengendara nekat menerobos meski kereta sudah dekat. ‘’Rambu saja tidak cukup, kalau lewat sini cek situasi ada kereta atau tidak,’’ tutur pria 38 tahun itu.

Baca Juga :  Dorong Pemdes Terbuka Soal KIP

Selama ini Heru tidak mengetahui persis kapan kereta lewat. Dia hanya mengecek secara manual, melihat dari arah utara dan selatan. ‘’Pakai perasaan saja. Juga selalu mengecek kanan kiri,’’ kata warga Jalan Wonoasri itu.

‘’Pokoknya refleks. Kalau kereta sekiranya sudah dekat, (pengendara) ditahan. Kalau tidak mau ya sudah, kami hanya membantu,’’ imbuhnya sembari menyebut sejumlah pengendara berbaik hati memberikan imbalan.

Penghasilan Heru dari menjaga perlintasan kereta api tidak pasti. Dalam sehari kadang bisa mengantongi uang dalam jumlah cukup banyak. Namun, pernah juga pulang dengan tangan hampa. ‘’Kalau dikasih ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa,’’ ucapnya.

Beban Heru dan relawan lainnya semakin bertambah sejak Mei lalu bersamaan beroperasinya double track. Dia harus lebih fokus melihat ke dua arah. ‘’Kalau dulu hanya mikir utara, sekarang tambah yang dari selatan dan tidak ada patokan jam, hanya main perasaan,’’ sebut Heru.

Jika kelak dipasang palang pintu, Heru berharap direkrut untuk menjadi penjaga. Sebab, itulah satu-satunya mata pencariannya. *** (isd/c1)

Artikel SebelumnyaGamang Segel Lima BTS Bodong
Artikel Selanjutnya Semenit Harmal

Most Read

Artikel Terbaru

/