alexametrics
24.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Yang Butuh Migor 120 UMKM, tapi Jatah Hanya untuk 20 Pengusaha

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Problem kelangkaan dan harga mahal minyak goreng (migor) di Kota Madiun tak kunjung tersolusikan. Ikhtiar melalui operasi pasar (OP) pun kembali digelar. Kali ini tujuh ton migor curah bersubsidi digelontorkan di Pasar Sri Jaya.

Kendati begitu, jumlah yang digerojokkan salah satu distributor itu dinilai belum mencukupi kebutuhan pengusaha mikro, kecil, dan menengah (PMKM). Sedikitnya 120 pelaku usaha butuh migor curah untuk operasional usaha mereka. ‘’Tapi, yang mendapat undangan hanya 20 pelaku usaha,’’ kata Ketua Himpunan PMKM Indonesia (Hipmikimdo) Madiun Wisang R. Wijaya kemarin (24/3).

Agar merata, 20 pengusaha yang mendapat jatah harus berkongsi dengan pengusaha lain. Sesuai kesepakatan, satu undangan yang mendapat jatah pembelian maksimal 50 kilogram, dibagi dengan dua pelaku usaha lainnya. Itu pun belum mencukupi kebutuhan. ‘’Kuota untuk kami terbatas. Semoga ada OP lanjutan agar semua kebutuhan pelaku UMKM tercukupi,’’ ujarnya.

Menurut Wisang, PMKM kelimpungan di tengah kelangkaan migor saat ini. Kalaupun ada, harganya sangat tinggi. Sehingga dinilai memberatkan untuk biaya operasional usaha. ‘’Kami akan melakukan koordinasi dengan OPD (organisasi perangkat daerah) terkait agar membantu mendapatkan kebutuhan migor. Mungkin kuotanya bisa ditambah,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Proyek Penataan Kawasan Bogowonto Jalan Terus

Wawan Junaidi, salesman distributor, mengatakan bahwa OP yang digelar menyasar pedagang pasar tradisional dan pelaku UMKM. Total 140 undangan. Pembeli wajib menyetujui dan bersedia memenuhi persyaratan dalam pakta integritas. ‘’Tidak hanya di Kota Madiun, kami juga gelar di Pasar Dungus (Wungu, Kabupaten Madiun, Red),’’ ungkapnya.

Dalam pakta integritas tersebut, pembeli bersedia mendukung penuh program migor subsidi pemerintah dan menjual sesuai harga eceran tertinggi (HET). Selain itu, tidak menimbun. Pun, dilarang menjual ke re-packer alias pengepak ulang. ‘’Kalau ada penyimpangan, bakal berurusan dengan aparat penegak hukum,’’ tegasnya.

Pihaknya menjual migor curah Rp 13 ribu per liter atau Rp 14.444 per kilogram. Harapannya, pedagang dapat menjual ke masyarakat sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. Yakni, Rp 14 ribu per liter atau Rp 15.500 per kilogram. ‘’OP berikutnya menunggu arahan dari pusat,’’ ujarnya. (ggi/c1/sat/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Problem kelangkaan dan harga mahal minyak goreng (migor) di Kota Madiun tak kunjung tersolusikan. Ikhtiar melalui operasi pasar (OP) pun kembali digelar. Kali ini tujuh ton migor curah bersubsidi digelontorkan di Pasar Sri Jaya.

Kendati begitu, jumlah yang digerojokkan salah satu distributor itu dinilai belum mencukupi kebutuhan pengusaha mikro, kecil, dan menengah (PMKM). Sedikitnya 120 pelaku usaha butuh migor curah untuk operasional usaha mereka. ‘’Tapi, yang mendapat undangan hanya 20 pelaku usaha,’’ kata Ketua Himpunan PMKM Indonesia (Hipmikimdo) Madiun Wisang R. Wijaya kemarin (24/3).

Agar merata, 20 pengusaha yang mendapat jatah harus berkongsi dengan pengusaha lain. Sesuai kesepakatan, satu undangan yang mendapat jatah pembelian maksimal 50 kilogram, dibagi dengan dua pelaku usaha lainnya. Itu pun belum mencukupi kebutuhan. ‘’Kuota untuk kami terbatas. Semoga ada OP lanjutan agar semua kebutuhan pelaku UMKM tercukupi,’’ ujarnya.

Menurut Wisang, PMKM kelimpungan di tengah kelangkaan migor saat ini. Kalaupun ada, harganya sangat tinggi. Sehingga dinilai memberatkan untuk biaya operasional usaha. ‘’Kami akan melakukan koordinasi dengan OPD (organisasi perangkat daerah) terkait agar membantu mendapatkan kebutuhan migor. Mungkin kuotanya bisa ditambah,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Dinsos Ngawi Belum Terima Aturan Main BLT Migor dari Kemensos

Wawan Junaidi, salesman distributor, mengatakan bahwa OP yang digelar menyasar pedagang pasar tradisional dan pelaku UMKM. Total 140 undangan. Pembeli wajib menyetujui dan bersedia memenuhi persyaratan dalam pakta integritas. ‘’Tidak hanya di Kota Madiun, kami juga gelar di Pasar Dungus (Wungu, Kabupaten Madiun, Red),’’ ungkapnya.

Dalam pakta integritas tersebut, pembeli bersedia mendukung penuh program migor subsidi pemerintah dan menjual sesuai harga eceran tertinggi (HET). Selain itu, tidak menimbun. Pun, dilarang menjual ke re-packer alias pengepak ulang. ‘’Kalau ada penyimpangan, bakal berurusan dengan aparat penegak hukum,’’ tegasnya.

Pihaknya menjual migor curah Rp 13 ribu per liter atau Rp 14.444 per kilogram. Harapannya, pedagang dapat menjual ke masyarakat sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. Yakni, Rp 14 ribu per liter atau Rp 15.500 per kilogram. ‘’OP berikutnya menunggu arahan dari pusat,’’ ujarnya. (ggi/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/