alexametrics
29.9 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Para Petani Dapat Pasokan Air dari Rejo Agung

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kebutuhan air bagi para petani sangat mendesak saat ini. Itu setelah Pemkab Madiun beserta pihak PG Rejo Agung telah menemui kata sepakat terkait pembagian jatah air untuk lahan pertanian seluas 500 hektare dengan proses produksi gula. ‘’Sebenarnya setiap tahunnya sudah kami lakukan pembagian pasokan air untuk petani, tapi karena kemarau kali ini cukup ekstrem jadi kami perluas,’’ kata Kepala Sub Bagian SDM PG Rejo Agung Subagio Jumat (25/10).

Berdasarkan informasi  kelompok tani yang berada di sekitar PG Rejo Agung, didapati bahwa memasuki hari ke-60 musim kemarau, sebagian besar tanaman padi sangat membutuhkan pasokan air guna mendapatkan hasil yang maksimal. Di sisi lain, saat ini di tempatnya tidak berproduksi.

Sehingga, jatah air yang pihaknya dapatkan bisa dialihkan untuk mencukupi kebutuhan air lahan pertanian kelompok tani. Bahkan, kebijakan tersebut sudah disetujui oleh BBWS Bengawan Solo. ‘’Air kita ambil dari Bengawan Madiun, jadi untuk biaya pendistribusian langsung dari pihak PG,’’ terang Subagio.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Sumanto menyebut lahan pertanian seluas 60 hektare saat ini mengalami gagal panen. Karena kondisi tanahnya mengering lantaran kekurangan air. ‘’Yang mendapatkan bantuan ada lima desa. Desa Nglames, Bagi, Tiron, Gunung Sari, dan Garon,’’ sebutnya.

Dengan pemberian alokasi pasokan air dari PG Rejo Agung, lahan pertanian seluas 500 hektare yang ada di lima desa tersebut proses penanaman padinya bisa berlanjut. ‘’Debit air yang dikeluarkan lebih dari 1,6 meter kubik. Itu sudah cukup,’’ ungkapnya. (mgc/c1/her)

Baca Juga :  Longsor Menerjang, Tidur Tak Tenang

Sektor Pertanian Merugi Rp 7 Miliar

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Dampak kemarau di sektor pertanian cukup besar. Tercatat sampai dengan saat ini lahan pertanian seluas 288 hektare telah gagal panen. Apabila dinominalkan nilai kerugian akibat kemarau tahun ini mencapai Rp 7 miliar. ‘’Produksi padi yang gagal mencapai 1.830 ton,’’ kata Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Sumanto Jumat (25/10).

Kendati demikian, dia menyebut kekeringan hanya berdampak kecil pada penurunan produksi padi. Selain itu, tidak sampai memengaruhi lonjakan harga beras. ‘’Jumlah kebutuhan pangan masyarakat hanya 70.000 ton. Sedangkan, produksi padi dalam setahun kita mencapai 363.000 ton. Jadi, masih aman,’’ ungkapnya.

Sumanto menyebutkan, saat ini luas lahan produktif di Kabupaten Madiun mencapai 92.000 hektare. Di mana setiap hektarenya menghasilkan produksi padi sekitar 6 ton dengan kondisi kualitas 70 persen. ‘’Kita masih surplus produksi padi,’’ ujarnya.

Diakuinya, Kabupaten Madiun merupakan lumbung padi nasional. Karena dalam setahun petani bisa panen tiga kali. Produksi padi yang dihasilkan juga melimpah. ‘’Jumlah penurunan produksi tidak hanya disebabkan oleh kekeringan. Serangan hama juga bisa mengakibatkan berkurangnya pasokan padi,’’ terangnya. (mgc/c1/her)

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kebutuhan air bagi para petani sangat mendesak saat ini. Itu setelah Pemkab Madiun beserta pihak PG Rejo Agung telah menemui kata sepakat terkait pembagian jatah air untuk lahan pertanian seluas 500 hektare dengan proses produksi gula. ‘’Sebenarnya setiap tahunnya sudah kami lakukan pembagian pasokan air untuk petani, tapi karena kemarau kali ini cukup ekstrem jadi kami perluas,’’ kata Kepala Sub Bagian SDM PG Rejo Agung Subagio Jumat (25/10).

Berdasarkan informasi  kelompok tani yang berada di sekitar PG Rejo Agung, didapati bahwa memasuki hari ke-60 musim kemarau, sebagian besar tanaman padi sangat membutuhkan pasokan air guna mendapatkan hasil yang maksimal. Di sisi lain, saat ini di tempatnya tidak berproduksi.

Sehingga, jatah air yang pihaknya dapatkan bisa dialihkan untuk mencukupi kebutuhan air lahan pertanian kelompok tani. Bahkan, kebijakan tersebut sudah disetujui oleh BBWS Bengawan Solo. ‘’Air kita ambil dari Bengawan Madiun, jadi untuk biaya pendistribusian langsung dari pihak PG,’’ terang Subagio.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Sumanto menyebut lahan pertanian seluas 60 hektare saat ini mengalami gagal panen. Karena kondisi tanahnya mengering lantaran kekurangan air. ‘’Yang mendapatkan bantuan ada lima desa. Desa Nglames, Bagi, Tiron, Gunung Sari, dan Garon,’’ sebutnya.

Dengan pemberian alokasi pasokan air dari PG Rejo Agung, lahan pertanian seluas 500 hektare yang ada di lima desa tersebut proses penanaman padinya bisa berlanjut. ‘’Debit air yang dikeluarkan lebih dari 1,6 meter kubik. Itu sudah cukup,’’ ungkapnya. (mgc/c1/her)

Baca Juga :  Lantai Satu Terbakar, Sekeluarga Terlelap di Lantai Dua

Sektor Pertanian Merugi Rp 7 Miliar

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Dampak kemarau di sektor pertanian cukup besar. Tercatat sampai dengan saat ini lahan pertanian seluas 288 hektare telah gagal panen. Apabila dinominalkan nilai kerugian akibat kemarau tahun ini mencapai Rp 7 miliar. ‘’Produksi padi yang gagal mencapai 1.830 ton,’’ kata Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Sumanto Jumat (25/10).

Kendati demikian, dia menyebut kekeringan hanya berdampak kecil pada penurunan produksi padi. Selain itu, tidak sampai memengaruhi lonjakan harga beras. ‘’Jumlah kebutuhan pangan masyarakat hanya 70.000 ton. Sedangkan, produksi padi dalam setahun kita mencapai 363.000 ton. Jadi, masih aman,’’ ungkapnya.

Sumanto menyebutkan, saat ini luas lahan produktif di Kabupaten Madiun mencapai 92.000 hektare. Di mana setiap hektarenya menghasilkan produksi padi sekitar 6 ton dengan kondisi kualitas 70 persen. ‘’Kita masih surplus produksi padi,’’ ujarnya.

Diakuinya, Kabupaten Madiun merupakan lumbung padi nasional. Karena dalam setahun petani bisa panen tiga kali. Produksi padi yang dihasilkan juga melimpah. ‘’Jumlah penurunan produksi tidak hanya disebabkan oleh kekeringan. Serangan hama juga bisa mengakibatkan berkurangnya pasokan padi,’’ terangnya. (mgc/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/