alexametrics
24.6 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

IPM Kota Madiun Nomor Tiga Jatim 

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat turut menentukan kemajuan suatu daerah. Salah satu tolok ukurnya indeks pembangunan manusia (IPM). Dari tahun ke tahun IPM Kota Madiun konsisten naik. Tahun ini mencapai 81,25. ‘’Ini termasuk kategori sangat tinggi,’’ kata Wali Kota Maidi kemarin (27/11).

Pun, membawa Kota Madiun ke urutan ketiga daerah dengan IPM tertinggi di Jawa Timur (Jatim). Di bawah Kota Surabaya 82,04 dan Kota Malang 82,04. ‘’Artinya, dibandingkan kota-kota lain, Kota Madiun bagus. Karena semua yang dilihat ini IPM,’’ ujarnya.

Maidi mengatakan, IPM tahun ini tumbuh 0,34 dari 2020 di angka 80,91. Pertumbuhan tersebut cukup menggembirakan lantaran tidak termasuk tiga daerah dengan pertumbuhan IPM terendah. Yakni, Kota Surabaya tumbuh 0,09, Sampang 0,15, dan Tulungagung 0,20. ‘’Kita kalah dengan Kota Malang dan Surabaya. Ya jelas, dua kota itu PAD (pendapatan asli daerah, Red)-nya triliunan, perguruan tinggi banyak, RS luar biasa,’’ tuturnya.

Sejumlah komponen penghitungan berkontribusi menaikkan IPM Kota Madiun. Yakni, umur harapan hidup (UHH) 72,83 tahun, harapan lama sekolah (HLS) 14,41 tahun, rata-rata lama sekolah (RLS) 11,37 tahun. Serta pengeluaran per kapita (PPP) Rp 16,09 juta. ‘’Indikator ini kaitannya dengan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang menjadi fokus layanan dasar ke masyarakat. Semua meningkat,’’ ungkap Maidi.

Baca Juga :  Mahasiswa Kurang Mampu Dibiayai Pemkot

Tren kenaikan IPM Kota Madiun terjadi sejak 2014 lalu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, IPM kota ini 78,81 pada 2014, kemudian 79,84 (2015), 80,01 (2016), 80,13 (2017), 80,33 (2018). Selanjutnya 80,88 (2019) dan 80,91 (2020). 

Maidi menjelaskan, IPM dapat digunakan menakar keberhasilan pembangunan dalam menciptakan SDM berkualitas. Pun, dapat dijadikan indikator target pembangunan pemerintah daerah. IPM turut digunakan sebagai alokator dalam penentuan dana alokasi umum (DAU). ‘’Jadi, maju mundurnya kota ini, salah satunya dilihat dari IPM. Kalau menurun berarti kotanya mundur, kalau naik berarti kotanya semakin maju,’’ terangnya.

Peningkatan IPM, lanjut Maidi, turut menekan angka kemiskinan. Kemiskinan di kota ini di urutan ketiga dari bawah, yakni 4,31. Sementara Presiden Joko Widodo menginstruksikan daerah menekan angka kemiskinan sampai di bawah angka 8. ‘’Kalau nanti 40 ribu mahasiswa masuk lagi, ekonomi jalan. Tinggal langkah apa yang kita tentukan, akan kita siapkan,’’ ujarnya.

Maidi menambahkan, tahun ini pemkot telah memperbaiki 133 rumah tidak layak huni (RTLH). Perbaikan juga menyentuh ekonomi masyarakat dengan penambahan sejumlah komponen untuk usaha keluarga penerima manfaat. ‘’Kita kasih meja, modal, akhirnya bisa jualan, agar produktif. Maka, kemiskinan dapat ditekan,’’ jelasnya. (kid/c1/sat/her) 

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat turut menentukan kemajuan suatu daerah. Salah satu tolok ukurnya indeks pembangunan manusia (IPM). Dari tahun ke tahun IPM Kota Madiun konsisten naik. Tahun ini mencapai 81,25. ‘’Ini termasuk kategori sangat tinggi,’’ kata Wali Kota Maidi kemarin (27/11).

Pun, membawa Kota Madiun ke urutan ketiga daerah dengan IPM tertinggi di Jawa Timur (Jatim). Di bawah Kota Surabaya 82,04 dan Kota Malang 82,04. ‘’Artinya, dibandingkan kota-kota lain, Kota Madiun bagus. Karena semua yang dilihat ini IPM,’’ ujarnya.

Maidi mengatakan, IPM tahun ini tumbuh 0,34 dari 2020 di angka 80,91. Pertumbuhan tersebut cukup menggembirakan lantaran tidak termasuk tiga daerah dengan pertumbuhan IPM terendah. Yakni, Kota Surabaya tumbuh 0,09, Sampang 0,15, dan Tulungagung 0,20. ‘’Kita kalah dengan Kota Malang dan Surabaya. Ya jelas, dua kota itu PAD (pendapatan asli daerah, Red)-nya triliunan, perguruan tinggi banyak, RS luar biasa,’’ tuturnya.

Sejumlah komponen penghitungan berkontribusi menaikkan IPM Kota Madiun. Yakni, umur harapan hidup (UHH) 72,83 tahun, harapan lama sekolah (HLS) 14,41 tahun, rata-rata lama sekolah (RLS) 11,37 tahun. Serta pengeluaran per kapita (PPP) Rp 16,09 juta. ‘’Indikator ini kaitannya dengan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang menjadi fokus layanan dasar ke masyarakat. Semua meningkat,’’ ungkap Maidi.

Baca Juga :  Libur Nataru, Aturan Perjalanan dengan Kereta Api Diperketat

Tren kenaikan IPM Kota Madiun terjadi sejak 2014 lalu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, IPM kota ini 78,81 pada 2014, kemudian 79,84 (2015), 80,01 (2016), 80,13 (2017), 80,33 (2018). Selanjutnya 80,88 (2019) dan 80,91 (2020). 

Maidi menjelaskan, IPM dapat digunakan menakar keberhasilan pembangunan dalam menciptakan SDM berkualitas. Pun, dapat dijadikan indikator target pembangunan pemerintah daerah. IPM turut digunakan sebagai alokator dalam penentuan dana alokasi umum (DAU). ‘’Jadi, maju mundurnya kota ini, salah satunya dilihat dari IPM. Kalau menurun berarti kotanya mundur, kalau naik berarti kotanya semakin maju,’’ terangnya.

Peningkatan IPM, lanjut Maidi, turut menekan angka kemiskinan. Kemiskinan di kota ini di urutan ketiga dari bawah, yakni 4,31. Sementara Presiden Joko Widodo menginstruksikan daerah menekan angka kemiskinan sampai di bawah angka 8. ‘’Kalau nanti 40 ribu mahasiswa masuk lagi, ekonomi jalan. Tinggal langkah apa yang kita tentukan, akan kita siapkan,’’ ujarnya.

Maidi menambahkan, tahun ini pemkot telah memperbaiki 133 rumah tidak layak huni (RTLH). Perbaikan juga menyentuh ekonomi masyarakat dengan penambahan sejumlah komponen untuk usaha keluarga penerima manfaat. ‘’Kita kasih meja, modal, akhirnya bisa jualan, agar produktif. Maka, kemiskinan dapat ditekan,’’ jelasnya. (kid/c1/sat/her) 

Most Read

Artikel Terbaru

/