alexametrics
23.9 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Jadikan Sumpah Pemuda Momentum Pemersatu Bangsa

TONGGAK perjuangan bangsa ini mengakar kuat di Kota Madiun. Sejarah mencatat lahirnya dua organisasi kepemudaan besar. Tentara Genie Pelajar (TGP) dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Saat kedaulatan negeri ini terancam pecah, perjuangan mereka tak sejengkal pun goyah.

………………………..

Engkau kota yang bersemayam di Jawa. Di punggung Pulau Jawa bagian timur. Kota yang pernah dipimpin seorang ratu. Retno Djumilah berjaya di masa lalu. Brem makanan khas kotaku. Nasi pecel kang kesohor. Sejarah kelam masa lalu. Dengan industri kereta api.

Puisi berjudul Kota Kelahiranku karya Erlen Rasya Y., siswa kelas VI, itu dibacakan Maharani Ayu Ing Ratri siswa kelas IV dengan penuh penghayatan. Cukup mencuri perhatian dalam peluncurannya di SDN 01 Nambangan Lor. ‘’Ini persembahan kami untuk meramaikan bulan bahasa dan Sumpah Pemuda,’’ kata Kepala SDN 01 Nambangan Lor Sugiyono.

Wujud cinta tanah air ditunjukkan siswa dalam antologi Bait untuk Kotaku. Sebanyak 103 puisi tertulis dalam bahasa Indonesia. Sementara, Aku Madiunku terdiri 55 geguritan dan 50 parikan dalam bahasa Jawa. Wujud kecintaan sejak dini terhadap bahasa daerah. ‘’Sesuai dengan yang kami ajarkan di sekolah,’’ ujarnya.

Dua buku itu menjadi hasil akhir dari gerakan literasi setiap Rabu. Seminggu sekali sekolah ini mengadakan berbagai kegiatan berbasis literasi. Mulai menerjemahkan berita-berita di koran Jawa Pos Radar Madiun ke dalam bahasa Jawa; mewajibkan siswa menggunakan bahasa Jawa halus seharian penuh; hingga mendorong penulisan puisi, geguritan, dan parikan. ‘’Prosesnya panjang,’’ ungkap Sugiyono.

Buku itu disusun dalam waktu sebulan terakhir. Tahapannya mulai seleksi karya, penyuntingan, hingga penyusunan naskah. Karya-karya itu juga menggambarkan Kota Madiun dari sudut pandang anak-anak. Ada yang menyampaikan harapan, kebanggaan terhadap kota kelahiran, hingga mengajak seluruh warga untuk memajukan kota setempat. ‘’Semoga menjadi stimulus bagi anak-anak lainnya untuk berkarya,’’ harapnya.

Ajar Putro Dewantoro, peneliti sejarah sekaligus ketua komite SDN 01 Nambangan Lor, menjelaskan bahwa kedua antologi itu seolah mengembalikan semangat pemuda di masa perjuangan. Di kota ini, sempat lahir dua organisasi besar berisikan para pemuda. Pertama, Tentara Genie Pelajar (TGP) yang berisikan anak-anak pelajar dari sekolah teknik. Sisa perjuangan mereka masih membekas di SMPN 12 Kota Madiun. Ada bangunan yang masih tetap bertahan dan dijadikan ruang kantor di sekolah setempat. ‘’Ditemukan juga beberapa mortir. Saat ini pun ada monumen untuk mengabadikan perjuangan mereka,’’ kata Ajar.

Di era perjuangan, para pelajar teknik itu bersekolah di pagi hari. Lalu, kokang senjata membantu perjuangan dalam barisan TGP. Perjuangan mereka terhubung dan seangkatan dengan organisasi kedua. Yakni, Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Pendirian organisasi pelajar nonsekolah teknik di kota ini dibanjiri pengungsi dari Surabaya akibat Agresi Militer Belanda I 1947. Dalam rombongan pengungsi itu terdapat pasukan TRIP dari Batalyon 1.000 di bawah pimpinan Koesoemo Hadi. Ketika itu, di kota ini juga telah berdiri Batalyon 2.000 yang dipimpin Achmad Effendi. Anggotanya terdiri pelajar Kota Madiun dan Bojonegoro. ‘’Karena ada perubahan situasi, struktur organisasi TRIP diubah menjadi komando-komando,’’ terang Ajar.

Batalyon 1.000 dan 2.000 dilebur menjadi Komando I dibawah pimpinan Koesoemo Hadi. Karena itu, markas Komando I TRIP menempati markas eks Batalyon 2.000 di ujung jalan raya dekat simpang empat tugu. Pada 18 September 1948 terjadi kekacauan saat laskar Pesindo di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI) mengambil alih kekuasaan Pemerintah RI di Madiun. Mereka melucuti dan menguasai hampir semua kesatuan bersenjata dan posisi penting serta unit-unit kecil di kota setempat. Usaha penguasaan itu dimaksudkan untuk membujuk Komando I TRIP agar bersedia bergabung. ‘’Ketika itu, pelajar secara tegas menyatakan tetap setia pada pemerintah RI dan menolak bergabung. Ceritanya masih panjang,’’ bebernya.

Lewat kedua buku itu, anak-anak ingin menunjukkan adanya pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan untuk membangun kota yang lebih maju. Pekerjaan itu kini berada di pundak anak muda. Dengan tantangan zaman, teknologi yang melesat, dan permasalahan kompleks seputar remaja. ‘’Mengapa menggunakan bahasa daerah? Karena itulah kearifan yang harus dijaga oleh generasi penerus. Lalu ada puisi berbahasa Indonesia, karena secara jelas dalam Sumpah Pemuda terselipkan tonggak cinta bahasa Indonesia. Kedua buku ini menarik meskipun hanya diungkapkan dengan bahasa sederhana ’’ala kadarnya’’ dari sudut pandang anak-anak,’’ paparnya. (kid/fin/c1)

Ayo, Serius Berbahasa Indonesia!

Baca Juga :  Coblosan Ulang Diklaim Tak Ganggu Rekapitulasi

PENGGUNAAN bahasa Indonesia secara tegas diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63/2019 yang baru disahkan 30 September lalu. Bahkan aturan itu memiliki mekanisme sanksi yang bakal tertuang dalam peraturan daerah (perda).

Wali Kota Madiun Maidi mengungkapkan, seluruh mekanisme dan pasal-pasal dalam perpres tersebut bakal digodok secara matang. Termasuk mekanisme sanksi yang bakal dituangkan dalam perda yang menjadi aturan turunan dalam pelaksanaan perpres di daerah. ‘’Jadi, seluruh warga kota harus menggunakan bahasa sesuai tata bahasa yang berlaku. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa kita,’’ tegas Maidi.

Dalam waktu dekat, pemkot bakal membahas dan menggodok perda turunan tersebut. Itu dapat dilakukan setelah pedoman pengawasan penggunaan bahasa Indonesia yang disusun menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) selesai dirancang. Mendikbud menjadi pihak yang diamanati untuk membuat pedoman tersebut. ‘’Penggunaan bahasa Indonesia nanti harus jelas sesuai aturan yang berlaku,’’ katanya.

Pedoman itu akan menjadi acuan bagi pemkot untuk menyusun perda. Selanjutnya diturunkan ke Pemprov Jatim sebelum akhirnya diteruskan ke daerah. ‘’Perda turunan nanti akan kami sampaikan yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan perpres,’’ jelasnya.

Maidi menyebut bahwa langkah itu menjadi ikhtiar menempatkan bahasa Indonesia pada kedudukan terhormat. Dalam penerapan aturan tersebut, penggunaan bahasa Indonesia bakal diatur secara menyeluruh. ‘’Bahasa Indonesia identitas bangsa, identitas kita semuanya,’’ tekannya.

Salah satu pasal di perpres itu, seperti dikutip laman setkab.go.id, menyebutkan bahwa bangunan atau gedung, apartemen atau permukiman, perkantoran, dan kompleks perdagangan yang dimiliki warga Indonesia atau badan hukum Indonesia wajib menggunakan bahasa Indonesia. Kecuali diberikan kepada tempat yang memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, dan atau keagamaan. ‘’Termasuk pasal ini nanti juga bakal dibahas saat penyusunan perda,’’ sambung Maidi.

Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar mata pelajaran bahasa Indonesia, pendidikan agama, dan mata pelajaran terkait pendidikan kewarganegaraan di lembaga pendidikan. Pun wajib digunakan dalam administrasi publik di instansi pemerintahan serta pada bidang lainnya. ‘’Sekali lagi nanti akan kami godok setiap pasal dalam perpres tersebut dalam penyusunan perda,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Politik Berbahasa Junjung Martabat Bangsa

‘’Bayangkan, kita punya ratusan bahasa daerah. Jika masing-masing daerah mengunggulkan bahasanya sendiri, apa yang terjadi?’’ PARJI, Rektor Unipma

SUMPAH Pemuda menjadi penguat implementasi dan aktualisasi bahasa Indonesia ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini harus dimaknai sebagai upaya pemersatu bangsa. Sejalan dengan semangat kelahirannya. Ketika itu para pemuda terpelajar dari berbagai suku dan bangsa berkumpul. Menyepakati bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi. ‘’Bayangkan, kita punya ratusan bahasa daerah. Jika masing-masing daerah mengunggulkan bahasanya sendiri, apa yang terjadi?’’ kata Parji, rektor Universitas PGRI Madiun (Unipma).

Sanksi tegas harus diterapkan bagi perusahaan yang enggan menggunakan bahasa Indonesia untuk penamaan apartemen, hotel, iklan, pusat perbelanjaan, dan gedung lainnya. ‘’Nah, inilah pentingnya politik berbahasa,’’ ujarnya.

Dengan jalan itu, Parji optimistis bahasa Indonesia kelak dapat menjadi bahasa internasional. Saat ini, orang Indonesia dituntut menguasai bahasa Inggris ketika ke luar negeri. Karenanya, orang luar pun harus menguasai bahasa Indonesia saat mendatangi negeri ini. ‘’Kuatkan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing. Ini penting agar kita memiliki daya saing yang tinggi,’’ bebernya.

Peringatan Sumpah Pemuda juga harus ditunjukkan dengan sumbangsih nyata. Jangan seremonial belaka. Agar tidak kehilangan substansinya. ‘’Jangan sampai substansi sejarah itu terlepas. Sumpah Pemuda terlahir dari proses berpikir yang panjang,’’ jelasnya.

Parji pun meyakini, Sumpah Pemuda bisa menjadi formula utama dalam mengurai sengkarut persoalan yang melanda negeri ini. Persoalan Papua yang hingga kini menjadi pekerjaan besar pemerintah harus segera ditangani dengan mengembalikan roh Sumpah Pemuda. ‘’Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bangsa,’’ tuturnya.

Benang merah dari peringatan ini adalah refleksi bahwa ada proses panjang dalam pembentukan NKRI. Sehingga, seluruh elemen harus sadar tentang makna Sumpah Pemuda ini. ‘’Ini momen tepat untuk merefleksikan peran pemuda pendahulu kita dengan pemikiran yang luar biasa untuk mempersatukan bangsa,’’ imbuh Parji.

Dia juga mengapresiasi peluncuran buku antologi yang diprakarsai anak-anak sekolah dasar di kota ini. Wujud nyata mencintai bulan bahasa lewat jalan literasi ini patut dijadikan model pembelajaran di sekolah lainnya. ‘’Semoga semua pemuda bersatu untuk kemajuan kota ini. Tidak hanya berpikir, tapi juga dilaksanakan dengan wujud nyata,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

TONGGAK perjuangan bangsa ini mengakar kuat di Kota Madiun. Sejarah mencatat lahirnya dua organisasi kepemudaan besar. Tentara Genie Pelajar (TGP) dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Saat kedaulatan negeri ini terancam pecah, perjuangan mereka tak sejengkal pun goyah.

………………………..

Engkau kota yang bersemayam di Jawa. Di punggung Pulau Jawa bagian timur. Kota yang pernah dipimpin seorang ratu. Retno Djumilah berjaya di masa lalu. Brem makanan khas kotaku. Nasi pecel kang kesohor. Sejarah kelam masa lalu. Dengan industri kereta api.

Puisi berjudul Kota Kelahiranku karya Erlen Rasya Y., siswa kelas VI, itu dibacakan Maharani Ayu Ing Ratri siswa kelas IV dengan penuh penghayatan. Cukup mencuri perhatian dalam peluncurannya di SDN 01 Nambangan Lor. ‘’Ini persembahan kami untuk meramaikan bulan bahasa dan Sumpah Pemuda,’’ kata Kepala SDN 01 Nambangan Lor Sugiyono.

Wujud cinta tanah air ditunjukkan siswa dalam antologi Bait untuk Kotaku. Sebanyak 103 puisi tertulis dalam bahasa Indonesia. Sementara, Aku Madiunku terdiri 55 geguritan dan 50 parikan dalam bahasa Jawa. Wujud kecintaan sejak dini terhadap bahasa daerah. ‘’Sesuai dengan yang kami ajarkan di sekolah,’’ ujarnya.

Dua buku itu menjadi hasil akhir dari gerakan literasi setiap Rabu. Seminggu sekali sekolah ini mengadakan berbagai kegiatan berbasis literasi. Mulai menerjemahkan berita-berita di koran Jawa Pos Radar Madiun ke dalam bahasa Jawa; mewajibkan siswa menggunakan bahasa Jawa halus seharian penuh; hingga mendorong penulisan puisi, geguritan, dan parikan. ‘’Prosesnya panjang,’’ ungkap Sugiyono.

Buku itu disusun dalam waktu sebulan terakhir. Tahapannya mulai seleksi karya, penyuntingan, hingga penyusunan naskah. Karya-karya itu juga menggambarkan Kota Madiun dari sudut pandang anak-anak. Ada yang menyampaikan harapan, kebanggaan terhadap kota kelahiran, hingga mengajak seluruh warga untuk memajukan kota setempat. ‘’Semoga menjadi stimulus bagi anak-anak lainnya untuk berkarya,’’ harapnya.

Ajar Putro Dewantoro, peneliti sejarah sekaligus ketua komite SDN 01 Nambangan Lor, menjelaskan bahwa kedua antologi itu seolah mengembalikan semangat pemuda di masa perjuangan. Di kota ini, sempat lahir dua organisasi besar berisikan para pemuda. Pertama, Tentara Genie Pelajar (TGP) yang berisikan anak-anak pelajar dari sekolah teknik. Sisa perjuangan mereka masih membekas di SMPN 12 Kota Madiun. Ada bangunan yang masih tetap bertahan dan dijadikan ruang kantor di sekolah setempat. ‘’Ditemukan juga beberapa mortir. Saat ini pun ada monumen untuk mengabadikan perjuangan mereka,’’ kata Ajar.

Di era perjuangan, para pelajar teknik itu bersekolah di pagi hari. Lalu, kokang senjata membantu perjuangan dalam barisan TGP. Perjuangan mereka terhubung dan seangkatan dengan organisasi kedua. Yakni, Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Pendirian organisasi pelajar nonsekolah teknik di kota ini dibanjiri pengungsi dari Surabaya akibat Agresi Militer Belanda I 1947. Dalam rombongan pengungsi itu terdapat pasukan TRIP dari Batalyon 1.000 di bawah pimpinan Koesoemo Hadi. Ketika itu, di kota ini juga telah berdiri Batalyon 2.000 yang dipimpin Achmad Effendi. Anggotanya terdiri pelajar Kota Madiun dan Bojonegoro. ‘’Karena ada perubahan situasi, struktur organisasi TRIP diubah menjadi komando-komando,’’ terang Ajar.

Batalyon 1.000 dan 2.000 dilebur menjadi Komando I dibawah pimpinan Koesoemo Hadi. Karena itu, markas Komando I TRIP menempati markas eks Batalyon 2.000 di ujung jalan raya dekat simpang empat tugu. Pada 18 September 1948 terjadi kekacauan saat laskar Pesindo di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI) mengambil alih kekuasaan Pemerintah RI di Madiun. Mereka melucuti dan menguasai hampir semua kesatuan bersenjata dan posisi penting serta unit-unit kecil di kota setempat. Usaha penguasaan itu dimaksudkan untuk membujuk Komando I TRIP agar bersedia bergabung. ‘’Ketika itu, pelajar secara tegas menyatakan tetap setia pada pemerintah RI dan menolak bergabung. Ceritanya masih panjang,’’ bebernya.

Lewat kedua buku itu, anak-anak ingin menunjukkan adanya pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan untuk membangun kota yang lebih maju. Pekerjaan itu kini berada di pundak anak muda. Dengan tantangan zaman, teknologi yang melesat, dan permasalahan kompleks seputar remaja. ‘’Mengapa menggunakan bahasa daerah? Karena itulah kearifan yang harus dijaga oleh generasi penerus. Lalu ada puisi berbahasa Indonesia, karena secara jelas dalam Sumpah Pemuda terselipkan tonggak cinta bahasa Indonesia. Kedua buku ini menarik meskipun hanya diungkapkan dengan bahasa sederhana ’’ala kadarnya’’ dari sudut pandang anak-anak,’’ paparnya. (kid/fin/c1)

Ayo, Serius Berbahasa Indonesia!

Baca Juga :  Coblosan Ulang Diklaim Tak Ganggu Rekapitulasi

PENGGUNAAN bahasa Indonesia secara tegas diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63/2019 yang baru disahkan 30 September lalu. Bahkan aturan itu memiliki mekanisme sanksi yang bakal tertuang dalam peraturan daerah (perda).

Wali Kota Madiun Maidi mengungkapkan, seluruh mekanisme dan pasal-pasal dalam perpres tersebut bakal digodok secara matang. Termasuk mekanisme sanksi yang bakal dituangkan dalam perda yang menjadi aturan turunan dalam pelaksanaan perpres di daerah. ‘’Jadi, seluruh warga kota harus menggunakan bahasa sesuai tata bahasa yang berlaku. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa kita,’’ tegas Maidi.

Dalam waktu dekat, pemkot bakal membahas dan menggodok perda turunan tersebut. Itu dapat dilakukan setelah pedoman pengawasan penggunaan bahasa Indonesia yang disusun menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) selesai dirancang. Mendikbud menjadi pihak yang diamanati untuk membuat pedoman tersebut. ‘’Penggunaan bahasa Indonesia nanti harus jelas sesuai aturan yang berlaku,’’ katanya.

Pedoman itu akan menjadi acuan bagi pemkot untuk menyusun perda. Selanjutnya diturunkan ke Pemprov Jatim sebelum akhirnya diteruskan ke daerah. ‘’Perda turunan nanti akan kami sampaikan yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan perpres,’’ jelasnya.

Maidi menyebut bahwa langkah itu menjadi ikhtiar menempatkan bahasa Indonesia pada kedudukan terhormat. Dalam penerapan aturan tersebut, penggunaan bahasa Indonesia bakal diatur secara menyeluruh. ‘’Bahasa Indonesia identitas bangsa, identitas kita semuanya,’’ tekannya.

Salah satu pasal di perpres itu, seperti dikutip laman setkab.go.id, menyebutkan bahwa bangunan atau gedung, apartemen atau permukiman, perkantoran, dan kompleks perdagangan yang dimiliki warga Indonesia atau badan hukum Indonesia wajib menggunakan bahasa Indonesia. Kecuali diberikan kepada tempat yang memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, dan atau keagamaan. ‘’Termasuk pasal ini nanti juga bakal dibahas saat penyusunan perda,’’ sambung Maidi.

Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar mata pelajaran bahasa Indonesia, pendidikan agama, dan mata pelajaran terkait pendidikan kewarganegaraan di lembaga pendidikan. Pun wajib digunakan dalam administrasi publik di instansi pemerintahan serta pada bidang lainnya. ‘’Sekali lagi nanti akan kami godok setiap pasal dalam perpres tersebut dalam penyusunan perda,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Politik Berbahasa Junjung Martabat Bangsa

‘’Bayangkan, kita punya ratusan bahasa daerah. Jika masing-masing daerah mengunggulkan bahasanya sendiri, apa yang terjadi?’’ PARJI, Rektor Unipma

SUMPAH Pemuda menjadi penguat implementasi dan aktualisasi bahasa Indonesia ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini harus dimaknai sebagai upaya pemersatu bangsa. Sejalan dengan semangat kelahirannya. Ketika itu para pemuda terpelajar dari berbagai suku dan bangsa berkumpul. Menyepakati bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi. ‘’Bayangkan, kita punya ratusan bahasa daerah. Jika masing-masing daerah mengunggulkan bahasanya sendiri, apa yang terjadi?’’ kata Parji, rektor Universitas PGRI Madiun (Unipma).

Sanksi tegas harus diterapkan bagi perusahaan yang enggan menggunakan bahasa Indonesia untuk penamaan apartemen, hotel, iklan, pusat perbelanjaan, dan gedung lainnya. ‘’Nah, inilah pentingnya politik berbahasa,’’ ujarnya.

Dengan jalan itu, Parji optimistis bahasa Indonesia kelak dapat menjadi bahasa internasional. Saat ini, orang Indonesia dituntut menguasai bahasa Inggris ketika ke luar negeri. Karenanya, orang luar pun harus menguasai bahasa Indonesia saat mendatangi negeri ini. ‘’Kuatkan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing. Ini penting agar kita memiliki daya saing yang tinggi,’’ bebernya.

Peringatan Sumpah Pemuda juga harus ditunjukkan dengan sumbangsih nyata. Jangan seremonial belaka. Agar tidak kehilangan substansinya. ‘’Jangan sampai substansi sejarah itu terlepas. Sumpah Pemuda terlahir dari proses berpikir yang panjang,’’ jelasnya.

Parji pun meyakini, Sumpah Pemuda bisa menjadi formula utama dalam mengurai sengkarut persoalan yang melanda negeri ini. Persoalan Papua yang hingga kini menjadi pekerjaan besar pemerintah harus segera ditangani dengan mengembalikan roh Sumpah Pemuda. ‘’Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bangsa,’’ tuturnya.

Benang merah dari peringatan ini adalah refleksi bahwa ada proses panjang dalam pembentukan NKRI. Sehingga, seluruh elemen harus sadar tentang makna Sumpah Pemuda ini. ‘’Ini momen tepat untuk merefleksikan peran pemuda pendahulu kita dengan pemikiran yang luar biasa untuk mempersatukan bangsa,’’ imbuh Parji.

Dia juga mengapresiasi peluncuran buku antologi yang diprakarsai anak-anak sekolah dasar di kota ini. Wujud nyata mencintai bulan bahasa lewat jalan literasi ini patut dijadikan model pembelajaran di sekolah lainnya. ‘’Semoga semua pemuda bersatu untuk kemajuan kota ini. Tidak hanya berpikir, tapi juga dilaksanakan dengan wujud nyata,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/