alexametrics
31.8 C
Madiun
Tuesday, August 16, 2022

Agus Budhiarto, PNS Pemkot yang Perajin Pohon Imitasi

Ide kreativitas bisa datang dari mana saja. Berawal dari melihat ranting pohon berserakan, Agus Budhiarto mampu menyulapnya menjadi barang bernilai ekonomi. Yakni, pohon imitasi yang harga jualnya mencapai jutaan rupiah.

=================

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

DENGAN telaten Agus Budhiarto mengampelas bonggol jati berdiameter sekitar 30 sentimeter. Berulang kali ampelas digosokkan hingga kayu itu benar-benar halus. Setelah itu, dia mengoleskan pelitur. Proses finishing tersebut dilakukan sebanyak tiga kali.

Setelah pelitur kering, batang kayu diberi beberapa lubang kecil. Lalu dipasangi daun beringin imitasi dengan lem tembak agar menancap kuat. Belum selesai, Agus menambahkan sulur beringin asli hingga tampak natural meski daunnya dari bahan tiruan.

Proses terakhir adalah melapisi pot bunga dari bahan semen dengan plastik atau koran. Tujuannya agar pot tidak rusak saat memuai. ”Dulu pernah lima pohon pecah gara-gara semennya memuai,’’ ujar PNS Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Madiun tersebut.

Agus menekuni kerajinan pohon imitasi sejak dua setengah tahun lalu. Bermula saat melihat ranting pohon berserakan di sekitar RSUD Sogaten, tempat dinasnya dulu. Dari situlah muncul ide untuk mengolah limbah tersebut menjadi barang yang bernilai ekonomi.

Agus lantas berburu tutorial di YouTube. Hasilnya, limbah itu mampu disulap menjadi kerajinan yang bisa laku terjual hingga jutaan rupiah. ”Hobi dan kesenangan yang menghasilkan uang,’’ kata warga Jalan Kerto Manis I, Perumnas Manisrejo I, itu.

Baca Juga :  Percepat Herd Immunity, Pemkab Ngawi Tambah Vaksinator

Kini Agus memanfaatkan berbagai jenis limbah kayu untuk membuat pohon imitasi. Mulai jati, teh, kopi, mahoni, hingga serut. Sedangkan daun dan bunga tiruannya dibeli dari Solo. ”Satu lusin bunga atau daun harganya Rp 120 ribu-Rp 150 ribu,’’ tutur pria 51 tahun tersebut.

Hingga kini ratusan pohon imitasi yang sudah dihasilkan Agus. Pun, telah dipajang di berbagai kantor instansi pemerintah seperti inspektorat dan dinas sosial PPPA. Saat ini dia sedang menggarap pesanan pohon imitasi untuk Dinas Kominfo Kota Madiun. ”Pejabat maupun warga biasa yang pesan juga banyak,’’ terangnya.

Untuk pohon berukuran besar –tinggi 2 hingga 3 meter- Agus membanderol dengan harga Rp 1,75 juta. Sedangkan ukuran sedang berkisar Rp 500 ribu-Rp 600 ribu. Sementara, ukuran kecil seharga Rp 100 ribu. ‘’Kebanyakan orang tahunya dari mulut ke mulut dan media sosial,’’ ungkapnya.

Selain memproduksi, Agus kerap memberi pelatihan secara cuma-cuma ke kelurahan-kelurahan tentang cara pembuatan pohon imitasi. ‘’Sekali pelatihan bisa sampai 50 ibu PKK yang ikut,’’ sebutnya. *** (isd/c1)

Ide kreativitas bisa datang dari mana saja. Berawal dari melihat ranting pohon berserakan, Agus Budhiarto mampu menyulapnya menjadi barang bernilai ekonomi. Yakni, pohon imitasi yang harga jualnya mencapai jutaan rupiah.

=================

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

DENGAN telaten Agus Budhiarto mengampelas bonggol jati berdiameter sekitar 30 sentimeter. Berulang kali ampelas digosokkan hingga kayu itu benar-benar halus. Setelah itu, dia mengoleskan pelitur. Proses finishing tersebut dilakukan sebanyak tiga kali.

Setelah pelitur kering, batang kayu diberi beberapa lubang kecil. Lalu dipasangi daun beringin imitasi dengan lem tembak agar menancap kuat. Belum selesai, Agus menambahkan sulur beringin asli hingga tampak natural meski daunnya dari bahan tiruan.

Proses terakhir adalah melapisi pot bunga dari bahan semen dengan plastik atau koran. Tujuannya agar pot tidak rusak saat memuai. ”Dulu pernah lima pohon pecah gara-gara semennya memuai,’’ ujar PNS Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Madiun tersebut.

Agus menekuni kerajinan pohon imitasi sejak dua setengah tahun lalu. Bermula saat melihat ranting pohon berserakan di sekitar RSUD Sogaten, tempat dinasnya dulu. Dari situlah muncul ide untuk mengolah limbah tersebut menjadi barang yang bernilai ekonomi.

Agus lantas berburu tutorial di YouTube. Hasilnya, limbah itu mampu disulap menjadi kerajinan yang bisa laku terjual hingga jutaan rupiah. ”Hobi dan kesenangan yang menghasilkan uang,’’ kata warga Jalan Kerto Manis I, Perumnas Manisrejo I, itu.

Baca Juga :  Butuh Waktu Lama Tertibkan Waria

Kini Agus memanfaatkan berbagai jenis limbah kayu untuk membuat pohon imitasi. Mulai jati, teh, kopi, mahoni, hingga serut. Sedangkan daun dan bunga tiruannya dibeli dari Solo. ”Satu lusin bunga atau daun harganya Rp 120 ribu-Rp 150 ribu,’’ tutur pria 51 tahun tersebut.

Hingga kini ratusan pohon imitasi yang sudah dihasilkan Agus. Pun, telah dipajang di berbagai kantor instansi pemerintah seperti inspektorat dan dinas sosial PPPA. Saat ini dia sedang menggarap pesanan pohon imitasi untuk Dinas Kominfo Kota Madiun. ”Pejabat maupun warga biasa yang pesan juga banyak,’’ terangnya.

Untuk pohon berukuran besar –tinggi 2 hingga 3 meter- Agus membanderol dengan harga Rp 1,75 juta. Sedangkan ukuran sedang berkisar Rp 500 ribu-Rp 600 ribu. Sementara, ukuran kecil seharga Rp 100 ribu. ‘’Kebanyakan orang tahunya dari mulut ke mulut dan media sosial,’’ ungkapnya.

Selain memproduksi, Agus kerap memberi pelatihan secara cuma-cuma ke kelurahan-kelurahan tentang cara pembuatan pohon imitasi. ‘’Sekali pelatihan bisa sampai 50 ibu PKK yang ikut,’’ sebutnya. *** (isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/