alexametrics
31 C
Madiun
Thursday, June 30, 2022

Polisi Bongkar Pabrik Miras di Madiun, Rumah Kontrakan Jadi Tempat Produksi

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Polres Madiun Kota berhasil membongkar pabrik minuman keras (miras). Industri minuman beralkohol (minol) itu menempati rumah kontrakan di Sidomulyo, Sawahan, Kabupaten Madiun. Empat pelaku diamankan berikut alat produksi dan miras siap edar yang tersisa.

Kapolres Madiun Kota AKBP Suryono mengatakan, praktik ilegal itu terendus dari peredaran miras di wilayah Kecamatan Kartoharjo dan Manguharjo, Kota Madiun. Dari temuan itu, pihaknya melakukan pengembangan asal muasalnya. ‘’Kami mendapat keterangan dari para penjual miras yang mengarah ke tempat produksi ini,’’ kata Kapolres di tempat kejadian perkara (TKP).

Polisi curiga dengan rumah kontrakan di Jalan Sidotopo, Sidomulyo, itu. Sebab, rumah tersebut tertutup seng rapat. Kecurigaan semakin kuat ketika ditemukan sejumlah drum tetes tebu di TKP. ‘’Saat diperiksa ada sejumlah orang yang tengah memproduksi miras tanpa izin usaha,’’ jelas Suryono.

Empat dari lima orang pelaku pemroduksi miras itu pun diamankan. Mereka adalah SN, 39, warga Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun; NC, 33, warga Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah; serta SEC, 23, dan DRA, 18, warga Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

Sementara seorang pelaku yang diduga kuat sebagai otak home industry arjo (arak jowo) itu belum tertangkap. ‘’Keempat pelaku ini statusnya karyawan produksi hingga pengiriman. Satu orang berinisial S, 38 tahun, warga Kabupaten Lamongan, masih dalam penyelidikan,’’ paparnya.

Polisi juga menyita barang bukti berupa alat produksi dan sisa miras yang belum diedarkan. Antara lain, 45 drum terbuka berisi tetes tebu siap masak, 20 buah jeriken kosong ukuran 30 liter tempat miras, dan tiga buah jeriken ukuran 30 liter yang berisi miras siap jual (selengkapnya lihat grafis).

Baca Juga :  Kurang Banyak, Vaksinasi Guru Baru Mencakup Lima SMA-SMK

Pun, petugas menyegel rumah kontrakan tersebut dengan memasang police line (garis polisi). Barang bukti lainnya, 19 buah jeriken ukuran 30 liter berisi miras siap jual yang diamankan dari rumah kontrakan di Jalan Raya Mojorayung, Wungu, Kabupaten Madiun. ‘’Rumah tersebut dijadikan gudang penyimpanan,’’ ujarnya.

Suryono menambahkan, praktik produksi miras itu telah berjalan satu bulan. Pelaku memproduksi miras dari bahan tetes tebu yang dicampur air. Kemudian, campuran itu difermentasikan selama tiga hari. Selanjutnya dilakukan proses penyulingan dan penyaringan hingga menjadi miras siap jual. ‘’Pelaku bukan warga desa setempat. Mereka sengaja memilih tempat produksi yang minim mobilitas masyarakat,’’ terangnya.

Pelaku menjual miras Rp 370 ribu per jeriken. Dari hasil penjualan barang terlarang itu pelaku meraup keuntungan Rp 20 juta dalam satu bulan. ‘’Miras diedarkan di wilayah Kota Madiun, Kabupaten Madiun, dan Magetan,’’ bebernya.

Para pelaku dijerat lima pasal berlapis. Yakni, pasal 204 ayat (1) KUHP, pasal 62 jo pasal 8 ayat (1) Huruf A dan I UU No. 8/1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Berikutnya pasal 140 dan 142 UURI No. 18/2012 tentang Pangan dan pasal 106 UURI No.7/2014 tentang Perdagangan dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.

‘’Ungkap kasus ini menindaklanjuti operasi Penyakit Masyarakat Semeru 2022 yang berlangsung 23 Mei hingga 3 Juni nanti. Kami imbau masyarakat tidak melanggar aturan pemerintah atau melakukan tindakan melawan hukum,’’ tegasnya. (ggi/c1/sat)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Polres Madiun Kota berhasil membongkar pabrik minuman keras (miras). Industri minuman beralkohol (minol) itu menempati rumah kontrakan di Sidomulyo, Sawahan, Kabupaten Madiun. Empat pelaku diamankan berikut alat produksi dan miras siap edar yang tersisa.

Kapolres Madiun Kota AKBP Suryono mengatakan, praktik ilegal itu terendus dari peredaran miras di wilayah Kecamatan Kartoharjo dan Manguharjo, Kota Madiun. Dari temuan itu, pihaknya melakukan pengembangan asal muasalnya. ‘’Kami mendapat keterangan dari para penjual miras yang mengarah ke tempat produksi ini,’’ kata Kapolres di tempat kejadian perkara (TKP).

Polisi curiga dengan rumah kontrakan di Jalan Sidotopo, Sidomulyo, itu. Sebab, rumah tersebut tertutup seng rapat. Kecurigaan semakin kuat ketika ditemukan sejumlah drum tetes tebu di TKP. ‘’Saat diperiksa ada sejumlah orang yang tengah memproduksi miras tanpa izin usaha,’’ jelas Suryono.

Empat dari lima orang pelaku pemroduksi miras itu pun diamankan. Mereka adalah SN, 39, warga Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun; NC, 33, warga Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah; serta SEC, 23, dan DRA, 18, warga Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

Sementara seorang pelaku yang diduga kuat sebagai otak home industry arjo (arak jowo) itu belum tertangkap. ‘’Keempat pelaku ini statusnya karyawan produksi hingga pengiriman. Satu orang berinisial S, 38 tahun, warga Kabupaten Lamongan, masih dalam penyelidikan,’’ paparnya.

Polisi juga menyita barang bukti berupa alat produksi dan sisa miras yang belum diedarkan. Antara lain, 45 drum terbuka berisi tetes tebu siap masak, 20 buah jeriken kosong ukuran 30 liter tempat miras, dan tiga buah jeriken ukuran 30 liter yang berisi miras siap jual (selengkapnya lihat grafis).

Baca Juga :  Wali Kota Maidi Survei Kelurahan Sambut Jalur Wisata Sepeda

Pun, petugas menyegel rumah kontrakan tersebut dengan memasang police line (garis polisi). Barang bukti lainnya, 19 buah jeriken ukuran 30 liter berisi miras siap jual yang diamankan dari rumah kontrakan di Jalan Raya Mojorayung, Wungu, Kabupaten Madiun. ‘’Rumah tersebut dijadikan gudang penyimpanan,’’ ujarnya.

Suryono menambahkan, praktik produksi miras itu telah berjalan satu bulan. Pelaku memproduksi miras dari bahan tetes tebu yang dicampur air. Kemudian, campuran itu difermentasikan selama tiga hari. Selanjutnya dilakukan proses penyulingan dan penyaringan hingga menjadi miras siap jual. ‘’Pelaku bukan warga desa setempat. Mereka sengaja memilih tempat produksi yang minim mobilitas masyarakat,’’ terangnya.

Pelaku menjual miras Rp 370 ribu per jeriken. Dari hasil penjualan barang terlarang itu pelaku meraup keuntungan Rp 20 juta dalam satu bulan. ‘’Miras diedarkan di wilayah Kota Madiun, Kabupaten Madiun, dan Magetan,’’ bebernya.

Para pelaku dijerat lima pasal berlapis. Yakni, pasal 204 ayat (1) KUHP, pasal 62 jo pasal 8 ayat (1) Huruf A dan I UU No. 8/1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Berikutnya pasal 140 dan 142 UURI No. 18/2012 tentang Pangan dan pasal 106 UURI No.7/2014 tentang Perdagangan dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.

‘’Ungkap kasus ini menindaklanjuti operasi Penyakit Masyarakat Semeru 2022 yang berlangsung 23 Mei hingga 3 Juni nanti. Kami imbau masyarakat tidak melanggar aturan pemerintah atau melakukan tindakan melawan hukum,’’ tegasnya. (ggi/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/