alexametrics
29.8 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Kesederhanaan Serka Suparman di Balik Seragam Tentaranya

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Hawa dingin terasa menusuk tulang pagi itu. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00. Namun, Serka Suparman telah siap berangkat ke tempat dinasnya. Setelah mengeluarkan motor Yamaha V80 keluaran 1979 kesayangannya, dia bergegas berangkat menuju Korem 081/DSJ Madiun. ‘’Biasanya kalau tidak macet di jalan, sampai di korem sekitar pukul 06.45,’’ ujarnya.

Motor tua itu sudah sejak 2017 lalu menemani hari-harinya menjalankan tugas sebagai anggota TNI. Meski sejatinya dari segi keuangan mampu, Suparman enggan membeli kendaraan keluaran terbaru. Itu tidak terlepas dari didikan orang tuanya untuk menjauhi gaya hidup mewah. ‘’Orang tua saya petani. Beliau selalu mengajarkan kepada kami untuk hidup sederhana dan seadanya,’’ tuturnya.

Motor Yamaha V80 itu dibeli Suparman di Caruban beberapa saat setelah dirinya dipindah ke Madiun usai beberapa tahun sebelumnya bertugas di Nusa Tenggara Timur (NTT). ‘’Dulu waktu sekolah juga sempat punya motor dengan merek dan tipe sama, tapi akhirnya dijual,’’ ungkapnya.

Keinginan Suparman menjadi anggota TNI terinspirasi dari sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dikenalnya dari pelajaran sejarah saat masih duduk di bangku SD. ‘’Saya ingin meneruskan perjuangan beliau dengan mengabdikan diri sebagai TNI. Kebetulan, orang tua mendukung,’’ kata warga Desa Sidorejo, Saradan, Kabupaten Madiun, itu.

Baca Juga :  Rp 29 M untuk Rehab 28 Sekolah

Pada 2005, Suparman mendaftar calon tamtama. Namun, dalam dua kesempatan kala itu gagal lolos. Setahun berselang dia mencoba lagi. Namun, nasibnya kembali tidak beruntung. Baru pada kesempatan berikutnya, lewat jalur calon bintara di tahun yang sama, dia lolos dan lulus pendidikan pada 2007. ‘’Kemudian, ditempatkan di NTT sebagai operator staf logistik di Korem 161/Wira Sakti. Saya bertugas di sana selama 10 tahun,” paparnya.

Awal-awal di NTT, pria yang kini berusia 36 tahun itu sempat bingung lantaran sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Pun, budaya maupun karakter masyarakat setempat berbeda. ”Ditambah jauh dari orang tua,” ujarnya.

Penduduk daerah tempatnya bertugas mayoritas beragama Nasrani. Muslim merupakan minoritas. Pun, keberadaan masjid bisa dihitung jari. ”Tapi, alhamdulillah kerukunan antarumat beragama di sana sangat baik. Jika kita berlebaran, umat Nasrani datang ke rumah memberi selamat,” bebernya. ”Sebaliknya, saat Natal kita beri ucapan ke mereka juga,” imbuh Suparman.

Selama bertugas di NTT, Suparman hanya bisa pulang kampung ke Madiun satu atau dua tahun sekali. Akhirnya pada 2017, suami Dyah Ayu Hidayattulloh itu dipindahtugaskan ke Madiun sampai sekarang. (irs/isd/c1/her)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Hawa dingin terasa menusuk tulang pagi itu. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00. Namun, Serka Suparman telah siap berangkat ke tempat dinasnya. Setelah mengeluarkan motor Yamaha V80 keluaran 1979 kesayangannya, dia bergegas berangkat menuju Korem 081/DSJ Madiun. ‘’Biasanya kalau tidak macet di jalan, sampai di korem sekitar pukul 06.45,’’ ujarnya.

Motor tua itu sudah sejak 2017 lalu menemani hari-harinya menjalankan tugas sebagai anggota TNI. Meski sejatinya dari segi keuangan mampu, Suparman enggan membeli kendaraan keluaran terbaru. Itu tidak terlepas dari didikan orang tuanya untuk menjauhi gaya hidup mewah. ‘’Orang tua saya petani. Beliau selalu mengajarkan kepada kami untuk hidup sederhana dan seadanya,’’ tuturnya.

Motor Yamaha V80 itu dibeli Suparman di Caruban beberapa saat setelah dirinya dipindah ke Madiun usai beberapa tahun sebelumnya bertugas di Nusa Tenggara Timur (NTT). ‘’Dulu waktu sekolah juga sempat punya motor dengan merek dan tipe sama, tapi akhirnya dijual,’’ ungkapnya.

Keinginan Suparman menjadi anggota TNI terinspirasi dari sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dikenalnya dari pelajaran sejarah saat masih duduk di bangku SD. ‘’Saya ingin meneruskan perjuangan beliau dengan mengabdikan diri sebagai TNI. Kebetulan, orang tua mendukung,’’ kata warga Desa Sidorejo, Saradan, Kabupaten Madiun, itu.

Baca Juga :  Asih Sumarsih, Sarjana Ekonomi yang Pilih Jadi Guru Pendamping ABK

Pada 2005, Suparman mendaftar calon tamtama. Namun, dalam dua kesempatan kala itu gagal lolos. Setahun berselang dia mencoba lagi. Namun, nasibnya kembali tidak beruntung. Baru pada kesempatan berikutnya, lewat jalur calon bintara di tahun yang sama, dia lolos dan lulus pendidikan pada 2007. ‘’Kemudian, ditempatkan di NTT sebagai operator staf logistik di Korem 161/Wira Sakti. Saya bertugas di sana selama 10 tahun,” paparnya.

Awal-awal di NTT, pria yang kini berusia 36 tahun itu sempat bingung lantaran sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Pun, budaya maupun karakter masyarakat setempat berbeda. ”Ditambah jauh dari orang tua,” ujarnya.

Penduduk daerah tempatnya bertugas mayoritas beragama Nasrani. Muslim merupakan minoritas. Pun, keberadaan masjid bisa dihitung jari. ”Tapi, alhamdulillah kerukunan antarumat beragama di sana sangat baik. Jika kita berlebaran, umat Nasrani datang ke rumah memberi selamat,” bebernya. ”Sebaliknya, saat Natal kita beri ucapan ke mereka juga,” imbuh Suparman.

Selama bertugas di NTT, Suparman hanya bisa pulang kampung ke Madiun satu atau dua tahun sekali. Akhirnya pada 2017, suami Dyah Ayu Hidayattulloh itu dipindahtugaskan ke Madiun sampai sekarang. (irs/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/