alexametrics
24.3 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

RSUD dr Soedono Isolasi Mahasiswa Jinzhou, Ispa atau Korona?

Dua hari berselang setelah merilis kesiapan sebagai rumah sakit rujukan novel coronavirus (2019-nCoV), RSUD dr Soedono, Madiun, menerima pasien dari RSUD Caruban. Seorang mahasiswi Jinzhou Medical University yang baru 11 hari pulang ke tanah air.

……

PASIEN berinisial May itu baru duduk di bangku semester III fakultas kedokteran di Negeri Tirai Bambu. Setelah menjalani pemeriksaan di RSUD Caruban Rabu siang (29/1), malam harinya langsung dirujuk ke RSUD dr Soedono, Madiun. Hasil uji laboratorium sementara menyatakan mahasiswi 19 tahun itu dinyatakan negatif.

Direktur RSUD dr Soedono, Madiun, dr Bangun Tripsila Purwaka menegaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium dan photo thorax diketahui kondisi pasien normal. Pun hasil visite Kamis (30/1) menunjukkan tanda klinis yang sama. Mulai tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu tubuh. ‘’Kami nyatakan kondisi terakhir baik,’’ kata Bangun dalam siaran pers Kamis (30/1).

Bangun menerangkan, yang bersangkutan tetap ditangani sebagai pasien dalam pengawasan. Sehingga tetap dirawat di ruang isolasi dan mendapatkan perawatan sesuai standard operating procedure (SOP) penanganan suspect korona. ‘’Statusnya akan kami turunkan menjadi pasien pemantauan. Jika hasil uji laboratorium  satu-dua hari ke depan tetap normal,’’ jelasnya.

Prosedur perawatan itu tetap dilakukan hingga masa inkubasi terlewati. Seperti diketahui, virus asal daratan China itu memiliki masa inkubasi hingga 14 hari. Jika tanda-tanda atau gejala tidak muncul hingga berakhir masa inkubasi, kemungkinan besar yang bersangkutan dinyatakan negatif. ‘’Kemungkinan besar bukan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Truk BBM Avtur Terguling di Lahan Perhutani Saradan

Pertimbangan lainnya menanti hasil reagen laboratorium dari spesimen. Hasil itu baru dapat diketahui selambatnya 10 hari. Saat ini reagen laboratorium hanya ada di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Jakarta. ‘’Tetap kita menunggu hasil swap itu, tapi dalam pemantauan atau boleh dipulangkan,’’ terangnya.

Kemarin tim khusus yang telah dibentuk rumah sakit berpelat merah milik Pemprov Jatim itu telah mengirimkan sampel dahak ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Madiun untuk diteruskan ke BBLK Surabaya. Sebelum dikirimkan ke BBLK Jakarta.

Ketua Tim Khusus dr Bambang Subarno mengatakan, pasien dimungkinkan menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau flu biasa. Penguatnya hasil laboratorium untuk gejala pneumonia ringan hingga berat berdasarkan gejala klinis dan atau gambaran radiologis menunjukkan negatif. Sementara dua gejala lain yang masih positif yakni demam/riwayat demam, juga batuk/pilek/nyeri tenggorokan. ‘’Besar kemungkinan ISPA biasa,’’ kata Bambang.

Sementara dari tiga faktor risiko, hanya riwayat perjalanan ke China atau wilayah negara yang terjangkit dalam waktu 14 hari timbul gejala yang sesuai. Itu artinya pasien baru menempuh perjalanan dari China karena menjalani studi. ‘’Tidak perlu dikhawatirkan. Kampus asal tetap meminta general check up agar pasien dapat kembali ke sana,’’ ujar dokter spesialis paru itu. (kid/c1/fin)

Dua hari berselang setelah merilis kesiapan sebagai rumah sakit rujukan novel coronavirus (2019-nCoV), RSUD dr Soedono, Madiun, menerima pasien dari RSUD Caruban. Seorang mahasiswi Jinzhou Medical University yang baru 11 hari pulang ke tanah air.

……

PASIEN berinisial May itu baru duduk di bangku semester III fakultas kedokteran di Negeri Tirai Bambu. Setelah menjalani pemeriksaan di RSUD Caruban Rabu siang (29/1), malam harinya langsung dirujuk ke RSUD dr Soedono, Madiun. Hasil uji laboratorium sementara menyatakan mahasiswi 19 tahun itu dinyatakan negatif.

Direktur RSUD dr Soedono, Madiun, dr Bangun Tripsila Purwaka menegaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium dan photo thorax diketahui kondisi pasien normal. Pun hasil visite Kamis (30/1) menunjukkan tanda klinis yang sama. Mulai tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu tubuh. ‘’Kami nyatakan kondisi terakhir baik,’’ kata Bangun dalam siaran pers Kamis (30/1).

Bangun menerangkan, yang bersangkutan tetap ditangani sebagai pasien dalam pengawasan. Sehingga tetap dirawat di ruang isolasi dan mendapatkan perawatan sesuai standard operating procedure (SOP) penanganan suspect korona. ‘’Statusnya akan kami turunkan menjadi pasien pemantauan. Jika hasil uji laboratorium  satu-dua hari ke depan tetap normal,’’ jelasnya.

Prosedur perawatan itu tetap dilakukan hingga masa inkubasi terlewati. Seperti diketahui, virus asal daratan China itu memiliki masa inkubasi hingga 14 hari. Jika tanda-tanda atau gejala tidak muncul hingga berakhir masa inkubasi, kemungkinan besar yang bersangkutan dinyatakan negatif. ‘’Kemungkinan besar bukan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  DLH Belum Survei Peternakan Ayam Ngrayung

Pertimbangan lainnya menanti hasil reagen laboratorium dari spesimen. Hasil itu baru dapat diketahui selambatnya 10 hari. Saat ini reagen laboratorium hanya ada di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Jakarta. ‘’Tetap kita menunggu hasil swap itu, tapi dalam pemantauan atau boleh dipulangkan,’’ terangnya.

Kemarin tim khusus yang telah dibentuk rumah sakit berpelat merah milik Pemprov Jatim itu telah mengirimkan sampel dahak ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Madiun untuk diteruskan ke BBLK Surabaya. Sebelum dikirimkan ke BBLK Jakarta.

Ketua Tim Khusus dr Bambang Subarno mengatakan, pasien dimungkinkan menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau flu biasa. Penguatnya hasil laboratorium untuk gejala pneumonia ringan hingga berat berdasarkan gejala klinis dan atau gambaran radiologis menunjukkan negatif. Sementara dua gejala lain yang masih positif yakni demam/riwayat demam, juga batuk/pilek/nyeri tenggorokan. ‘’Besar kemungkinan ISPA biasa,’’ kata Bambang.

Sementara dari tiga faktor risiko, hanya riwayat perjalanan ke China atau wilayah negara yang terjangkit dalam waktu 14 hari timbul gejala yang sesuai. Itu artinya pasien baru menempuh perjalanan dari China karena menjalani studi. ‘’Tidak perlu dikhawatirkan. Kampus asal tetap meminta general check up agar pasien dapat kembali ke sana,’’ ujar dokter spesialis paru itu. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/