alexametrics
23.5 C
Madiun
Friday, May 27, 2022

Batik Pragak Kurang Perhatian Pemkab

MAGETAN – Siapa yang tak tahu batik motif pring sedapur? Motif batik yang menampilkan gambar bambu itu merupakan batik khas Magetan. Namun, tak hanya motif tersebut yang dimiliki Bumi Ki Mageti. Masih ada empat motif lagi. Sebut saja motif sekar jati, lekak lekuk bolu, simbar beji, hingga mas kumambang. Sayangnya, motif batik itu seakan tersisih dan kurang mendapat perhatian dari pemkab setempat.

Para perajin di Desa Pragak, Kecamatan Parang, itu yang merasakan. Perhatian yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Magetan hanya pada 2014 silam. Pelatihan itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Padahal, batik tersebut cukup diminati warga luar Magetan.

Bahkan, Edhie Baskoro Yudhoyono selalu memesan batik tersebut setiap kali ada kunjungan kerja di sekitaran Magetan. ’’Selama ini pemkab masih mengunggulkan batik pring sedapur,’’ kata petugas desmigratif Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Desa Pragak, Parang, Eko Yulianto.

Uluran tangan disperindag dibutuhkan. Utamanya dalam hal promosi. Sehingga, motif batik Desa Pragak itu dapat dikenal masyarakat luas.  Bantuan yang selama ini didapat juga langsung dari Kemenaker, seperti pelatihan dan bantuan alat. Justru Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan yang pernah memberikan dana hibah. ’’Kendala yang kami alami yaitu pada promosi,’’ ujar Eko.

Untuk mengenalkan produknya, perajin batik hanya mengandalkan pameran. Berbagai pameran hingga luar pulau kerap diikuti agar empat batik itu dikenal. Seperti pameran ke Bangka Balitung. Serta memanfaatkan kemudahan media sosial (medsos). Namun, pamornya masih kalah dengan batik khas Desa Sidokmukti, Kecamatan Plaosan. ’’Desa Pragak punya ikon sendiri dan kami ingin mengembangkan potensi desa kami,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Honorer K-2 Ancam Mogok Kerja, Desak Diangkat Jadi PPPK

Motif sekar jati itu diambil lantaran banyaknya pohon jati di desa tersebut. Event khas Magetan, festival bolu, juga dituangkan dalam motif lekak lekuk bolu. Simbar beji menggambarkan simbol sendang di wilayah tersebut yang dinamai Beji. Sedangkan motif mas kumambang tampak seperti daun semanggi yang juga banyak ditemui di Desa Pragak. ’’Motifnya memang khas Desa Pragak, tapi tidak lepas dari khas Magetan,’’ papar Eko.

Kini di desa tersebut hanya ada satu kelompok perajin batik. Anggotanya hanya tujuh orang. Dalam sehari dua helai kain batik berhasil dibuat. Satu kain batik itu dikerjakan bersama-sama. Ada yang bertugas membuat pola, menuangkan malam dengan canting, lalu mewarnainya. Lama pembuatan tergantung pada cuaca dan berapa kali pewarnaan. ’’Semuanya batik tulis, tapi ke depan kami mencoba mengembangkan batik cap,’’ ungkapnya.

Warna yang digunakan pebatik masih dominan tekstil. Namun, terkadang juga menggunakan pewarna buatan, seperti daun jati. Tergantung pada pemesanan. Harganya jelas lebih mahal pewarna alami kendati warnanya tak secerah warna tekstil. Namun, warna–warna kalem itu kini kian diminati oleh pehobi batik. ’’Baik warna tekstil maupun alami, harganya sama-sama terjangkau,’’ terangnya. (bel/c1/ota)

 

MAGETAN – Siapa yang tak tahu batik motif pring sedapur? Motif batik yang menampilkan gambar bambu itu merupakan batik khas Magetan. Namun, tak hanya motif tersebut yang dimiliki Bumi Ki Mageti. Masih ada empat motif lagi. Sebut saja motif sekar jati, lekak lekuk bolu, simbar beji, hingga mas kumambang. Sayangnya, motif batik itu seakan tersisih dan kurang mendapat perhatian dari pemkab setempat.

Para perajin di Desa Pragak, Kecamatan Parang, itu yang merasakan. Perhatian yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Magetan hanya pada 2014 silam. Pelatihan itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Padahal, batik tersebut cukup diminati warga luar Magetan.

Bahkan, Edhie Baskoro Yudhoyono selalu memesan batik tersebut setiap kali ada kunjungan kerja di sekitaran Magetan. ’’Selama ini pemkab masih mengunggulkan batik pring sedapur,’’ kata petugas desmigratif Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Desa Pragak, Parang, Eko Yulianto.

Uluran tangan disperindag dibutuhkan. Utamanya dalam hal promosi. Sehingga, motif batik Desa Pragak itu dapat dikenal masyarakat luas.  Bantuan yang selama ini didapat juga langsung dari Kemenaker, seperti pelatihan dan bantuan alat. Justru Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan yang pernah memberikan dana hibah. ’’Kendala yang kami alami yaitu pada promosi,’’ ujar Eko.

Untuk mengenalkan produknya, perajin batik hanya mengandalkan pameran. Berbagai pameran hingga luar pulau kerap diikuti agar empat batik itu dikenal. Seperti pameran ke Bangka Balitung. Serta memanfaatkan kemudahan media sosial (medsos). Namun, pamornya masih kalah dengan batik khas Desa Sidokmukti, Kecamatan Plaosan. ’’Desa Pragak punya ikon sendiri dan kami ingin mengembangkan potensi desa kami,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Eko Sudarmawan Beralih Melukis dengan Air Kopi

Motif sekar jati itu diambil lantaran banyaknya pohon jati di desa tersebut. Event khas Magetan, festival bolu, juga dituangkan dalam motif lekak lekuk bolu. Simbar beji menggambarkan simbol sendang di wilayah tersebut yang dinamai Beji. Sedangkan motif mas kumambang tampak seperti daun semanggi yang juga banyak ditemui di Desa Pragak. ’’Motifnya memang khas Desa Pragak, tapi tidak lepas dari khas Magetan,’’ papar Eko.

Kini di desa tersebut hanya ada satu kelompok perajin batik. Anggotanya hanya tujuh orang. Dalam sehari dua helai kain batik berhasil dibuat. Satu kain batik itu dikerjakan bersama-sama. Ada yang bertugas membuat pola, menuangkan malam dengan canting, lalu mewarnainya. Lama pembuatan tergantung pada cuaca dan berapa kali pewarnaan. ’’Semuanya batik tulis, tapi ke depan kami mencoba mengembangkan batik cap,’’ ungkapnya.

Warna yang digunakan pebatik masih dominan tekstil. Namun, terkadang juga menggunakan pewarna buatan, seperti daun jati. Tergantung pada pemesanan. Harganya jelas lebih mahal pewarna alami kendati warnanya tak secerah warna tekstil. Namun, warna–warna kalem itu kini kian diminati oleh pehobi batik. ’’Baik warna tekstil maupun alami, harganya sama-sama terjangkau,’’ terangnya. (bel/c1/ota)

 

Artikel SebelumnyaPalu
Artikel Selanjutnya CPNS Ngawi: Empat Hari Hanya 150 Pendaftar

Most Read

Artikel Terbaru

/