alexametrics
23.9 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Khofifah Gelorakan Jatim Diniyah

MAGETAN – Penguatan peran pondok pesantren (ponpes) masuk dalam daftar prioritas Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa. Komitmen itu disampaikan Khofifah saat menghadiri peringatan Haul ke-95 KH Hasan Ulama di Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran, Magetan, Sabtu malam lalu (1/9). Meski Khofifah dan wakilnya Emil Elestianto Dardak baru dilantik Februari 2019, Khofifah tak segan mengutarakan janjinya membesarkan ponpes di Jatim. ’’Ponpes berperan penting dalam membentuk karakter. Pinter lan bener. Fondasi ini harus diperkokoh,’’ kata Khofifah.

Dalam sambutannya di hadapan ratusan jamaah dan tamu undangan yang memadati pelataran PSM, Khofifah mengingatkan kembali keunggulan ponpes. Layanan pendidikannya tidak dimiliki lembaga pendidikan umum. Yakni, tarbiah dan pengasuhan. Menurut Khofifah, pengasuhan adalah kunci dalam mendidik karakter para santri. ‘’Pengasuhan menjangkau seluruh santri sebagai anak asuh, semua pembentukan karakter ada di dalamnya,’’ ujarnya.

Khofifah juga concern dengan pendidikan berbasis keagamaan. Dia menyoroti banyaknya pendidik yang bukan lulusan ilmu pendidikan. Khofifah menilai, mereka perlu ditingkatkan kualitasnya. Khofifah merencanakan program Jatim Diniyah; beasiswa pascasarjana (S-2) yang diberikan khusus bagi para pengajar di lembaga-lembaga pendidikan tersebut. Dia percaya, beasiswa akan meningkatkan semangat mengajar para pendidik.

’’Ini (latar pendidikan guru non keguruan dan pendidikan, Red) harus diantisipasi kementerian pendidikan dan dinas pendidikan,’’ tegas mantan menteri sosial itu.

Suasana khidmat terasa di peringatan Haul KH Hasan Ulama, Sabtu lalu. Sang tokoh nasionalis merupakan orang di balik berdirinya PSM sebagai ponpes tertua dengan 134 lembaga pendidikan tersebar di sejumlah kota dan provinsi. Pengasuh PSM Takeran Miratul Mukminin meminta masyarakat untuk meneladani sosok KH Hasan Ulama. Pun, Gus Amik –sapaan akrab Miratul Mukminin- menyebut peringatan haul kemarin spesial. ’’Tidak sekadar rutinitas, karena kebetulan bisa dihadiri Bu Khofifah,’’ kata Gus Amik kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Gus Amik berharap kehadiran Khofifah dapat menambah semangat santri dan insan pendidik yang hadir dalam acara tersebut. Dia sepakat dengan Khofifah. Bahwa, tantangan ponpes di era digital semakin berat. Perlu ada penguasaan wawasan dan teknologi yang menunjang keterampilan lulusan para santri. ‘’Maka, jati diri murid, rohnya tetap pesantren tapi wawasannya harus global. Karena tak jarang lulusan pesantren dianggap sebelah mata,’’ jelasnya.

Baca Juga :  SMK Berlian Nusantara LSP Kesehatan Pertama di Magetan

Beragam strategi perlu dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut. Di antaranya melakukan konsolidasi dan penguatan manajemen ponpes. Standar kualitas tenaga pendidik juga harus ditingkatkan. Di samping itu, perluasan jaringan kerja sama dengan stakeholder terkait yang relevan dengan kejuruan ponpes. ‘’Sudah dijalankan, kami juga membangun kerja sama dengan UMKM atau lembaga swasta yang punya relevansi dengan kejuruan,’’ jelasnya.

Gus Amik terkesan dengan komitmen Khofifah dalam memajukan lembaga pendidikan berbasis keagamaan. ‘’Jangan ada dikotomi antara sekolah umum dan keagamaan lagi. Semua sama, berperan aktif untuk kemajuan bangsa,’’ tegasnya. (mg2/naz/c1/ota)

MAGETAN – Penguatan peran pondok pesantren (ponpes) masuk dalam daftar prioritas Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa. Komitmen itu disampaikan Khofifah saat menghadiri peringatan Haul ke-95 KH Hasan Ulama di Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran, Magetan, Sabtu malam lalu (1/9). Meski Khofifah dan wakilnya Emil Elestianto Dardak baru dilantik Februari 2019, Khofifah tak segan mengutarakan janjinya membesarkan ponpes di Jatim. ’’Ponpes berperan penting dalam membentuk karakter. Pinter lan bener. Fondasi ini harus diperkokoh,’’ kata Khofifah.

Dalam sambutannya di hadapan ratusan jamaah dan tamu undangan yang memadati pelataran PSM, Khofifah mengingatkan kembali keunggulan ponpes. Layanan pendidikannya tidak dimiliki lembaga pendidikan umum. Yakni, tarbiah dan pengasuhan. Menurut Khofifah, pengasuhan adalah kunci dalam mendidik karakter para santri. ‘’Pengasuhan menjangkau seluruh santri sebagai anak asuh, semua pembentukan karakter ada di dalamnya,’’ ujarnya.

Khofifah juga concern dengan pendidikan berbasis keagamaan. Dia menyoroti banyaknya pendidik yang bukan lulusan ilmu pendidikan. Khofifah menilai, mereka perlu ditingkatkan kualitasnya. Khofifah merencanakan program Jatim Diniyah; beasiswa pascasarjana (S-2) yang diberikan khusus bagi para pengajar di lembaga-lembaga pendidikan tersebut. Dia percaya, beasiswa akan meningkatkan semangat mengajar para pendidik.

’’Ini (latar pendidikan guru non keguruan dan pendidikan, Red) harus diantisipasi kementerian pendidikan dan dinas pendidikan,’’ tegas mantan menteri sosial itu.

Suasana khidmat terasa di peringatan Haul KH Hasan Ulama, Sabtu lalu. Sang tokoh nasionalis merupakan orang di balik berdirinya PSM sebagai ponpes tertua dengan 134 lembaga pendidikan tersebar di sejumlah kota dan provinsi. Pengasuh PSM Takeran Miratul Mukminin meminta masyarakat untuk meneladani sosok KH Hasan Ulama. Pun, Gus Amik –sapaan akrab Miratul Mukminin- menyebut peringatan haul kemarin spesial. ’’Tidak sekadar rutinitas, karena kebetulan bisa dihadiri Bu Khofifah,’’ kata Gus Amik kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Gus Amik berharap kehadiran Khofifah dapat menambah semangat santri dan insan pendidik yang hadir dalam acara tersebut. Dia sepakat dengan Khofifah. Bahwa, tantangan ponpes di era digital semakin berat. Perlu ada penguasaan wawasan dan teknologi yang menunjang keterampilan lulusan para santri. ‘’Maka, jati diri murid, rohnya tetap pesantren tapi wawasannya harus global. Karena tak jarang lulusan pesantren dianggap sebelah mata,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pemkab Magetan Terus-terusan Lobi Exit Toll

Beragam strategi perlu dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut. Di antaranya melakukan konsolidasi dan penguatan manajemen ponpes. Standar kualitas tenaga pendidik juga harus ditingkatkan. Di samping itu, perluasan jaringan kerja sama dengan stakeholder terkait yang relevan dengan kejuruan ponpes. ‘’Sudah dijalankan, kami juga membangun kerja sama dengan UMKM atau lembaga swasta yang punya relevansi dengan kejuruan,’’ jelasnya.

Gus Amik terkesan dengan komitmen Khofifah dalam memajukan lembaga pendidikan berbasis keagamaan. ‘’Jangan ada dikotomi antara sekolah umum dan keagamaan lagi. Semua sama, berperan aktif untuk kemajuan bangsa,’’ tegasnya. (mg2/naz/c1/ota)

Most Read

Artikel Terbaru

/