alexametrics
29.9 C
Madiun
Sunday, May 29, 2022

DPUPR Magetan Akan Normalisasi Kikisan Jalan Thamrin

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan berniat mengeruk material longsor tebing di Jalan Thamrin. Membersihkan tanah yang bercampur bebatuan dan rerumpunan bambu imbas gerusan aliran Sungai Gandong di Kelurahan/Kecamatan Magetan tersebut.

Langkah itu hasil berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Lembaga kepanjangan tangan Kementerian PUPR itu meninjau lokasi kikisan Selasa (7/1). ‘’Kami akan menormalisasi terlebih dahulu sebelum dilakukan penanganan,’’ kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Magetan Yuli Karyawan Iswahjudi.

Yuli menyebut, pengerukan menggunakan alat berat. Pihaknya masih memikirkan jalan alternatif agar mesin keruk itu bisa masuk ke dalam sungai. Sebab, Jalan Thamrin tidak cukup landai untuk mendekat ke sungai. Alternatifnya adalah  melewati lahan kosong di Jalan Manggis sebagai akses masuk alat berat. ‘’Belum bisa dipastikan kapan alat berat didatangkan. Kami coba mengurus izin kepada pemilik lahan terlebih dulu,’’ ujarnya.

Diketahui, bangunan dapur dan kamar mandi milik Hariyadi, warga setempat, diketahui ambles terbawa longsor Minggu malam (5/1). Hasil pengecekan DPUPR dengan BBWS Bengawan Solo, penyebab longsor itu akibat tergerus aliran sungai yang deras.

Sebelum kejadian itu, kondisi tanah yang ambles diketahui jenuh air. Penyebabnya, kena rembesan air dari saluran drainase warga. Kondisi tersebut membuat longsor semakin rentan. Karenanya, perlu segera ada perombakan. ‘’Normalisasi ini untuk mencegah longsor susulan,’’ ucapnya seraya menyebut hasil pengukuran kikisan sepanjang 50 meter dengan kedalaman 24 meter.

Yuli mafhum kikisan membahayakan warga di permukiman setempat. Sehingga penanganan harus cepat dan tepat. Selain normalisasi, juga perbaikan jalan. (fat/c1/cor)

Baca Juga :  Demo Hongkong

48 Desa Rawan Alami Gerakan Tanah

BENCANA longsor menjadi ancaman serius seiring meningkatnya curah hujan beberapa hari terakhir. Khususnya di tujuh kecamatan yang berada di lereng Gunung Lawu. Meliputi Magetan, Ngariboyo, Sidorejo, Panekan, Plaosan, Poncol, dan Parang. Pusdatin BPBD mencatat, terdapat 48 desa/kelurahan di sejumlah kecamatan tersebut yang masuk kategori zona merah longsor.

Selain itu, berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sejumlah kecamatan berpotensi terjadi gerakan tanah kategori tinggi hingga menengah. Antara lain, di Poncol, Panekan, Parang, dan Plaosan. ‘’Tahun lalu bencana tanah longsor banyak terjadi di wilayah Poncol. Terutama di Desa Poncol, Gonggang, dan Alastuwo,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Magetan Ari Budi Santosa Selasa (7/1).

Di luar itu, terdapat beberapa desa di Plaosan yang rawan terpapar longsor. Misalnya Desa Ngancar, Puntuk Doro, Pacaan, Getasanyar, dan Plumpung. Sedangkan, empat desa di wilayah Panekan masuk dalam zona merah. Terdiri Desa Ngiliran, Sukowidi, Tapak, dan Sidomulyo. ‘’Kami tetap antisipasi. Tapi, jika menilik dari data sebelumnya, wilayah yang rawan adalah Kecamatan Poncol,’’ ujar Ari.

Pihaknya menekankan kepada masyarakat untuk meningkatkan mitigasi bencana. Seperti waspada ketika hujan turun bagi mereka yang bertempat tinggal di lereng perbukitan. Selain itu, pihaknya berencana mendirikan posko di Poncol untuk mempercepat proses penanganan bencana. ‘’Untuk pencegahan memang sudah didiskusikan dengan OPD lain yang memang memiliki tupoksi merekayasa struktur bangunan agar tidak terjadi longsor,’’ jelas Ari. (fat/c1/her)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan berniat mengeruk material longsor tebing di Jalan Thamrin. Membersihkan tanah yang bercampur bebatuan dan rerumpunan bambu imbas gerusan aliran Sungai Gandong di Kelurahan/Kecamatan Magetan tersebut.

Langkah itu hasil berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Lembaga kepanjangan tangan Kementerian PUPR itu meninjau lokasi kikisan Selasa (7/1). ‘’Kami akan menormalisasi terlebih dahulu sebelum dilakukan penanganan,’’ kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Magetan Yuli Karyawan Iswahjudi.

Yuli menyebut, pengerukan menggunakan alat berat. Pihaknya masih memikirkan jalan alternatif agar mesin keruk itu bisa masuk ke dalam sungai. Sebab, Jalan Thamrin tidak cukup landai untuk mendekat ke sungai. Alternatifnya adalah  melewati lahan kosong di Jalan Manggis sebagai akses masuk alat berat. ‘’Belum bisa dipastikan kapan alat berat didatangkan. Kami coba mengurus izin kepada pemilik lahan terlebih dulu,’’ ujarnya.

Diketahui, bangunan dapur dan kamar mandi milik Hariyadi, warga setempat, diketahui ambles terbawa longsor Minggu malam (5/1). Hasil pengecekan DPUPR dengan BBWS Bengawan Solo, penyebab longsor itu akibat tergerus aliran sungai yang deras.

Sebelum kejadian itu, kondisi tanah yang ambles diketahui jenuh air. Penyebabnya, kena rembesan air dari saluran drainase warga. Kondisi tersebut membuat longsor semakin rentan. Karenanya, perlu segera ada perombakan. ‘’Normalisasi ini untuk mencegah longsor susulan,’’ ucapnya seraya menyebut hasil pengukuran kikisan sepanjang 50 meter dengan kedalaman 24 meter.

Yuli mafhum kikisan membahayakan warga di permukiman setempat. Sehingga penanganan harus cepat dan tepat. Selain normalisasi, juga perbaikan jalan. (fat/c1/cor)

Baca Juga :  Sungai Pacalan Tercemar Bangkai Ayam

48 Desa Rawan Alami Gerakan Tanah

BENCANA longsor menjadi ancaman serius seiring meningkatnya curah hujan beberapa hari terakhir. Khususnya di tujuh kecamatan yang berada di lereng Gunung Lawu. Meliputi Magetan, Ngariboyo, Sidorejo, Panekan, Plaosan, Poncol, dan Parang. Pusdatin BPBD mencatat, terdapat 48 desa/kelurahan di sejumlah kecamatan tersebut yang masuk kategori zona merah longsor.

Selain itu, berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sejumlah kecamatan berpotensi terjadi gerakan tanah kategori tinggi hingga menengah. Antara lain, di Poncol, Panekan, Parang, dan Plaosan. ‘’Tahun lalu bencana tanah longsor banyak terjadi di wilayah Poncol. Terutama di Desa Poncol, Gonggang, dan Alastuwo,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Magetan Ari Budi Santosa Selasa (7/1).

Di luar itu, terdapat beberapa desa di Plaosan yang rawan terpapar longsor. Misalnya Desa Ngancar, Puntuk Doro, Pacaan, Getasanyar, dan Plumpung. Sedangkan, empat desa di wilayah Panekan masuk dalam zona merah. Terdiri Desa Ngiliran, Sukowidi, Tapak, dan Sidomulyo. ‘’Kami tetap antisipasi. Tapi, jika menilik dari data sebelumnya, wilayah yang rawan adalah Kecamatan Poncol,’’ ujar Ari.

Pihaknya menekankan kepada masyarakat untuk meningkatkan mitigasi bencana. Seperti waspada ketika hujan turun bagi mereka yang bertempat tinggal di lereng perbukitan. Selain itu, pihaknya berencana mendirikan posko di Poncol untuk mempercepat proses penanganan bencana. ‘’Untuk pencegahan memang sudah didiskusikan dengan OPD lain yang memang memiliki tupoksi merekayasa struktur bangunan agar tidak terjadi longsor,’’ jelas Ari. (fat/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/