alexametrics
25.6 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Rekanan Proyek Gedung Rawat Inap RSUD dr Sayidiman Wajib Kembalikan Rp 18,437 Juta

MAGETAN – Kasus kelebihan bayar masih menjadi momok Pemkab Magetan dari pekerjaan fisik yang telah mereka jalankan tahun lalu. Seperti pada paket pekerjaan pembangunan gedung rawat inap jantung dan paru tahap III RSUD dr Sayidiman Magetan.

Dalam laporan auditnya, BPK menemukan ada item pekerjaan yang tidak digarap oleh CV Kedaton selaku pelaksana tetapi oleh kuasa pengguna anggaran (KPA) uangnya sudah dibayarkan. Nilainya sebesar Rp 18,437 juta. ‘’Hari ini (kemarin, Red) pihak pelaksana akan membayarnya. Kami sedang menunggu,’’ terang Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan Gedung Rawat Inap Jantung Dan Paru Tahap III RSUD Sayidiman Magetan, Dody Setya.

Dia menjelaskan waktu pembayaran itu sudah tertuang pada surat perjanjian yang dibuat bersama dengan rekanan asal Trenggalek tersebut. Bahkan, juga dilakukan pendampingan oleh TP4D Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan. ‘’Rekanan sanggup akan mengambalikan,’’ katanya.

Pihaknya sengaja melibatkan TP4D dalam proses ini. Dengan harapan, pihak pelaksana tidak ingkar janji. ‘’Kami memang meminta bantuan TP4D jika ada hal-hal seperti ini. Supaya lebih aman,’’ jelas Dody.

Baca Juga :  Radio dan Informasi Bencana

Meskipun terdapat kelebihan pembayaran, tetapi dari segi kualitas pekerjaan gedung berlantai tiga itu tidak ada masalah. Dody mengungkapkan persoalan hanya ada pada jaringan listrik dan telepon. Seharusnya sebelum gedung itu dioperasikan perlu dilakukan tes kedua jaringan tersebut. ‘’Akhirnya dari BPK menyatakan item itu tidak dikerjakan oleh pelaksana,’’ ungkapnya.

Saat itu, kata dia, pihak pelaksana beralasan mengaku kesulitan mencari pihak independen untuk mengetes jaringan listrik dan telepon di gedung tersebut. Sebelum kemudian item pekerjaan itu dilewati. Karena beranggapan jaringan itu berfungsi normal. Tetapi, auditor BPK berpendapat lain. Di mana mereka meminta adanya penyertaan bukti tes terkait instalasi jaringan listrik dan telepon. ‘’Sebenarnya hanya formalitas,’’ ujarnya. (bel/her)

MAGETAN – Kasus kelebihan bayar masih menjadi momok Pemkab Magetan dari pekerjaan fisik yang telah mereka jalankan tahun lalu. Seperti pada paket pekerjaan pembangunan gedung rawat inap jantung dan paru tahap III RSUD dr Sayidiman Magetan.

Dalam laporan auditnya, BPK menemukan ada item pekerjaan yang tidak digarap oleh CV Kedaton selaku pelaksana tetapi oleh kuasa pengguna anggaran (KPA) uangnya sudah dibayarkan. Nilainya sebesar Rp 18,437 juta. ‘’Hari ini (kemarin, Red) pihak pelaksana akan membayarnya. Kami sedang menunggu,’’ terang Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan Gedung Rawat Inap Jantung Dan Paru Tahap III RSUD Sayidiman Magetan, Dody Setya.

Dia menjelaskan waktu pembayaran itu sudah tertuang pada surat perjanjian yang dibuat bersama dengan rekanan asal Trenggalek tersebut. Bahkan, juga dilakukan pendampingan oleh TP4D Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan. ‘’Rekanan sanggup akan mengambalikan,’’ katanya.

Pihaknya sengaja melibatkan TP4D dalam proses ini. Dengan harapan, pihak pelaksana tidak ingkar janji. ‘’Kami memang meminta bantuan TP4D jika ada hal-hal seperti ini. Supaya lebih aman,’’ jelas Dody.

Baca Juga :  Remittance TKI Ponorogo Turun Rp 38 Miliar

Meskipun terdapat kelebihan pembayaran, tetapi dari segi kualitas pekerjaan gedung berlantai tiga itu tidak ada masalah. Dody mengungkapkan persoalan hanya ada pada jaringan listrik dan telepon. Seharusnya sebelum gedung itu dioperasikan perlu dilakukan tes kedua jaringan tersebut. ‘’Akhirnya dari BPK menyatakan item itu tidak dikerjakan oleh pelaksana,’’ ungkapnya.

Saat itu, kata dia, pihak pelaksana beralasan mengaku kesulitan mencari pihak independen untuk mengetes jaringan listrik dan telepon di gedung tersebut. Sebelum kemudian item pekerjaan itu dilewati. Karena beranggapan jaringan itu berfungsi normal. Tetapi, auditor BPK berpendapat lain. Di mana mereka meminta adanya penyertaan bukti tes terkait instalasi jaringan listrik dan telepon. ‘’Sebenarnya hanya formalitas,’’ ujarnya. (bel/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/