alexametrics
31.3 C
Madiun
Sunday, May 15, 2022

Perajin Jalan Sawo Gantungkan Asa

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Batalnya rencana penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 disambut baik kalangan perajin di Jalan Sawo. Pasalnya, napas usaha sentra kerajinan kulit di kawasan tersebut sangat bergantung dengan industri pariwisata. ‘’Mayoritas yang datang selalu wisatawan dari Sarangan,’’ kata Eko Patrianto, ketua sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo, Senin (13/12).

Pandemi korona sejak awal 2020 lalu memukul usaha di pusat Kota Magetan itu. Dari 44 toko alas kaki kulit di Jalan Sawo, sebanyak 22 telah gulung tikar. Ada yang kehabisan modal, ada pula yang pemilik usahanya meninggal terpapar korona. ‘’Saat ini yang aktif berproduksi tinggal 17. Selebihnya toko yang menjual barang jadi,’’ terangnya.

Baca Juga :  Harga Sembako Susul-menyusul Naik

Beruntung, sejak PPKM dilonggarkan, para perajin mulai merasakan perbaikan pendapatan. Omzet mereka berangsur naik di kisaran tiga hingga lima persen. ‘’Kalau objek wisata tutup, kami tidak ada pemasukan lagi,’’ keluh Eko.

Hal senada diungkapkan Adio Crisando. Pria yang juga memiliki usaha kerajinan alas kaki kulit di Jalan Sawo itu sempat merasakan produknya tak laku sama sekali. Dia sempat menyiasati minimnya penjualan offline dengan memasarkan produk secara online. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Dia berharap libur Natal dan tahun baru (Nataru) menjadi momentum bangkitnya sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo. ‘’Penjualan sangat bergantung dengan tingkat kunjungan wisata,’’ tuturnya. (mg5/c1/naz/her)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Batalnya rencana penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 disambut baik kalangan perajin di Jalan Sawo. Pasalnya, napas usaha sentra kerajinan kulit di kawasan tersebut sangat bergantung dengan industri pariwisata. ‘’Mayoritas yang datang selalu wisatawan dari Sarangan,’’ kata Eko Patrianto, ketua sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo, Senin (13/12).

Pandemi korona sejak awal 2020 lalu memukul usaha di pusat Kota Magetan itu. Dari 44 toko alas kaki kulit di Jalan Sawo, sebanyak 22 telah gulung tikar. Ada yang kehabisan modal, ada pula yang pemilik usahanya meninggal terpapar korona. ‘’Saat ini yang aktif berproduksi tinggal 17. Selebihnya toko yang menjual barang jadi,’’ terangnya.

Baca Juga :  Alami Gangguan Jiwa, Kakek Asal Magetan Tahun Bakar Rumah

Beruntung, sejak PPKM dilonggarkan, para perajin mulai merasakan perbaikan pendapatan. Omzet mereka berangsur naik di kisaran tiga hingga lima persen. ‘’Kalau objek wisata tutup, kami tidak ada pemasukan lagi,’’ keluh Eko.

Hal senada diungkapkan Adio Crisando. Pria yang juga memiliki usaha kerajinan alas kaki kulit di Jalan Sawo itu sempat merasakan produknya tak laku sama sekali. Dia sempat menyiasati minimnya penjualan offline dengan memasarkan produk secara online. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Dia berharap libur Natal dan tahun baru (Nataru) menjadi momentum bangkitnya sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo. ‘’Penjualan sangat bergantung dengan tingkat kunjungan wisata,’’ tuturnya. (mg5/c1/naz/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/