alexametrics
24.6 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Harga EWS Kelewat Mahal, Pemkab Magetan Lobi BNPB

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pemkab Magetan mengharapkan uluran tangan pemprov dan pemerintah pusat dalam mencukupi kebutuhan alat early warning system (EWS). Pasalnya, ada puluhan titik di tujuh kecamatan yang rawan dilanda bencana longsor. Sementara pemkab baru memiliki enam unit EWS. ‘’Kami berharap ada bantuan EWS lagi,’’ kata Bupati Magetan Suprawoto, Senin (15/11).

Kang Woto –sapaan Suprawoto- tahu betul daerah yang dia pimpin rawan dilanda bencana hidrometeorologi. Sehingga, sistem mitigasi perlu dibangun secara kuat. EWS lantas dipandang sebagai salah satu instrumen yang penting.

Diketahui, EWS memiliki beberapa sensor seperti piezometer, inklinometer, hingga water level sensor. Berbagai sensor tersebut menganalisis kondisi cuaca, tekanan air tanah, dan pergerakan tanah. Ketika terjadi pergerakan tanah, alarm secara otomatis akan berbunyi memperingatkan warga.

Baca Juga :  Agus Wicak Pamerkan 22 Lukisan Karyanya di Warung Kopi

Sayangnya, menurut Kang Woto, harga EWS relatif tak ramah di kantong pemkab. Satu unit dihargai minimal Rp 75 juta, tergantung seberapa canggih alatnya. Karena itu, pemkab berupaya melobi sana sini untuk bisa mendapat bantuan EWS lagi. ‘’Kalau uangnya ada, kami pasti beli. Kami juga sudah meminta bantuan ke pemprov dan BNPB,’’ terang bupati.
Kang Woto menilai, sistem mitigasi bencana tak hanya mengandalkan alat. Kesiapsiagaan warga yang tinggal di titik-titik rawan bencana harus lebih ditingkatkan. Pasalnya, wargalah yang lebih mengenal alam di wilayahnya. ‘’Ini yang juga terus kami dorong,’’ pungkasnya. (mg5/c1/naz/her)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pemkab Magetan mengharapkan uluran tangan pemprov dan pemerintah pusat dalam mencukupi kebutuhan alat early warning system (EWS). Pasalnya, ada puluhan titik di tujuh kecamatan yang rawan dilanda bencana longsor. Sementara pemkab baru memiliki enam unit EWS. ‘’Kami berharap ada bantuan EWS lagi,’’ kata Bupati Magetan Suprawoto, Senin (15/11).

Kang Woto –sapaan Suprawoto- tahu betul daerah yang dia pimpin rawan dilanda bencana hidrometeorologi. Sehingga, sistem mitigasi perlu dibangun secara kuat. EWS lantas dipandang sebagai salah satu instrumen yang penting.

Diketahui, EWS memiliki beberapa sensor seperti piezometer, inklinometer, hingga water level sensor. Berbagai sensor tersebut menganalisis kondisi cuaca, tekanan air tanah, dan pergerakan tanah. Ketika terjadi pergerakan tanah, alarm secara otomatis akan berbunyi memperingatkan warga.

Baca Juga :  Capaian Vaksinasi Lansia di Magetan Minus 9.600 Dosis

Sayangnya, menurut Kang Woto, harga EWS relatif tak ramah di kantong pemkab. Satu unit dihargai minimal Rp 75 juta, tergantung seberapa canggih alatnya. Karena itu, pemkab berupaya melobi sana sini untuk bisa mendapat bantuan EWS lagi. ‘’Kalau uangnya ada, kami pasti beli. Kami juga sudah meminta bantuan ke pemprov dan BNPB,’’ terang bupati.
Kang Woto menilai, sistem mitigasi bencana tak hanya mengandalkan alat. Kesiapsiagaan warga yang tinggal di titik-titik rawan bencana harus lebih ditingkatkan. Pasalnya, wargalah yang lebih mengenal alam di wilayahnya. ‘’Ini yang juga terus kami dorong,’’ pungkasnya. (mg5/c1/naz/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/