alexametrics
29.2 C
Madiun
Tuesday, May 17, 2022

Hilang Bunyi Tiga Sila Tugu Pancasila

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Tugu Pancasila pojok utara kawasan alun-alun Magetan rusak. Lima kata dalam sila pertama hingga ketiga Pancasila pada plakatnya terlepas. Kondisi itu jadi pergunjingan warga yang melintas. ‘’Tidak sengaja membaca ada beberapa kalimat yang hilang. Eh, ternyata tugunya rusak,’’ kata Fadjrin Tri Anggara, salah seorang pengguna jalan, Minggu (15/9).

Kerusakan itu menghilangkan bunyi dari masing-masing sila. Sila pertama seharusnya Ketuhanan yang Maha Esa yang bisa terbaca hanya Ketuhanan Esa. Sila kedua terbaca Kemanusiaan Beradab tanpa ada yang Adil. Sementara sila ketiga menyisakan Persatuan In. Informasi yang dihimpun, rusaknya tugu buatan dinas lingkungan hidup (DLH) itu sudah sejak Jumat lalu (13/9). ‘’Kenapa kok dibiarkan saja? Padahal ada petugas yang menyirami tanaman,’’ ujar warga Kelurahan Selosari tersebut.

Plt Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Magetan Mujiono belum tahu ihwal kerusakan tersebut. Dia belum menerima laporan sejak pekan lalu. Barangkali, memang belum diketahui anak buahnya karena libur akhir pekan. ‘’Kami akan minta teman-teman piket mengecek,’’ katanya.

Baca Juga :  Durian Persilangan Montong-Lokal Ini Tumbuh Subur di Ngebel

Mujiono mengatakan, kerusakan akan diperbaiki. Mengganti kalimat-kalimat yang hilang. Sekalipun pihaknya berencana membongkarnya. Sebab, tugu itu menjadi salah satu ikon alun-alun. ‘’Apakah karena lapuk atau aksi orang usil, kami belum tahu,’’ ujarnya kala ditanya penyebab kerusakan.

Sesuai masterplan alun-alun Magetan, keberadaan Tugu Pancasila dialihkan ke sisi selatan pohon beringin. Sekaligus untuk penamaan dari awalnya lapangan alun-alun menjadi Lapangan Pancasila. ‘’Pemindahan kemungkinan tahun depan menyesuaikan keuangan daerah,’’ terangnya.

Dia menegaskan, rencana pemindahan telah mendapat izin berbagai pihak. Di antaranya badan kesatuan bangsa dan politik (bakesbangpol), Kodim, Pepabri, dan tokoh masyarakat. Mereka tak mempermasalahkan karena konteksnya bukan menghilangkan, melainkan menata ulang. ‘’Yang lama tidak akan dibongkar kalau yang baru belum dibangun,’’ katanya. (bel/c1/cor)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Tugu Pancasila pojok utara kawasan alun-alun Magetan rusak. Lima kata dalam sila pertama hingga ketiga Pancasila pada plakatnya terlepas. Kondisi itu jadi pergunjingan warga yang melintas. ‘’Tidak sengaja membaca ada beberapa kalimat yang hilang. Eh, ternyata tugunya rusak,’’ kata Fadjrin Tri Anggara, salah seorang pengguna jalan, Minggu (15/9).

Kerusakan itu menghilangkan bunyi dari masing-masing sila. Sila pertama seharusnya Ketuhanan yang Maha Esa yang bisa terbaca hanya Ketuhanan Esa. Sila kedua terbaca Kemanusiaan Beradab tanpa ada yang Adil. Sementara sila ketiga menyisakan Persatuan In. Informasi yang dihimpun, rusaknya tugu buatan dinas lingkungan hidup (DLH) itu sudah sejak Jumat lalu (13/9). ‘’Kenapa kok dibiarkan saja? Padahal ada petugas yang menyirami tanaman,’’ ujar warga Kelurahan Selosari tersebut.

Plt Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Magetan Mujiono belum tahu ihwal kerusakan tersebut. Dia belum menerima laporan sejak pekan lalu. Barangkali, memang belum diketahui anak buahnya karena libur akhir pekan. ‘’Kami akan minta teman-teman piket mengecek,’’ katanya.

Baca Juga :  Petani Cabai Rawit di Magetan Terancam Merugi

Mujiono mengatakan, kerusakan akan diperbaiki. Mengganti kalimat-kalimat yang hilang. Sekalipun pihaknya berencana membongkarnya. Sebab, tugu itu menjadi salah satu ikon alun-alun. ‘’Apakah karena lapuk atau aksi orang usil, kami belum tahu,’’ ujarnya kala ditanya penyebab kerusakan.

Sesuai masterplan alun-alun Magetan, keberadaan Tugu Pancasila dialihkan ke sisi selatan pohon beringin. Sekaligus untuk penamaan dari awalnya lapangan alun-alun menjadi Lapangan Pancasila. ‘’Pemindahan kemungkinan tahun depan menyesuaikan keuangan daerah,’’ terangnya.

Dia menegaskan, rencana pemindahan telah mendapat izin berbagai pihak. Di antaranya badan kesatuan bangsa dan politik (bakesbangpol), Kodim, Pepabri, dan tokoh masyarakat. Mereka tak mempermasalahkan karena konteksnya bukan menghilangkan, melainkan menata ulang. ‘’Yang lama tidak akan dibongkar kalau yang baru belum dibangun,’’ katanya. (bel/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/