alexametrics
24.8 C
Madiun
Monday, July 4, 2022

Belum Merdeka dari Limbah Industri Kulit

Kata merdeka tidak selalu identik dengan penjajahan. Bahkan, di beberapa tempat masih ada masyarakat yang merasa belum merdeka dari suatu hal. Limbah, misalnya. Ya, hampir puluhan tahun lamanya, sebagian warga Magetan sulit terlepas dari yang namanya limbah industri kulit. Konsep penataan yang flop dan penanganan yang kurang maksimal menyebabkan masyarakat belum merdeka dari persoalan limbah hasil industri penyamakan kulit.

————————————

BAGI masyarakat yang bertempat tinggal di sepanjang Jalan Teuku Umar, Jalan Pattimura, dan Jalan Manggis, aroma tak sedap limbah industri kulit sudah menjadi hal lumrah. Tapi, tidak bagi mereka yang bermukim di wilayah lain atau pengguna jalan yang kebetulan melintas di kawasan tersebut.

Kadang bikin hidung mengernyit karena mencium aroma “busuk” limbah. Bahkan, bau tak sedap itu sesekali tercium sampai alun-alun Magetan saat terbawa angin. Belum lagi sebagian cairan limbah itu mengalir ke Sungai Gandong. ‘’Kami sudah menyiapkan tempat untuk relokasi guna mengatasi masalah ini,’’ kata Kepala Disperindag Magetan Sucipto.

Tempat relokasi bagi para penyamak kulit itu berada di Lembeyan. Hanya, dia masih enggan membeberkan di mana letak desanya. Sucipto berdalih supaya harga tanah di tempat relokasi itu tidak melambung. Tidak seperti saat pihaknya menunjuk tanah di Nguntoronadi lalu. ‘’Kami sudah datang ke lokasi bersama kades dan camat untuk melakukan survei,’’ ujar mantan kepala dinas sosial tersebut.

Yang jelas, calon lahan untuk relokasi itu dinilai representatif. Karena berada pada tanah tak produktif. Di mana kondisi tanahnya tandus dan kering dengan luas sekitar 5–10 hektare.

Baca Juga :  Sungai Meluap, Badan Jembatan Terendam

Selain itu, lanjut dia, tempat relokasi tersebut berada dekat dengan sungai. Sehingga memudahkan untuk membuang limbah yang berada di bawah ambang batas baku mutu. Supaya tidak mencemari ekosistem sungai. ‘’Kalau tidak dekat sungai, tidak bisa,’’ terang Sucipto.

Meski demikian, penentuan tempat relokasi itu bisa saja berubah. Apabila usulan Bupati Suprawoto ke Presiden Joko Widodo untuk membuka pintu tol di Kartoharjo disetujui. Sehingga mempermudah proses distribusi hasil produksi ke luar daerah. ‘’Bisa saja pindah asal tidak menyalahi RTRW (rencana tata ruang dan wilayah, Red),’’ ungkapnya.

Sucipto mengatakan, konsep lingkungan industri kulit (LIK) dipersiapkan bagi para penyamak di Magetan. Seperti mereka yang selama ini ada di Ngariboyo dan Mojopurno. Sebab, para perajin industri kulit di dua wilayah tersebut banyak yang belum mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL). ‘’Bisa lebih banyak kulit yang disamak nanti di lokasi baru,’’ katanya.

Menurutnya, upaya pembangunan LIK itu tidak hanya ditanggung pemkab. Pemprov Jatim juga berencana ikut membantu. Terutama dari sisi pembuatan IPAL. Sedangkan, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan peralatan menyamak kulit. ‘’Pemkab yang menyiapkan lahannya. Jadi, pakai sistem sharing. Tidak mungkin kami sendiri yang bergerak, karena dana yang dibutuhkan membangun LIK besar,’’ paparnya. (*/her/c1)

Kata merdeka tidak selalu identik dengan penjajahan. Bahkan, di beberapa tempat masih ada masyarakat yang merasa belum merdeka dari suatu hal. Limbah, misalnya. Ya, hampir puluhan tahun lamanya, sebagian warga Magetan sulit terlepas dari yang namanya limbah industri kulit. Konsep penataan yang flop dan penanganan yang kurang maksimal menyebabkan masyarakat belum merdeka dari persoalan limbah hasil industri penyamakan kulit.

————————————

BAGI masyarakat yang bertempat tinggal di sepanjang Jalan Teuku Umar, Jalan Pattimura, dan Jalan Manggis, aroma tak sedap limbah industri kulit sudah menjadi hal lumrah. Tapi, tidak bagi mereka yang bermukim di wilayah lain atau pengguna jalan yang kebetulan melintas di kawasan tersebut.

Kadang bikin hidung mengernyit karena mencium aroma “busuk” limbah. Bahkan, bau tak sedap itu sesekali tercium sampai alun-alun Magetan saat terbawa angin. Belum lagi sebagian cairan limbah itu mengalir ke Sungai Gandong. ‘’Kami sudah menyiapkan tempat untuk relokasi guna mengatasi masalah ini,’’ kata Kepala Disperindag Magetan Sucipto.

Tempat relokasi bagi para penyamak kulit itu berada di Lembeyan. Hanya, dia masih enggan membeberkan di mana letak desanya. Sucipto berdalih supaya harga tanah di tempat relokasi itu tidak melambung. Tidak seperti saat pihaknya menunjuk tanah di Nguntoronadi lalu. ‘’Kami sudah datang ke lokasi bersama kades dan camat untuk melakukan survei,’’ ujar mantan kepala dinas sosial tersebut.

Yang jelas, calon lahan untuk relokasi itu dinilai representatif. Karena berada pada tanah tak produktif. Di mana kondisi tanahnya tandus dan kering dengan luas sekitar 5–10 hektare.

Baca Juga :  Ramadan, Tak Ada Lagi Jarak di Antara Jamaah

Selain itu, lanjut dia, tempat relokasi tersebut berada dekat dengan sungai. Sehingga memudahkan untuk membuang limbah yang berada di bawah ambang batas baku mutu. Supaya tidak mencemari ekosistem sungai. ‘’Kalau tidak dekat sungai, tidak bisa,’’ terang Sucipto.

Meski demikian, penentuan tempat relokasi itu bisa saja berubah. Apabila usulan Bupati Suprawoto ke Presiden Joko Widodo untuk membuka pintu tol di Kartoharjo disetujui. Sehingga mempermudah proses distribusi hasil produksi ke luar daerah. ‘’Bisa saja pindah asal tidak menyalahi RTRW (rencana tata ruang dan wilayah, Red),’’ ungkapnya.

Sucipto mengatakan, konsep lingkungan industri kulit (LIK) dipersiapkan bagi para penyamak di Magetan. Seperti mereka yang selama ini ada di Ngariboyo dan Mojopurno. Sebab, para perajin industri kulit di dua wilayah tersebut banyak yang belum mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL). ‘’Bisa lebih banyak kulit yang disamak nanti di lokasi baru,’’ katanya.

Menurutnya, upaya pembangunan LIK itu tidak hanya ditanggung pemkab. Pemprov Jatim juga berencana ikut membantu. Terutama dari sisi pembuatan IPAL. Sedangkan, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan peralatan menyamak kulit. ‘’Pemkab yang menyiapkan lahannya. Jadi, pakai sistem sharing. Tidak mungkin kami sendiri yang bergerak, karena dana yang dibutuhkan membangun LIK besar,’’ paparnya. (*/her/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/