alexametrics
31 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Pandemi, Perajin Sepatu Kulit di Magetan Sepi Order

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Sepatu kulit tak lagi jadi buruan sejak pandemi Covid-19 melanda. Selama dua tahun terakhir, banyak toko kerajinan sepatu kulit di Jalan Sawo, Kelurahan Selosari, Kecamatan Magetan, sepi pembeli. Tahun ini mereka berharap nasib berubah lebih baik. ‘’Penjualan turun drastis,’’ ungkap Yani, salah seorang perajin sepatu kulit di Jalan Sawo, kemarin (20/2).

Toko sepatu kulit milik Yani sudah berdiri sejak 1999. Tokonya juga menyediakan tas dan dompet kulit. Selama 23 tahun berdiri, Yani menyebut dua tahun terakhir sebagai momen terberat. Omzet turun lebih dari 50 persen. ‘’Turun drastis,’’ ujarnya.

Toko Yani biasanya panen tiap akhir pekan atau momen liburan. Sebelum pandemi dia mampu menjual 25 item dalam satu hari. Kadang bisa lebih. Selama pandemi, penjualan saat akhir pekan berbeda jauh. ‘’Hanya laku sekitar sepuluh item sehari,’’ keluhnya. ‘’Ini mulai terlihat agak ramai, semoga bisa terus membaik,’’ imbuh warga Selosari itu.

Baca Juga :  Capaian Vaksinasi Lansia di Magetan Minus 9.600 Dosis

Nasib serupa dialami sebagian besar perajin lain di Jalan Sawo. Salah seorang perajin yang enggan disebutkan namanya bahkan mengaku tak lagi ambil pusing dengan cuaca. Dia tidak panik kendati kekuatan produksi menurun akibat sering turun hujan. ‘’Lagi pula stoknya masih ada dan tidak banyak terjual,’’ ujarnya. (tr3/c1/naz)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Sepatu kulit tak lagi jadi buruan sejak pandemi Covid-19 melanda. Selama dua tahun terakhir, banyak toko kerajinan sepatu kulit di Jalan Sawo, Kelurahan Selosari, Kecamatan Magetan, sepi pembeli. Tahun ini mereka berharap nasib berubah lebih baik. ‘’Penjualan turun drastis,’’ ungkap Yani, salah seorang perajin sepatu kulit di Jalan Sawo, kemarin (20/2).

Toko sepatu kulit milik Yani sudah berdiri sejak 1999. Tokonya juga menyediakan tas dan dompet kulit. Selama 23 tahun berdiri, Yani menyebut dua tahun terakhir sebagai momen terberat. Omzet turun lebih dari 50 persen. ‘’Turun drastis,’’ ujarnya.

Toko Yani biasanya panen tiap akhir pekan atau momen liburan. Sebelum pandemi dia mampu menjual 25 item dalam satu hari. Kadang bisa lebih. Selama pandemi, penjualan saat akhir pekan berbeda jauh. ‘’Hanya laku sekitar sepuluh item sehari,’’ keluhnya. ‘’Ini mulai terlihat agak ramai, semoga bisa terus membaik,’’ imbuh warga Selosari itu.

Baca Juga :  ODGJ Bawa Sajam, Warga Tawanganom Ketakutan

Nasib serupa dialami sebagian besar perajin lain di Jalan Sawo. Salah seorang perajin yang enggan disebutkan namanya bahkan mengaku tak lagi ambil pusing dengan cuaca. Dia tidak panik kendati kekuatan produksi menurun akibat sering turun hujan. ‘’Lagi pula stoknya masih ada dan tidak banyak terjual,’’ ujarnya. (tr3/c1/naz)

Most Read

Artikel Terbaru

/