alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Lawan Teror HIV/AIDS Pemkab-DPRD Magetan Siapkan Raperda Khusus

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dua tahun terakhir, 12 nyawa warga Magetan melayang akibat ganasnya HIV/AIDS. Ratusan terpapar virus yang merusak sistem kekebalan tubuh penderitanya itu. Berbagai alasan tersebut mendorong pemkab menyusun rancangan peraturan daerah (raperda) yang spesifik mengatur penanggulangan HIV/AIDS di Magetan. ‘’Penyakit ini menular dan berbahaya,’’ kata Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Magetan Agoes Yudi Purnomo, Kamis (22/9).

Pemkab patut mengambil sikap lantaran jumlah warga yang meninggal akibat serangan HIV/AIDS meningkat. Tahun lalu hanya ada tiga warga yang meninggal. Sementara, hingga September tahun ini sudah ada sembilan penderita yang meninggal. Di sisi lain, ada 27 orang yang masih enggan berobat. ‘’Penderita wajib berobat,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Vaksinasi Saat Ramadan, Kadinkes Magetan: Insya Allah Aman

Menurut Agoes, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) perlu berobat karena virus akan terus menggerogoti kekebalan tubuh. Jika daya tahan melemah, tubuh akan lebih mudah terpapar berbagai penyakit. ‘’Bila tidak berobat, risiko kematian menjadi tinggi,’’ ungkapnya.

ODHA di Magetan didominasi usia produktif. Kebanyakan wiraswasta dan ibu rumah tangga. Banyak ibu yang terpapar virus ini dari para suaminya. Seperti di banyak daerah lain, banyak penderita tertular HIV/AIDS dari seks bebas. ‘’HIV/AIDS masalah kompleks, harus jadi tanggung jawab bersama,’’ ucapnya.

Kabid P2PM Dinkes Magetan Suwantiyo menambahkan, penyusunan raperda penanggulangan HIV/AIDS penting untuk memaksimalkan peran semua pihak. Pasalnya, tugas menanggulangi HIV/AIDS tak semata diampu pemkab. ‘’Penanggulangan HIV/AIDS harus ditangani secara lintas sektor, tidak hanya pemerintah,’’ tuturnya. (mg1/c1/naz)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Dua tahun terakhir, 12 nyawa warga Magetan melayang akibat ganasnya HIV/AIDS. Ratusan terpapar virus yang merusak sistem kekebalan tubuh penderitanya itu. Berbagai alasan tersebut mendorong pemkab menyusun rancangan peraturan daerah (raperda) yang spesifik mengatur penanggulangan HIV/AIDS di Magetan. ‘’Penyakit ini menular dan berbahaya,’’ kata Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Magetan Agoes Yudi Purnomo, Kamis (22/9).

Pemkab patut mengambil sikap lantaran jumlah warga yang meninggal akibat serangan HIV/AIDS meningkat. Tahun lalu hanya ada tiga warga yang meninggal. Sementara, hingga September tahun ini sudah ada sembilan penderita yang meninggal. Di sisi lain, ada 27 orang yang masih enggan berobat. ‘’Penderita wajib berobat,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Terpilih Kades, Sekretaris Golkar Mundur

Menurut Agoes, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) perlu berobat karena virus akan terus menggerogoti kekebalan tubuh. Jika daya tahan melemah, tubuh akan lebih mudah terpapar berbagai penyakit. ‘’Bila tidak berobat, risiko kematian menjadi tinggi,’’ ungkapnya.

ODHA di Magetan didominasi usia produktif. Kebanyakan wiraswasta dan ibu rumah tangga. Banyak ibu yang terpapar virus ini dari para suaminya. Seperti di banyak daerah lain, banyak penderita tertular HIV/AIDS dari seks bebas. ‘’HIV/AIDS masalah kompleks, harus jadi tanggung jawab bersama,’’ ucapnya.

Kabid P2PM Dinkes Magetan Suwantiyo menambahkan, penyusunan raperda penanggulangan HIV/AIDS penting untuk memaksimalkan peran semua pihak. Pasalnya, tugas menanggulangi HIV/AIDS tak semata diampu pemkab. ‘’Penanggulangan HIV/AIDS harus ditangani secara lintas sektor, tidak hanya pemerintah,’’ tuturnya. (mg1/c1/naz)

Most Read

Artikel Terbaru

/