alexametrics
26.3 C
Madiun
Monday, May 16, 2022

Mandalika: Bisa Memukau Dunia

KALIMAT itu diteriakkan seluruh penonton yang memadati tribun Sirkuit Mandalika, Minggu (20/3) siang lalu. Panas terik tidak menghalangi antusiasme penonton untuk menyaksikan seri pertandingan balap motor terbesar dunia. Ditambah masuknya harus bersusah payah.

Bayangkan, di babak kualifikasi saja, antrean kendaraan menuju Sirkuit Mandalika mengular. Setelah parkir masih harus menaiki shuttle bus. Setelah turun di halte harus jalan lagi menuju pintu masuk di bawah terik matahari. Antrean masuk pun sangat panjang.

Jangan bayangkan seperti kita menyaksikan pertandingan sepak bola di Gelora Bung Karno (GBK) atau stadion yang lain. Tempat parkir kendaraan relatif dekat. Menonton balap MotoGP ini betul-betul beda. Kesehatan fisik dan mental harus disiapkan dengan baik.

Sudah begitu, tiketnya susah didapat kalau tidak beli sejak jauh hari. Kalaupun dapat jelang hari H, harganya mahal. Penerbangan juga penuh. Beberapa staf dari Magetan sampai harus naik kapal dari Tanjung Perak, Surabaya.

Sewa mobil saja susah, mencari hotel apalagi. Semuanya penuh. Sampai-sampai ada teman yang harus sewa rumah selama di Lombok. Saya sendiri dapat hotel melati. Ini pun sudah beruntung karena bisa dapat. Denyut wisata benar-benar mulai terasa normal.

Saya belajar dari pengalaman menonton babak kualifikasi yang antrenya begitu panjang. Karena dapat tempat duduk nomor 0843 di tribun B, maka saya sudah wanti-wanti berangkat pagi pukul 06.00. Tentu membawa bekal makanan dan minuman.

Beruntung, saya diagendakan ikut menjemput Ibu Gubernur Jatim di Bandara Zainuddin Abdul Madjid. Pesawat dari Surabaya landing pukul 08.00. Dari hotel yang jaraknya sekitar 35 kilometer, saya antisipasi berangkat pukul 06.00.

Setibanya di ruang tunggu VIP masih sepi. Hanya ada beberapa petugas protokol pemprov. Beberapa saat kemudian hadir Kadispora, kepala BPSDM, Kadiskominfo, Kadiskoperasi. Juga wali kota Madiun yang ikut menjemput.

Setelah basa-basi sebentar, rombongan menuju restoran untuk sarapan. Tempatnya disiapkan yang searah dan dekat dengan acara. Sambil sarapan, saya dan wali kota berbincang dengan gubernur. Topik yang dibahas di antaranya mengenai Mario Suryo Aji.

Mario adalah atlet balap yang sudah jadi. Selama ini pemerintah boleh dikatakan tidak pernah membina langsung; dalam artian membiayai pemusatan latihan, mengirim kejuaraan, atau lainnya. Bandingkan dengan olahraga seperti tenis, bulu tangkis, basket, dan lainnya.

Namun, Mario hampir tidak mendapatkannya. Padahal, sejak belia dia harus meninggalkan tanah air untuk mengikuti berbagai kompetisi. Harus berpisah dengan orang tua dan teman sepermainan demi menggapai cita-cita serta mengharumkan nama bangsa dan negara.

Ketika masuk Moto3 Mario harus bermukim di Spanyol. Itu pun sendiri. Bayangkan, anak seusia itu harus hidup sendiri di negeri orang. Saat ini Mario mengenyam pendidikan di kelas XI SMAN 1 Magetan. Sejak SMP sampai sekarang sekolah memberi kelonggaran untuk tetap menempuh pendidikan dengan belajar jarak jauh.

Yang menjadi keprihatinan gubernur, anak seusia Mario mestinya didampingi oleh orang-orang terdekatnya. Taruhlah ibu yang setiap saat mendampingi atau menjenguk. Kalaupun dilakukan, harus dengan biaya sendiri. Memang saat ini mulai ada sponsor, tapi masih dari pribadi-pribadi.

Baca Juga :  Berani Beda Harga, Sanksi Akibatnya

Belajar dari Lionel Messi, pesebak bola terkenal sejagat. Sejak kecil didiagnosis memiliki kelainan hormon pertumbuhan. Namun, dia dibiayai berobat oleh FC Barcelona dan masuk akademi La Masia yang termasyhur itu. Berkat pendampingan orang tua, Messi pun tumbuh menjadi atlet sepak bola fenomenal. Mario mestinya mendapat perlakuan seperti Messi.

Perbincangan akhirnya harus diakhiri karena hari beranjak siang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Rombongan berangkat. Semua turun di area VIP. Namun, karena tempat duduk saya di tribun B, maka harus ikut mengantre bersama penonton lain. Semua tertib mengantre di bawah terik matahari.

Lega rasanya ketika mendapat tempat duduk di tribun bersama keluarga Mario. Masih ada waktu sekitar satu jam. Namun, tempat duduk sudah penuh. Agar tidak bosan menunggu, pembawa acara berusaha memecah kebosanan. Setiap MC mengatakan ‘’Mandalika’’, penonton diminta menjawab serentak “bisa memukau dunia’’. Aksi tersebut dilakukan berulang-ulang.

Tepat pukul 12.00 Moto3 dimulai. Mario start di urutan tiga. Sebuah rekor yang monumental. Sejak Moto3 dihelat, belum pernah ada pembalap Indonesia yang menyamai capaian Mario. Setiap wajah Mario muncul di layar, semua penonton bertepuk tangan memberi support. Semua bangga. Semua berharap. Ketika start, tanpa diminta semua penonton berdiri. Seolah memberi perhatian, doa, dan support kepada Mario.

Ada 23 lap yang harus dilibas 28 pembalap Moto3. Di lap-lap awal Mario masih mengimbangi semua pembalap. Lambat laun Mario mulai berada di tengah. Semua penonton terdiam. Saya yakin semua berdoa untuk Mario. Hanya itu yang bisa dilakukan. Agar bisa menyusul yang di depan.

Akhirnya Mario menduduki posisi ke-14. Tempat pertama dimenangkan Dennis Foggia dari Italia. Posisi terhormat dari 28 pembalap dunia. Karena, menurut ketentuan, masing-masing peserta urutan satu sampai 15 mendapatkan poin.

Mario kembali muncul di layar. Mengibarkan bendara merah putih sembari melaju di atas sepeda motor. Semua penonton serentak berdiri memberikan aplaus. Penghargaan sekaligus rasa hormat untuk Mario yang telah berjuang. Saat ini Mario menduduki peringkat ke-21 klasemen sementara Moto3. Sebuah capaian yang membanggakan.

Hujan deras kemudian mengguyur. Dengan terpaksa perlombaan MotoGP ditunda. Semestinya dimulai pukul 15.00 akhirnya baru start pukul 16.15. Sempat ramai menjadi perbincangan ketika pawang hujan mencoba beraksi dengan segala ritualnya. Sayangnya, Marc Marquez tidak bisa ambil bagian karena masalah kesehatan.

Perhelatan selesai. Panitia mendapat pujian dari berbagai kalangan. Sirkuit Mandalika akan kembali menggelar seri balapan lagi tahun depan. Ini akan membuat nama Indonesia semakin dikenal luas. Mengingat MotoGP disiarkan langsung di sekitar 200 negara. Potensi penonton mencapai 430 juta. Tentu tidak salah kalau MC di Sirkuit Mandalika mengatakan ‘’Mandalika”, lalu dijawab dengan lantang oleh penonton, ‘’bisa memukau dunia’’. (naz/c1)

KALIMAT itu diteriakkan seluruh penonton yang memadati tribun Sirkuit Mandalika, Minggu (20/3) siang lalu. Panas terik tidak menghalangi antusiasme penonton untuk menyaksikan seri pertandingan balap motor terbesar dunia. Ditambah masuknya harus bersusah payah.

Bayangkan, di babak kualifikasi saja, antrean kendaraan menuju Sirkuit Mandalika mengular. Setelah parkir masih harus menaiki shuttle bus. Setelah turun di halte harus jalan lagi menuju pintu masuk di bawah terik matahari. Antrean masuk pun sangat panjang.

Jangan bayangkan seperti kita menyaksikan pertandingan sepak bola di Gelora Bung Karno (GBK) atau stadion yang lain. Tempat parkir kendaraan relatif dekat. Menonton balap MotoGP ini betul-betul beda. Kesehatan fisik dan mental harus disiapkan dengan baik.

Sudah begitu, tiketnya susah didapat kalau tidak beli sejak jauh hari. Kalaupun dapat jelang hari H, harganya mahal. Penerbangan juga penuh. Beberapa staf dari Magetan sampai harus naik kapal dari Tanjung Perak, Surabaya.

Sewa mobil saja susah, mencari hotel apalagi. Semuanya penuh. Sampai-sampai ada teman yang harus sewa rumah selama di Lombok. Saya sendiri dapat hotel melati. Ini pun sudah beruntung karena bisa dapat. Denyut wisata benar-benar mulai terasa normal.

Saya belajar dari pengalaman menonton babak kualifikasi yang antrenya begitu panjang. Karena dapat tempat duduk nomor 0843 di tribun B, maka saya sudah wanti-wanti berangkat pagi pukul 06.00. Tentu membawa bekal makanan dan minuman.

Beruntung, saya diagendakan ikut menjemput Ibu Gubernur Jatim di Bandara Zainuddin Abdul Madjid. Pesawat dari Surabaya landing pukul 08.00. Dari hotel yang jaraknya sekitar 35 kilometer, saya antisipasi berangkat pukul 06.00.

Setibanya di ruang tunggu VIP masih sepi. Hanya ada beberapa petugas protokol pemprov. Beberapa saat kemudian hadir Kadispora, kepala BPSDM, Kadiskominfo, Kadiskoperasi. Juga wali kota Madiun yang ikut menjemput.

Setelah basa-basi sebentar, rombongan menuju restoran untuk sarapan. Tempatnya disiapkan yang searah dan dekat dengan acara. Sambil sarapan, saya dan wali kota berbincang dengan gubernur. Topik yang dibahas di antaranya mengenai Mario Suryo Aji.

Mario adalah atlet balap yang sudah jadi. Selama ini pemerintah boleh dikatakan tidak pernah membina langsung; dalam artian membiayai pemusatan latihan, mengirim kejuaraan, atau lainnya. Bandingkan dengan olahraga seperti tenis, bulu tangkis, basket, dan lainnya.

Namun, Mario hampir tidak mendapatkannya. Padahal, sejak belia dia harus meninggalkan tanah air untuk mengikuti berbagai kompetisi. Harus berpisah dengan orang tua dan teman sepermainan demi menggapai cita-cita serta mengharumkan nama bangsa dan negara.

Ketika masuk Moto3 Mario harus bermukim di Spanyol. Itu pun sendiri. Bayangkan, anak seusia itu harus hidup sendiri di negeri orang. Saat ini Mario mengenyam pendidikan di kelas XI SMAN 1 Magetan. Sejak SMP sampai sekarang sekolah memberi kelonggaran untuk tetap menempuh pendidikan dengan belajar jarak jauh.

Yang menjadi keprihatinan gubernur, anak seusia Mario mestinya didampingi oleh orang-orang terdekatnya. Taruhlah ibu yang setiap saat mendampingi atau menjenguk. Kalaupun dilakukan, harus dengan biaya sendiri. Memang saat ini mulai ada sponsor, tapi masih dari pribadi-pribadi.

Baca Juga :  Cerita Haris Setiawan Menjadi Pembudi Daya Bunga Anggrek

Belajar dari Lionel Messi, pesebak bola terkenal sejagat. Sejak kecil didiagnosis memiliki kelainan hormon pertumbuhan. Namun, dia dibiayai berobat oleh FC Barcelona dan masuk akademi La Masia yang termasyhur itu. Berkat pendampingan orang tua, Messi pun tumbuh menjadi atlet sepak bola fenomenal. Mario mestinya mendapat perlakuan seperti Messi.

Perbincangan akhirnya harus diakhiri karena hari beranjak siang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Rombongan berangkat. Semua turun di area VIP. Namun, karena tempat duduk saya di tribun B, maka harus ikut mengantre bersama penonton lain. Semua tertib mengantre di bawah terik matahari.

Lega rasanya ketika mendapat tempat duduk di tribun bersama keluarga Mario. Masih ada waktu sekitar satu jam. Namun, tempat duduk sudah penuh. Agar tidak bosan menunggu, pembawa acara berusaha memecah kebosanan. Setiap MC mengatakan ‘’Mandalika’’, penonton diminta menjawab serentak “bisa memukau dunia’’. Aksi tersebut dilakukan berulang-ulang.

Tepat pukul 12.00 Moto3 dimulai. Mario start di urutan tiga. Sebuah rekor yang monumental. Sejak Moto3 dihelat, belum pernah ada pembalap Indonesia yang menyamai capaian Mario. Setiap wajah Mario muncul di layar, semua penonton bertepuk tangan memberi support. Semua bangga. Semua berharap. Ketika start, tanpa diminta semua penonton berdiri. Seolah memberi perhatian, doa, dan support kepada Mario.

Ada 23 lap yang harus dilibas 28 pembalap Moto3. Di lap-lap awal Mario masih mengimbangi semua pembalap. Lambat laun Mario mulai berada di tengah. Semua penonton terdiam. Saya yakin semua berdoa untuk Mario. Hanya itu yang bisa dilakukan. Agar bisa menyusul yang di depan.

Akhirnya Mario menduduki posisi ke-14. Tempat pertama dimenangkan Dennis Foggia dari Italia. Posisi terhormat dari 28 pembalap dunia. Karena, menurut ketentuan, masing-masing peserta urutan satu sampai 15 mendapatkan poin.

Mario kembali muncul di layar. Mengibarkan bendara merah putih sembari melaju di atas sepeda motor. Semua penonton serentak berdiri memberikan aplaus. Penghargaan sekaligus rasa hormat untuk Mario yang telah berjuang. Saat ini Mario menduduki peringkat ke-21 klasemen sementara Moto3. Sebuah capaian yang membanggakan.

Hujan deras kemudian mengguyur. Dengan terpaksa perlombaan MotoGP ditunda. Semestinya dimulai pukul 15.00 akhirnya baru start pukul 16.15. Sempat ramai menjadi perbincangan ketika pawang hujan mencoba beraksi dengan segala ritualnya. Sayangnya, Marc Marquez tidak bisa ambil bagian karena masalah kesehatan.

Perhelatan selesai. Panitia mendapat pujian dari berbagai kalangan. Sirkuit Mandalika akan kembali menggelar seri balapan lagi tahun depan. Ini akan membuat nama Indonesia semakin dikenal luas. Mengingat MotoGP disiarkan langsung di sekitar 200 negara. Potensi penonton mencapai 430 juta. Tentu tidak salah kalau MC di Sirkuit Mandalika mengatakan ‘’Mandalika”, lalu dijawab dengan lantang oleh penonton, ‘’bisa memukau dunia’’. (naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/