alexametrics
23 C
Madiun
Thursday, July 7, 2022

Wabah PMK di Magetan Meluas di 10 Kecamatan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang terus meluas direspon serius. Pemkab bersama kepolisian dan TNI membentuk Satgas PMK. Tujuannya mempercepat pemeriksaan, monitoring kesehatan, dan sosialisasi kepada peternak serta masyarakat. ‘’Dalam situasi seperti ini, perlu ada langkah jemput bola untuk memastikan hewan di peternak sehat,’’ ujar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan Nur Haryani, Senin (23/5).

Satgas PMK, lanjut Nur, bakal bergerak setiap hari bersama puluhan petugas disnakkan untuk menanggapi setiap laporan. Bhabinkamtibmas dan babinsa yang ada di desa-desa bertugas mengkroscek dan menelusuri informasi di wilayah masing-masing. Penanganan terpadu seperti ini diyakini dapat menekan risiko persebaran PMK. ‘’Kami juga melibatkan pemerintah desa dalam mendata populasi hewan ternak di wilayah masing-masing,’’ terangnya.

Baca Juga :  Proyek Kantong Parkir Sarangan Ada yang Minus 20 Persen

Hingga kemarin, sudah ada 72 kasus PMK di Magetan. Nur memastikan kesehatan puluhan ternak itu terus dipantau serta mendapat asupan obat dan vitamin. Berkat pengobatan yang dilakukan, kondisi puluhan ternak tersebut terus membaik. ‘’Tingkat kematian akibat PMK di Magetan masih nol persen,’’ ungkap Nur.

Dengan penanganan yang tepat, Nur optimistis wabah yang juga kerap disebut dengan kuku belah itu dapat dikendalikan semaksimal mungkin. Sehingga tak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan ternak di Idul Adha 1443 H mendatang. Pun saat ini, ada sekitar 11 ribu sapi ternak yang dalam kondisi siap dipotong. Sebagai tambahan filter, disnakkan menerbitkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) bagi ternak yang dinyatakan sehat untuk disembelih di RPH. ‘’Jadi aman untuk dikonsumsi,’’ pungkasnya. (mg1/naz)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang terus meluas direspon serius. Pemkab bersama kepolisian dan TNI membentuk Satgas PMK. Tujuannya mempercepat pemeriksaan, monitoring kesehatan, dan sosialisasi kepada peternak serta masyarakat. ‘’Dalam situasi seperti ini, perlu ada langkah jemput bola untuk memastikan hewan di peternak sehat,’’ ujar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan Nur Haryani, Senin (23/5).

Satgas PMK, lanjut Nur, bakal bergerak setiap hari bersama puluhan petugas disnakkan untuk menanggapi setiap laporan. Bhabinkamtibmas dan babinsa yang ada di desa-desa bertugas mengkroscek dan menelusuri informasi di wilayah masing-masing. Penanganan terpadu seperti ini diyakini dapat menekan risiko persebaran PMK. ‘’Kami juga melibatkan pemerintah desa dalam mendata populasi hewan ternak di wilayah masing-masing,’’ terangnya.

Baca Juga :  Sriyono Menang Strategi, Triyono Latihan Endurance

Hingga kemarin, sudah ada 72 kasus PMK di Magetan. Nur memastikan kesehatan puluhan ternak itu terus dipantau serta mendapat asupan obat dan vitamin. Berkat pengobatan yang dilakukan, kondisi puluhan ternak tersebut terus membaik. ‘’Tingkat kematian akibat PMK di Magetan masih nol persen,’’ ungkap Nur.

Dengan penanganan yang tepat, Nur optimistis wabah yang juga kerap disebut dengan kuku belah itu dapat dikendalikan semaksimal mungkin. Sehingga tak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan ternak di Idul Adha 1443 H mendatang. Pun saat ini, ada sekitar 11 ribu sapi ternak yang dalam kondisi siap dipotong. Sebagai tambahan filter, disnakkan menerbitkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) bagi ternak yang dinyatakan sehat untuk disembelih di RPH. ‘’Jadi aman untuk dikonsumsi,’’ pungkasnya. (mg1/naz)

Most Read

Artikel Terbaru

/