alexametrics
21.8 C
Madiun
Tuesday, June 28, 2022

Anak Tewas di Lubang Bekas Tambang, Keluarga Korban Teken Surat Pernyataan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Secarik surat pernyataan diteken keluarga BS, bocah sepuluh tahun asal Desa Gulun, Kecamatan Maospati, pada Senin (16/5) lalu. Hanya selang beberapa jam usai siswa kelas III SD itu ditemukan tewas tenggelam di lubang bekas galian pasir dan batu (sirtu) di desa setempat.

Isi surat pernyataan tersebut, keluarga korban menyatakan bahwa kematian BS murni sebagai kecelakaan. Ironisnya, Kades Gulun Sudiyanto ikut meneken tanda tangan di surat tersebut. ‘’Pemilik tambang sudah memberikan santunan kepada keluarga korban,’’ ujarnya, kemarin (23/5).

Kematian BS menjadi ironi mengingat lubang bekas galian sirtu di Gulun tak ditutup oleh si empunya tambang. Akibat kelalaiannya itu, seorang bocah tewas dan satu keluarga dirundung duka. ‘’Pemiliknya biasa dipanggil Haji Rahmat,’’ terang kades.

Baca Juga :  Proyek Stadion Yosonegoro Ditarget Disdikpora Selesai dalam 50 Hari

Menurut Sudiyanto, tambang milik Haji Rahmat lama tidak beroperasi. Dilarang polisi karena menggunakan alat berat. Namun menurut informasi dari warga, diduga aktivitas tambang tetap berlanjut. Pantauan Jawa Pos Radar Magetan kemarin, bahkan ada dua ekskavator di lokasi. ‘’Sebenarnya pemilik sudah memperingatkan untuk tidak masuk area tambang,’’ bebernya.

Lantaran tak ada usaha menutup lubang galian, atau penambangan diam-diam masih terus berlangsung, BS pun menjadi korban. Sudiyanto menyebut kasus kematian BS selesai dengan selembar surat pernyataan. Keluarga korban tidak menuntut apa-apa ke pemilik tambang. ‘’Saya dengar pemilk tambang sudah dipanggil polisi dan diminta menguruk lubang yang masih ada tersebut,’’ pungkasnya. (mg1/naz)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Secarik surat pernyataan diteken keluarga BS, bocah sepuluh tahun asal Desa Gulun, Kecamatan Maospati, pada Senin (16/5) lalu. Hanya selang beberapa jam usai siswa kelas III SD itu ditemukan tewas tenggelam di lubang bekas galian pasir dan batu (sirtu) di desa setempat.

Isi surat pernyataan tersebut, keluarga korban menyatakan bahwa kematian BS murni sebagai kecelakaan. Ironisnya, Kades Gulun Sudiyanto ikut meneken tanda tangan di surat tersebut. ‘’Pemilik tambang sudah memberikan santunan kepada keluarga korban,’’ ujarnya, kemarin (23/5).

Kematian BS menjadi ironi mengingat lubang bekas galian sirtu di Gulun tak ditutup oleh si empunya tambang. Akibat kelalaiannya itu, seorang bocah tewas dan satu keluarga dirundung duka. ‘’Pemiliknya biasa dipanggil Haji Rahmat,’’ terang kades.

Baca Juga :  Orang Tua Murid Masih Boleh Pilih PJJ

Menurut Sudiyanto, tambang milik Haji Rahmat lama tidak beroperasi. Dilarang polisi karena menggunakan alat berat. Namun menurut informasi dari warga, diduga aktivitas tambang tetap berlanjut. Pantauan Jawa Pos Radar Magetan kemarin, bahkan ada dua ekskavator di lokasi. ‘’Sebenarnya pemilik sudah memperingatkan untuk tidak masuk area tambang,’’ bebernya.

Lantaran tak ada usaha menutup lubang galian, atau penambangan diam-diam masih terus berlangsung, BS pun menjadi korban. Sudiyanto menyebut kasus kematian BS selesai dengan selembar surat pernyataan. Keluarga korban tidak menuntut apa-apa ke pemilik tambang. ‘’Saya dengar pemilk tambang sudah dipanggil polisi dan diminta menguruk lubang yang masih ada tersebut,’’ pungkasnya. (mg1/naz)

Most Read

Artikel Terbaru

/