alexametrics
21.8 C
Madiun
Tuesday, June 28, 2022

E-Retribusi Tinggal Jalan, Pedagang Masih Pro Kontra

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Penerapan sistem e-retribusi terus menuai pro-kontra di kalangan pedagang Pasar Sayur I Magetan. Sariati misalnya. Dia mendukung kebijakan disperindag menerapkan sistem pembayaran secara nontunai tersebut karena dinilainya lebih praktis. ‘’Dianjurkan pakai ATM, ya saya nurut,’’ katanya Minggu (28/7).

Sariati mengaku membayar retribusi kios sebesar Rp 8 ribu per hari. Nominal itu untuk los berukuran 6×6 meter. Di mana per meter persegi ditentukan nilainya sekitar Rp 250. Belum lagi, tanda bukti pembayaran yang diterimanya ada lima lembar. ‘’Kalau nanti sudah e-retribusi, hanya selembar. Seperti ambil duit di ATM, tidak ribet menyimpan bukti pembayarannya,’’ ujar Sariati.

Penerapan sistem e-retribusi itu diakuinya sudah dilakukan disperindag sejak lama. Awalnya, dia menolak karena mekanismenya ditentukan berdasarkan dari rekening saldo. Kondisi itu menuntut dirinya harus bolak-balik setor ke ATM.

Tetapi, belakangan dia ketakutan lantaran ada peringatan dan sanksi dari petugas pemungut retribusi pasar jika tak turut serta program e-retribusi tersebut. Hingga akhirnya Sariati memutuskan setuju dengan konversi pembayaran retribusi itu. Apalagi, dalam pembuatan buku rekening itu dia hanya perlu menyetor saldo sebesar Rp 20 ribu. ‘’Enak manual apa e-retribusi, saya belum tahu. Karena memang belum dilaksanakan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Dapur Rumah Roboh di Magetan, Timpa Ibu-Ibu Berteduh

Pendapat berbeda dilontarkan Sumirah, pedagang Pasar Sayur I Magetan lainnya. Dia lebih memilih pembayaran retribusi pasar dilakukan manual. Karena akan ada biaya admin apabila menggunakan sistem e-retribusi. Sementara, saat ini dia dikenai tarif retribusi sebesar Rp 2.250 dengan ukuran los 3×3 meter. ‘’Kalau nanti ganti e-retribusi, bisa lebih,’’ katanya.

Sementara itu, petugas pemungut retribusi Pasar Sayur I Magetan Murtini mengatakan bahwa tidak semua pedagang mendukung program e-retribusi. Sebagian di antara mereka mengeluhkan adanya beban biaya admin ketika kebijakan itu dijalankan.

Meski demikian, pihaknya tetap mem-plotting pembagian buku tabungan kepada seluruh pedagang pasar. Setelah proses pendataan dilakukan beberapa waktu lalu. ‘’Ini sedang kami pilah per los. Supaya gampang untuk membaginya,’’ ujarnya.

Untuk mempermudah proses pembayaran apabila saldo rekening pedagang habis, Murtini bakal dibantu oleh pihak bank. Mereka bakal mendatangi pedagang ke lokasi berjualan. ‘’Jadi, pihak bank akan melakukan jemput bola. Kalau memang pedagang berat meninggalkan dagangannya untuk setor tunai,’’ terangnya. (bel/c1/her)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Penerapan sistem e-retribusi terus menuai pro-kontra di kalangan pedagang Pasar Sayur I Magetan. Sariati misalnya. Dia mendukung kebijakan disperindag menerapkan sistem pembayaran secara nontunai tersebut karena dinilainya lebih praktis. ‘’Dianjurkan pakai ATM, ya saya nurut,’’ katanya Minggu (28/7).

Sariati mengaku membayar retribusi kios sebesar Rp 8 ribu per hari. Nominal itu untuk los berukuran 6×6 meter. Di mana per meter persegi ditentukan nilainya sekitar Rp 250. Belum lagi, tanda bukti pembayaran yang diterimanya ada lima lembar. ‘’Kalau nanti sudah e-retribusi, hanya selembar. Seperti ambil duit di ATM, tidak ribet menyimpan bukti pembayarannya,’’ ujar Sariati.

Penerapan sistem e-retribusi itu diakuinya sudah dilakukan disperindag sejak lama. Awalnya, dia menolak karena mekanismenya ditentukan berdasarkan dari rekening saldo. Kondisi itu menuntut dirinya harus bolak-balik setor ke ATM.

Tetapi, belakangan dia ketakutan lantaran ada peringatan dan sanksi dari petugas pemungut retribusi pasar jika tak turut serta program e-retribusi tersebut. Hingga akhirnya Sariati memutuskan setuju dengan konversi pembayaran retribusi itu. Apalagi, dalam pembuatan buku rekening itu dia hanya perlu menyetor saldo sebesar Rp 20 ribu. ‘’Enak manual apa e-retribusi, saya belum tahu. Karena memang belum dilaksanakan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Pengintegrasian Pasar Baru-Pasar Sayur Masih Abu-Abu

Pendapat berbeda dilontarkan Sumirah, pedagang Pasar Sayur I Magetan lainnya. Dia lebih memilih pembayaran retribusi pasar dilakukan manual. Karena akan ada biaya admin apabila menggunakan sistem e-retribusi. Sementara, saat ini dia dikenai tarif retribusi sebesar Rp 2.250 dengan ukuran los 3×3 meter. ‘’Kalau nanti ganti e-retribusi, bisa lebih,’’ katanya.

Sementara itu, petugas pemungut retribusi Pasar Sayur I Magetan Murtini mengatakan bahwa tidak semua pedagang mendukung program e-retribusi. Sebagian di antara mereka mengeluhkan adanya beban biaya admin ketika kebijakan itu dijalankan.

Meski demikian, pihaknya tetap mem-plotting pembagian buku tabungan kepada seluruh pedagang pasar. Setelah proses pendataan dilakukan beberapa waktu lalu. ‘’Ini sedang kami pilah per los. Supaya gampang untuk membaginya,’’ ujarnya.

Untuk mempermudah proses pembayaran apabila saldo rekening pedagang habis, Murtini bakal dibantu oleh pihak bank. Mereka bakal mendatangi pedagang ke lokasi berjualan. ‘’Jadi, pihak bank akan melakukan jemput bola. Kalau memang pedagang berat meninggalkan dagangannya untuk setor tunai,’’ terangnya. (bel/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/